"Ren, Renaa."
Rena mendengar seperti ada yang memanggilnya, tapi Rena cari sumber suaranya tidak ada, siapa yang memanggilnya. Bulu kuduk Rena langsung berdiri tiba-tiba, hihh, siapa coba yang manggil gw Rena berbicara sambil berlari menjauh dari tempat itu.
"Lic, masa tadi di lapangan gw denger ada orang yang manggil nama gw, tapi gw cari-cari orangnya gak ada, mana tadi dilapangan sepi banget lagi, iiii merinding lg gw jadinya." cerita Rena bergidik ngeri
"Emang lo ga tau ren, kalo disekolah kita ini emang angker bangettt. Siapa tau setan yang gangguin lo tadi mau kenalan ren ama lo HAHAHA." Ledek Lica
"Ish gila lo yaa gw lagi ketakutan gini juga malah lo ledekin, udah ah males gw sama lo." Kesel Rena dan pergi meninggalkan Lica sendirian di kelas
"Ehhhh, tunggu Ren gw ikutt." Lica mengejar Rena karna Lica juga takut kalau sendirian di kelas.
Jam pulang sekolah pun tiba. Tapi Rena masih saja memikirkan kejadian tadi pagi, siapa kira-kira yang memanggil dirinya. Kalau dari suara dan nada bicaranya sih bukan kaya setan tapi kenapa pas dicari orangnya gak ada ya. Aahh, bodo amatlah mungkin tadi cuma halusinasi gw doang.
"Rennn, woyy RENAAAA." Teriak Lica kesal
"APASIHH, ga usah teriak-teriak kali." Balas Rena ikut kesal karna telinganya sakit diteriaki Lica
"Ya lagian kuping lo tuh budekk gw udah panggil-panggilin dari tadi diem aja, karasukan setan beneran aja mampus lo." Balas Lica lagi sambil melengos pergi
"Ish, Anjir lu Lic kalo ngomong seenak jidat lo aja." Gerutu Rena, sambil mengejar Lica yang sudah jauh berada didepan.
Hari sudah berganti malam, Rena memutuskan untuk tidur cepat saja hari ini lagian tidak ada tugas untuk dikumpulkan hari esok di sekolah. Rena bergegas naik ke atas tempat tidur kesayangannya itu, tak lupa rena mematikan lampu kamarnya dulu, karena rena tidak bisa jika tidur dengan lampu menyala. Tidak baik bukan untuk kesehetan. Selamat malam dunia ucapnya lalu tertidur.
Rena, rena sayangg aaaaa brakkkk.
"Hwaaa." Rena terbangun dari tidurnya. Keringat mengucur deras dari pelipis Rena.
"Hfftt, untung aja cuma mimpi, tapi ko mimpinya serem banget sih, sebelumnya rena gak pernah mimpi buruk kaya gini. Apa mimpi ini ada hubungannya sama kejadian tadi pagi ya."
"Hai pagi sayang." Sapa Lexa
"Hai pagi juga mah. Oya papah dimana mah ko gak ikut sarapan bareng?" Balas Rena.
"Tadi pagi sekali papah udah berangkat katanya ada hal penting." Jawab Lexa lagi
"Oah, okee deh. Ya udah Rena berangkat ke sekolah dulu ya mah. Assalamualaikum." Pamit Rena sambil cium tangan.
"Iya, hati-hati ya sayang. Semangat belajarnya." Jawab Lexa sambil nampanin tangan Rena.
Setelah berpamitan Rena berangkat diantar Pak Supri menggunakan mobil. Pak Supri adalah supir pribadi yang sudah 10 tahun bekerja di keluarga Ringgana, jadi tugas Pak Supri itu nganter Rena ke sekolah, nganter mamah belanja, nganter bi inem ke pasar, pokoknya kalo soal nganter-nganter pasti pak supri.
Sesampai nya Rena di sekolah, Rena langsung berjalan menuju kelasnya, untung aja hari ini lapangan menuju kelas Rena ramai anak-anak pada main bola. Hihh gatau deh kalo kejadian kemaren kejadian lagi, mengingatnya aja buat bulu kuduk sebadan-badan merinding.
Pelajaran pertama dimulai, Rena sedang serius memperhatikan Pak Andre menjelaskan serangkai angka-angka yang ada di papan tulis. Tiba-tiba Rena merasakan angin berhembus tepat di sebelah kiri telinga nya. Rena menoleh ke kanan dan ke kiri, aneh pikirnya.
