Pot-valor

2.3K 168 15
                                        

"Apa?" Holmes tertawa bodoh setelah mengucapkan kata itu dengan ringan, hanya saja pria yang berada di depannya atau yang bisa dideskripsikan oleh Holmes adalah ; "Pria bangsawan mana yang mengendus orang lain? Padahal sudah jelas dia nobleman yang punya OCD?"

"Hm..? Kenapa kau bertanya balik?" Pria di depannya masih berdiri cukup dekat dengannya, bersama dengan rambut blonde pekat nan lembut mengikuti gerak sang empu. Wajahnya benar-benar tampan bahkan Holmes sendiri mengakui betapa rupawannya pria ini, hidung tinggi namun kecil bersama dengan bibirnya yang tidak begitu berisi di bagian bawah, garis matanya yang kuat tetapi lembut menyapu pandangan Holmes dibantu dengan kerapian alisnya yang lurus namun menurun sopan di bagian ekornya. Pakaiannya yang melingkari otot lengan hingga punggungnya pun terlihat elok karena garis long coat blazernya. Bersama dasi kupu-kupu dan kemeja senada putih bersih sukses membuat pria ini jelas ; Bangsawan Yang Tak Akan Mengendusnya Berkali-kali.

"Apa aku benar sebau itu? Sudah kupastikan cologne John bukan berisi air garam.."

Pria dengan potongan rambut semi wolf-cut itu terkukuh melihat ekspresi Holmes di depannya ini, "Perkenalkan namaku, William James Moriarty. Senang bertemu denganmu, Mr. Sherlock Holmes."

Holmes ingin sekali tertawa sekuat mungkin karena siapa sangka di era yang bahkan namanya belum dikenal orang lain selain teman-teman lama dan penghuni Baker Street akan ada yang benar-benar mengenalnya sebelum dia harus memperkenalkan dirinya dahulu? Holmes menyisir surai hitamnya ke belakang lalu tersenyum puas, "Suatu kebanggan bagiku dapat dikenali oleh Mr. Moriarty. Apa dan bagaimana kau bisa mengenaliku?" Saat ini benar faktanya kalau Holmes ada di langit ke-9, meninggalkan jati dirinya di bumi bawah sana.

Moriarty menaruh jemariya diatas dagunya, membawa pandangannya menuju langit balkoni tempat mereka sedang berdiri. Ia menatap turun lagi kearah Holmes dan tersenyum lembut, "Sebelumnya kita juga sudah pernah bertemu." itu saja yang menjadi kunci bagi Holmes, meninggalkan tanda tanya besar diatas kepalanya.

"Ha?" ujarnya dengan nada tak etis yang mana sukses membuat Moriarty kembali terkekeh geli.

"Will!" seorang lelaki dengan surai cokelat tua yang tertutupi oleh topinya menyerukan nama itu yang mana William menolehkan kepalanya atas suara itu. Padahal William yang dipanggil tetapi malah Holmes tertegun sejenak sebelum William menarik pandangan Holmes kepadanya lagi.

"Merasa tak asing?" tanyanya namun ia tak menunggu respon apa-apa lagi dari Holmes, Moriarty langsung berbalik tanpa mengucapkan kalimat perpisahan sekalipun.

Pria yang memperkenalkan dirinya sebagai William James Moriarty itu perlahan tapi past meninggalkan Sherlock sendirian setelah hanya dengan beberapa detik William mampu membuat pria paling sombong di Baker Street itu termenung cukup lama. Tidak hanya bengongan tapi baru pertama kali ini Sherlock tidak bisa membaca apa tujuan pria itu memanggilnya atau lebih tepatnya memanggilnya untuk yang entah ke berapa kali kalau benar mereka sebelum ini pernah bertemu.

"Sherlock! Sherloocckk!" John memunculkan kepalanya di samping tubuh Sherlock dan memeriksa apakah teman sekamarnya ini masih bernafas atau tidak, tapi sesaat ia melihat gerakan naik-turun pada dada Holmes yang ditambah nadi di keningnya yang terlihat jelas, John hanya mengangguk lega setidaknya temannya tidak mati berdiri.

Dia mengikuti arah pandang Holmes yang mana berhenti pada 3 pria bangsawan yang tengah berjalan perlahan naik ke kereta yang akan berjalan dari London Paddington ke Penzance di Cornwall, tapi bisa saja mereka berhenti di stasiun lain. John membuka suara, "Moriarty?"

Holmes memutar kepalanya 90 derajat dan menatap John dengan penuh kecurigaan, "Jelaskan kepadaku. Apa, siapa, bagaimana, kapan, dan apa?"

John menatapnya dengan jijik, "Untuk apa pakai 'Apa' 2 kali?"

Their Final Act [Moriarty The Patriot] - SherLiamStories to obsess over. Discover now