The Star

1.1K 71 0
                                        

“Betrand! Betrand! Betrand!”, seruan dari banyak orang yang memenuhi tempat ini menambah semarak acara yang sebentar lagi terlaksana. Tatanan panggung megah ditambah dengan lampu-lampu yang menghiasi panggung sudah bisa dipastikan ini adalah konser besar. Musik dimulai, LED besar yang menampilkan sosok remaja tampan terbagi menjadi dua. Gambar LED tadi seakan bertransformasi menjadi sosok yang kini bergerak di atas panggung dengan lincah mengikuti alunan musik ditemani beberapa penari lain yang tak kalah lincah, musik berubah diikuti alunan dari sosok remaja tampan ini.

Betrand Peto Putra Onsu remaja dengan karisma yang luar biasa, diumurnya yang baru menginjak 17 tahun sudah melakukan dua konser besar. Karya yang tak pernah mengecewakan, terlihat dari banyaknya viewers dan seringnya menjadi tranding di salah satu platform video. Jangan lupakan lautan manusia yang kini memenuhi depan panggung dengan teriakan yang menggema, fans yang selalu mendukung setiap karirnya.

Lagu terakhir dibawakan betrand di konser telah selesai, menandakan konser berakhir, namun sorakan fans tak redup hingga sang idola tidak terlihat lagi di atas panggung. Turun dari panggung pandangannya terpusat pada lelaki paruh baya dengan setelan jas, berdiri tersenyum bangga akan prestasi yang diraih remaja ini. Ruben Onsu, namanya bukan lagi nama yang asing di dunia entertainment, berkarir sejak muda menjadikannya sosok artis yang dianggap senior, kini kemampuan dan pelajaran yang ia dapat sedari muda didunia ia salurkan keputra pertamanya, yang saat ini tengah berlari kepadanya. Ruben merentangkan tanggan menyambut pelukan sang putra.

“Bagaimana Yah, performa onyo bagus gak?” Betrand bertanya, dengan masih berada di pelukan Ruben, Onyo adalah panggilan yang diberikan keluarganya untuk Betrand.

“Sudah bagus, tapi harus terus belajar ya, jangan cepat puas.” Begitulah wejangan dan pujian yang selalu diberikan Ruben ke anak sulungnya ini. Ia tak akan membuat sang anak kecewa tapi juga tak ingin ia menjadi puas diri.

Betrand memgangguk mendengar wejangan sang ayah, bagi betrand, Ruben adalah ayah sekaligus guru yang akan memberikannya hal baik, ia akan melakukan semuanya untuk membuat bangga keluarganya, termasuk Ruben dan Sarwendah -bundanya-.

“Coba aja Bunda juga datang.” terlihat raut kecewa dari wajah sang bintang ini. Ruben melepaskan pelukannya dan menangkap pipi sang putra, walaupun seorang putra sulung tapi Betrand adalah sosok yang manja kepada kedua orang tuanya dan keluarganya.

“Kan Bunda jagain Cici dan Thania, di rumah, lagipula pasti bunda nonton onyo ditelevisi, jangan sedih dong” Sang Bunda yang seharusnya hadir juga membatalkan kehadirannya karena sikecil Thania tidak ingin ditinggal alhasil thalia yang sering disebut Cici juga tidak datang.

Wajah Betrand yang semula tampak kecewa, mulai tersenyum, ia mencoba mengerti jika adik-adiknya membutuhkan sang bunda, lagipula  di sini  ada sang ayah yang menemaninya.

“Yaudah ayo siap-siap kita pulang temuin Bunda, Cici, dan Thania.” Betrand mengangguk, ia dan sang ayah segera berberes untuk pulang.

Dimobil perjalanan pulang bersama sang Ayah dan Asistennya, betrand fokus dengan smartphonenya mengecek di aplikasi ungu beberapa pesan baik dari fans ataupun dari beberapa teman yang memuji konsernya. Ia tersenyum melihat antusiasme fans yang mengucapkan selamat akan konser kedua ini. Setelah membalas beberapa komentar dan DM yang ia rasa perlu ia balas, perjalanan pulang dia isi dengan melihat hiruk pikuk kota Jakarta yang walaupun sudah cukup malam tepatnya jam 10 tapi masih ramai akan hilir mudik kendaraan bermotor. Senyum bangga terlihat dari wajah remeja ini kala melihat salah satu platform LED yang menampilkan sosok remaja perempuan cantik yang memegang stand mic tersenyum kearah kamera, disampingnya terlihat tulisan The Voice idol yang merupakan nama salah satu ajang pencarian bakat menyanyi.

