Lelah.
Kata yang pantas untuk menggambarkan keadaan Caraka pagi ini. Jika saja ia tidak tergoda dengan tingkah perempuan yang tengah tidur di sampingnya itu, dan melakukan hal yang seharusnya sudah dilakukan saat malam pertama mereka dua bulan yang lalu, mungkin saja pinggulnya tidak akan terasa linu. Ia harus ke kantor jam tujuh pagi. Kalau sampai ia terlambat, Ayahnya yang "baik hati" pasti akan mengomelinya habis-habisan.
Ngomong-ngomong, sepertinya Caraka agak sedikit menyesal sudah mengingkari janji ke dua orang tua Lexa untuk tidak "tidur" dengan putrinya sebelum Lexa lulus kuliah. lagian, mana bisa ia tahan saat melihat Lexa yang berani memakai kemeja Caraka yang kebesaran dengan dua kancing teratas yang terbuka, menampilkan belahan dadanya yang menggoda, memikirkannya saja Caraka sudah panas dingin. Seharusnya, putri mereka itu yang harus disalahkan, sangat berani sekali di saat ia tinggal dengan seorang laki-laki hanya berdua. Bukan salah Caraka juga jika Caraka tergoda, Lexa sudah menjadi istri sah nya sekarang. Memikirkan itu membuat Caraka kawatir, bagaimana nanti kalau mereka tahu? Lebih parahnya lagi, bagaimana kalau Lexa hamil?
"Iya ya, gimana kalau hamil?"
Tetapi, begitu ia membuka mata, kekawatiran itu seketika lenyap, tergantikan dengan perasaan miris melihat posisi tidur istrinya.
Serampangan.
Pelan-pelan Caraka memperbaiki posisi tidur Lexa dengan benar.
"Gimana bisa gue nikahin nih bocah." Gerutunya gemas. ia tidak benar-benar jengkel, sungguh. Mana mungkin Caraka merasa menyesal sudah menikahi gadis yang 8 tahun lebih muda darinya itu. Percayalah, Caraka yang lebih dulu jatuh cinta dengan Lexa.
"Tidurnya yang benar sayang."
"Sakit."
Dirapikannya rambut Lexa yang berantakan. Ia jadi merasa bersalah. Apa ia terlalu kasar? Sehingga membuat Lexa kesakitan?
"Maaf ya, lama-lama nanti sakitnya hilang. Mandi pakai air hangat aja yuk."
"Sakit."
Sepertinya Istrinya belum tersadar sepenuhnya dari tidurnya. Selagi menunggu Lexa bangun, ia berniat membersihkan diri dan membuat sarapan untuk mereka berdua.
***
Caraka menoleh saat mendengar suara Lexa yang memanggil namanya. Ia sudah terbiasa dengan rengekan manja Lexa semenjak ia mengenalnya. Awalnya memang membuatnya muak karena merasa sangat direpotkan. Entah sejak kapan, Caraka terbiasa dengan hal itu, malah sekarang ia merasa bangga, karena itu artinya Lexa sangat bergantung padanya.
"Di dapur Yang."
Derap langkah kaki sekaligus suara serak khas bangun tidur terdengar di telinga Caraka.
"Abang, ada darah di seprai dong."
"Iya? Abang nggak lihat tadi."
"Hu'um, udah aku ganti sepreinya, udah aku basuh nodanya juga sebelum masuk keranjang cucian."
"Pinter." Diusapnya tangan yang tengah memeluknya itu tanpa sungkan.
"Abang bikin apa?"
"Sandwich kesukaan kamu. Masih sakit nggak?"
"Apanya?"
"Tadi kamu bilang sakit."
"Leher aku yang sakit. Tenggorokanku juga agak nggak enak."
Ya iya lah, orang teriak-teriak kencang banget semalam. Batinnya geli. Untung saja ia tinggal di apartemen yang kedap suara, kalau tidak, mau ditaruh dimana mukanya jika tetangga satu lantai apartemennya itu mendengar jeritan Lexa? Caraka yakin tetangganya itu pasti sudah protes padanya.
"Bukan sakit karena semalam kan?"
Tidak ada jawaban beberapa saat, membuat Caraka memutar posisinya supaya ia bisa melihat wajah Lexa.
"Enggak, udah nggak sakit." Ucap Lexa dengan malu. Tanpa sadar Caraka mengembuskan nafas lega.
"Abang harus ke kantor sekarang, kamu sikat gigi dulu sama cuci muka. Habis itu langsung sarapan ya?"
"Berarti aku sendirian dong bang?"
"Abang usahain pulang cepet. Biar bisa nemenin kamu di rumah. Abang berangkat dulu ya?"
Lexa mengantar Caraka sampai di depan pintu apartemen. Setelah itu melaksanakan perintah suaminya, kecuali gosok gigi dan cuci muka.
***
Alexandra Amora namanya.
Usia Caraka baru 12 tahun saat pertama kali ia bertemu dengan anak perempuan tante Anggun, salah satu teman dekat ibunya.
Siang itu, tante Anggun membawa anak perempuannya berkunjung ke rumah Caraka. Memenuhi undangan ibunya untuk membantu mempersiapkan acara khitan untuknya.
Lexa sedang tidur saat tante Anggun meminta tolong padanya untuk menjaga anak itu selagi beliau berada di rumah sebelah. Caraka tidak keberatan, melihat gadis kecil itu yang tengah tertidur dengan tenang, maka Caraka mengiyakan saja. Sampai anak itu terbangun dengan tangisan, barangkali tersadar jika ia berada di tempat asing dan tidak menemukan keberadaan ibunya.
Caraka sedikit terganggu dengan jerit tangis Lexa. Padahal ia tengah fokus mengerjakan soal Matematika. Jengkel karena menyadari hanya dirinya yang bisa menghentikan tangisan anak itu, mengingat tidak ada seorang pun di rumah ini. Caraka berinisiatif untuk menghampiri Lexa kecil untuk menanyakan motif apa yang membuat ia menangis walaupun Caraka sudah tahu penyebab bocah itu menangis.
Berjongkok di samping Lexa, Caraka bertanya, "Kenapa kamu nangis?"
Lexa yang sadar keberadaan anak laki-laki yang sudah menampilkan ekspresi bete nya itu, menghentikan tangisannya.
"Aku lagi belajar, jangan beringsik ya?"
Lexa mengangguk, setengah takut, setengah tidak mengerti dengan maksud anak laki-laki ini.
"Kamu mau cari mama mu? Aku antar mau? mama mu lagi di rumah sebelah." Lexa mengangguk dengan sedikit takjub menyadari wajah tampan Caraka. Setelah mengusap sisa air mata di pipi Lexa, Caraka meminta Lexa untuk mengikutinya. Mereka bergandengan tangan.
Setelah berhasil menemukan tante Anggun yang ternyata tengah mengobrol di halaman belakang rumah sebelah, Caraka menyerahkan Lexa pada ibunya, bocah itu langsung berlari menghapiri ibunya.
"Makasih ya Caka, udah antar Lexa ke sini. Maaf tante ngerepotin."
"Enggak papa, kalau gitu Caka balik ya tante."
***
BINABASA MO ANG
Generation
RomanceCaraka namanya, putra Anisa itu entah bagaimana ceritanya bisa menikahi gadis yang 8 tahun lebih muda darinya, apalagi bukan sekedar gadis biasa. Orang itu adalah putri dari sahabat Anisa sendiri. Sequel Diam-diam Suka. 2021
