Sembari memasang earphone guna menyumpal kedua telinga, jemari tangan ini sibuk memilih lagu yang setidaknya tidak semakin memperburuk mood.
Ketika malam Minggu, kenapa juga aku harus terjebak di tempat ramai begini alih-alih berdiam diri di kamar?
Jika bukan karena perut keroncongan yang memaksa diisi tanpa peduli tak ada bahan makanan apapun di rumah, tentu amat enggan untuk berdiri di antara orang-orang yang sibuk dengan hiruk pikuk malam. Setidaknya, tidak melakukan apapun seraya mengunci diri di dalam kamar tentu lebih baik daripada berada di tempat sesak begini.
Memilih bersandar pada salah satu tiang, alunan lagu menjadi satu-satunya suara yang terpilih untuk masuk ke gendang telinga. Menunggu bus selanjutnya, yang sialnya datang terlambat dari jadwal, kedua netraku hanya menyibukkan diri melirik berbagai arah. Tanpa menemukan perbedaan signifikan, semua orang di sini tampak menguarkan kebahagiaan tanda suka cita menghabiskan waktu bersama orang yang sudah bisa ditebak adalah insan penting dalam hidupnya.
Aku, sebagai satu-satunya orang yang sendirian di sini, hanya berdecih sebal saat melihat adegan sepasang muda-mudi tengah mengelus rambut atau mencubit pipi di depan mata. Pun memandang datar saat orang tua menggandeng anaknya yang tampak tertawa lebar dan canda tawa gerombolan sahabat.
Mereka terlampau bahagia, seakan tak pernah ingat bahwa kemungkinan hari esok bisa saja terisi dengan tangis huru-hara. Mereka bersikap seolah-olah menaruh kunci segala perasaan hanya pada satu orang yang belum tentu bisa menjaga esensi lapangnya bahagia dalam satuan waktu yang dinamakan abadi.
Bukankah itu terlalu bodoh?
Mengapa menggantungkan sedih dan bahagia hanya pada orang yang bisa pergi kapan saja?
Huh.
Omong-omong, sepertinya sore tadi telah turun hujan terbukti dari banyaknya genangan air, termasuk tepat di hadapan kaki ini. Tentu aku tak tahu itu karena hanya berdiam diri di dalam kamar sepanjang hari.
Beralih melihat langit malam sekilas, awas saja jikalau tiba-tiba turun hujan lagi. Bisa-bisa, aku dan novel di tangan kiriku basah tanpa bisa dicegah.
Mengetahui sebuah bus datang dari ujung jalan, berdiri tegak sambil mengambil beberapa langkah maju adalah yang perlu dilakukan. Sampai pada saat bus berhenti tepat di depan tempatku berdiri, pintu otomatis terbuka seiring dengan beberapa orang keluar dari kendaraan umum itu.
Seorang wanita berpakaian rapi, yang sedang melakukan panggilan melalui ponsel, turun tergesa lalu menabrak tubuhku yang jelas-jelas berdiri di hadapannya. Tanpa menduga, tubuhku sedikit terdorong dan sialnya buku di tangan kiri ini terjatuh tanpa bisa ditahan.
Aku langsung menjentikkan jari.
Sekejap, ramai riuh yang sebelumnya terdengar, lantas berubah menjadi senyap. Langkah buru-buru yang dilakukan setiap orang, berubah menjadi keterdiaman tanpa bisa bergerak.
Aku mengambil novel yang mengambang tepat sebelum jatuh ke genangan air kotor di bawah kaki. Berdecak sambil menepuk-nepuk novel yang terbilang usia tua, aku menatap tajam wanita di depanku sebagai pelaku yang hampir saja membuat novel ini kotor tanpa terselamatkan.
Mendengkus, untung saja aku menjentikkan jari di waktu yang tepat. Kalau-kalau novel ini sempurna jatuh, sepertinya aku akan benar-benar menjambak rambutnya hingga rontok. Dia bahkan tak akan bisa mengganti dengan belasan novel yang sama persis sebab ini sudah tak terbit semenjak bertahun-tahun belakangan.
Menghela napas, aku menahan rentetan kalimat sumpah serapah yang sejujurnya bisa saja diluapkan tanpa didengar wanita ceroboh ini. Akan tetapi, itu hanya membuang-buang waktu. Aku tak bodoh untuk mengambil pilihan tersebut.
Kedua mata ini mengedarkan pandang pada tiap orang yang selayaknya hanya patung.
Melihat hal biasa semacam ini, sama sekali tak membuat terkejut.
Aku justru menyerngitkan dahi saat mendapati sebuah truk di seberang jalan terlihat oleng keluar jalur. Meneliti raut wajah terkejut milik orang-orang di sekitar lokasi kejadian dan wajah pengemudi yang dalam sekali melihat saja sudah bisa ditebak tengah mabuk, membuat aku bisa dengan mudah menebak apa yang akan terjadi tepat beberapa detik setelah ini.
Sepertinya, hiruk pikuk malam Minggu akan dibumbui sedikit tragedi.
Aku menaikkan tudung hoodie. Tanpa peduli, aku kembali menjentikkan jari membuat orang-orang kembali bisa bergerak normal.
Benar saja, langsung terdengar suara berdecit tanda badan kendaraan beradu diikuti teriakan kaget sekaligus panik dari orang-orang sebab menyadari ada kecelakaan di depan mata. Setelahnya, terdengar kalimat susul menyusul yang mengatakan untuk segera menghubungi ambulans juga polisi diiringi ramainya orang bergegas berniat memberi pertolongan bagi korban.
Alih-alih ikut mendekat atau setidaknya menumpukan fokus pada kejadian tersebut sepenuhnya, aku justru hanya melirik sebuah kecelakaan yang terjadi tepat di depan sebuah minimarket tanpa terlalu peduli. Sekilas, terlihat beberapa kendaraan, meliputi mobil dan motor, remuk dihantam badan truk. Sedangkan beberapa orang yang sebelumnya beraktivitas di sekitar tak elak tidak bisa lepas dari sasaran pengemudi tak bertanggung jawab itu.
Selanjutnya, aku memilih melangkahkan kaki menjauh. Sepertinya, malam ini aku harus menapaki jalan dengan kedua kakiku sendiri mengingat kecelakaan yang barusan terjadi akan mengakibatkan semua akses ditutup dan kendaraan umum tak bisa lewat.
Sejatinya, kejadian semacam ini bukanlah kali pertamaku. Kini, rasanya aku mulai terbiasa dengan itu.
Aku Lora Arandra Candeline.
Setelah mengetahui kejadian barusan, biar aku tebak kalian akan menyebutku sebagai apa.
Gadis aneh?
Gadis istimewa?
Atau mungkin Si Gadis Penghenti Waktu?
YOU ARE READING
Indescribable Time
FantasyAku menjentikkan jemari. Sekejap, ramai riuh yang sebelumnya terdengar, lantas berubah menjadi senyap. Langkah buru-buru yang dilakukan setiap orang, berubah menjadi keterdiaman tanpa bisa bergerak. Kedua mata ini mengedarkan pandang pada tiap oran...