“Sampai ketemu Anneth” gumamnya pelan, yang hanya bisa ia dengar, diikuti senyum lembut yang biasa ia berikan.

Setelah bergumam, dia memejamkan matanya memilih untuk tidur sejenak selama perjalanan ini. Mobil telah berhenti, betrand terbangun dan meilhat ternyata ia sudah sampai, ia terlebih dahulu menuju kamarnya untuk membersihkan diri, itu yang selalu diajarkan sang bunda, setelah dari luar rumah dan sebelum berinteraksi dengan orang rumah mereka diwajibkan mandi dulu. Selepas mandi dan berpakaian, betrand bergegas menuju kamar ayah bundanya, yang pastinya di kamar itu juga akan ada adik-adiknya yang ia harapkan belum tidur, tapi ternyata ia harus menunggu sampai besok untuk bermain bersama mereka, karena kedua princess itu sudah tertidur nyenyak. Betrand beralih ke sang bunda yang sedang mengisi aroma terapi dan memeluknya dari belakang. Sarwendah tersenyum dengan kemanjaan anak sulungnya ini.

“Gimana Bun, penampilan onyo keren gak?” tanyanya, setelah melepaskan pelukannya.

“Hmm gimana ya?” Sarwendah menggoda si putra sulung yang sekarang telah berpindah ke depannya denagan wajah masamnya.

“Ayolah Bunda, gimana?” Sarwendah tertawa, sementara Ruben yang baru selesai mandi ikut menyaksikan drama ibu dan anak ini ikut tertawa.

“Bagus, tapi ingat jangan apa?”

“Cepat puas, terus belajar hal baru,” jawab Betrand dengan wejangan yang selalu diberikan oleh bundanya.

“Ya sudah, sekarang onyo tidur sudah malam, besokkan mau ada acara” Sarwendah memerintahkan sang putra untuk segera tidur, besok memang akan ada acara keluarga, untuk merayakan kesuksesan konser Betrand. Keluarga ini memang suka merayakan hari penting, misalnya ulang tahun, haloween, atau kelulusan anak-anak mereka.

“Besok Nayla juga datangkan Bun?” tanya remaja ini bersemangat, yang dijawab anggukan sang Bunda.

“Hmm kayaknya senang banget Nayla datang” goda Ruben.

“Senang Naylanya datang atau senang bisa ngorek informasi dari Nayla” dilanjut godaan Sarwendah.

“Apaan sih Bun.” Betrand yang salah tingkah digoda ayah dan bundanya memilih kekamar untuk tidur, meninggalkan kedua suami istri yang gemas akan tingkah putranya.

Sesampai dikamar remaja pengoleksi gitar ini tidak langsung tidur, ia memilih duduk sejenak di meja belajarnya, menatap lurus ke kalung salib yang tergantung di cermin diatas meja, kalung pemberian seseorang yang selalu ia bawa ketika akan tampil di atas panggung, termasuk ketika konser tadi.

“Onyo tidur!” terdengar suara Sarwendah dari arah CCTV kamar remaja ini, tanpa menjawab ia segera naik ketempat tidur, menarik selimut dan menutup mata berusaha terlelap.

Sementara Sarwendah di kamar tertawa melihat tingkah putranya dari layar smartphonenya, Ruben hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ibu dan Anak ini, ada saja tingkah mereka, entah sang Anak yang menjahili Bundanya, atau sang Bunda yang menjahili Anaknya.

“Kamu kenapa sih ketawa?” tanya Ruben.

“Onyo lucu banget, anak kamu sampai kamar gak langsung tidur, malah natap kalung dulu” Masih dengan sedikit kikikan geli mengingat tingkah putranya.

“Namanya juga remaja, biarin aja” jelas Ruben.

“Dia udah tahu belum sih kalau bakal tampil di acara itu?” tanya Sarwendah sembari memperbaiki posisi sikecil Thania yang sudah kakinya sudah berada di wajah sang kakak Thalia.

“Belum, biar aja, paling besok Nayla bocorin” Ruben membayangkan bagaimana ekspresi sang putra mendengar kabar itu

Star & MoonWhere stories live. Discover now