Perasaan jendela sama pintu kelas gak ada yang kebuka, ini angin dari mana ya, bicara Rena dalam hati, sambil menoleh kanan kiri sekali lagi, bener-bener memastikan tidak ada sumber angin yang masuk ke dalam kelas nya.
"Renaa, RENA ROSALINDA RINGGANA." Panggil Pak Andre
"Woy Rena, Rennn, Rennnaaa, dipanggil begee ama Pak Andre." Senggol Lica menyadarkan lamunan Rena.
"Ihh, apasih anjir nyenggol-nyenggol." Kesal Rena
"Yee, SI ONENG, itu dari tadi lu dipanggil ama Pak Andre bolottt." Ucap Lica lagi, jadi kesal sendiri Lica.
Rena menoleh ke arah Pak Andre dengan muka yang sudah sangat-sangat menyeramkan.
"Iya pakk, ma-."
"Selesai ini, K.A.M.U K.E.R.U.A.N.G.A.N S.A.Y.A." Potong Pak Andre dengan nada penekanan.
"Gilaaa, Pak Andre serem banget, abisss lu Renn." Bisik Lica mengomporii.
"BERISIKK." Ucap Rena kesal. Sambil menelungkupkan kepala nya di kedua tangannya.
Pelajaran pertama sudah selesai 15 menit lalu, tapi Rena masih belum beranjak dari tempat duduknya.
"Aduhh, gw datang keruangan Pak Andre gak yaa, tapi gw takutt, ntar kalo gw diomelin gimana coba, ntar kalo dia suruh manggil orang tua, bisa abis gw di penggal ama bokap." Ucap Rena gelisah
"Ya terserah lo Ren, tapi yaa, gw cuma takut kalo lo gak dateng ke ruangan dia nilai lu yang terancam. Kalo dia kasih E, bisa-bisa lu gak naik kelas Ren." Balas Lica
"Aaa, gak, gak boleh nilai gw sampe E. Bokap bisa marah besar, ya udah lo temenin gw yak Lic. Gak ada penolakan." Jawab Rena sambil narik tangan Lica.
Sesampai nya di ruangan Pak Andre, Rena mengentuk pintu ruangan tersebut.
"Iya, masuk." Jawab orang dalam ruangan tersebut.
"Lo tunggu sini ya Lic, jangan kabur lo." Ucap Rena. "Iya iya bawel." Balas Lica
Rena membuka pintu ruangan itu. "Permisi pak, saya Rena dari kelas IPA 3 yang tadi bapak panggil suruh keruangan bapak." Jelas Rena sambil membungkukan badan.
"Silahkan duduk." Jawab Pak Andre
Rena pun duduk di kursi yang ada di depan Pak Andre. Wajah Rena sudah sedikit pucat, dada Rena juga dari tadi jedag jedug gak karuan, pikiran liar bercabang di otak Rena, takut akan ucapan yang keluar dari mulut Pak Andre.
"Kamu tau kenapa saya penggil kesini?." Tanya Pak Andre
"Iya Pak, karna saya gak focus perhatiin pelajaran bapak." Jawab Rena
"Bagus, kalo kamu tau salah kamu dan jangan di ulangi lagi." Pinta Pak Andre
"Satu lagi selalu hati-hati dimanapun kamu berada." Ucapnya lagi.
"Hah, maksud bapak apa ya, saya gak ngerti." Tanya Rena
"Silahkan kamu keluar." Pinta Pak Andre
"Baik Pak saya permisi." Jawab Rena, sambil berdiri dan keluar menuju pintu.
Sekeluarnya Rena dari ruangan Pak Andre justru malah membuat Rena bertanya-tanya apa maksud dari perkataan gurunya itu. Beda dengan Lica yang justru bingung, kenapa Rena keluar dari ruangan Pak Andre malah melamun, bukan kesal atau nangis karna dihukum sesuai pikirannya. Aneh.
"Apa dia anak itu yang dibilang papah. Gw harus cari tau."
###
Hmmm, menurut kalian ada rahasia apakah antara Rena dan Andre?
YOU ARE READING
Mysteri of Rena
FantasyAda sebuah rahasia besar terungkap, Apakah mereka bisa menyelesaikannya? RENA ROSALINDA RINGGANA Aku harap, aku tak pernah lahir kedunia dan merasakan ini semua. Hai Readers Salam kenal ya Ini karya pertamaku, semoga kalian suka ya, selamat membaca...
