Gadis berbaju kotak-kotak biru panjang dengan kerudung hitam persegi empat yang ujung depannya di talikan dibelakang lehernya tengah membenarkan ujung atas kerudungnya yang agak sedikit mleyot. Rara, ya Tarasya Arunisa. Gadis berhijab yang saat ini sedang memamerkan senyum manisnya di depan cermin kamarnya. Akhir pekan seperti ini memang biasa dimanfaatkan oleh Rara untuk menyenangkan otaknya dari sederet tugas yang yang menyebalkan. Rara bukan seperti gadis berhijab yang ada diluaran sana. Sifatnya jauh dari kata alim dan anggun, berhijabpun karena paksaan dari keluarga dan lingkungannya. Getaran di dalam tasnya mengalihkan atensinya dari kaca.
"Weh ini aku mau otw", suara bar-bar yang terdengar dari ponselnya.
"Salam dulu monyet", semburnya.
"Hehehe iya lupa. Intinya aku mau otw kerumahmu. Yo wes, assalammualaikum", sahutnya yang langsung mematikan panggilan itu.
"Waalaikumussalam. Padahal belum aku jawab, dasar kampret", dengus Rara.
Melangkahkan kakinya leluar kamar, lantas Rara melangkah menuju ke arah dimana sang ibu sedang membersihkan dapur kesayangannya.
"Bu, aku mau keluar sama Anis. Mau jalan-jalan sama nyari buku", katanya sambil melangkah mendekat ke sang ibu.
"Iyo nduk, yang penting hati-hati ya. Jangan ngebut-ngebut kalau dijalan", sang ibu tersenyum lembut ke arah sang anak sulung.
Tiit!!..tiit!!..sura tlakson motor Anis terdengar di depan rumahnya.
"Nggeh ibu. Aku berangkat ya, assalammualaikum", katanya sambil menyalami ibunya.
"Waalaikumussalam", sahut ibunya yang terdengar sayup-sayup karena Rara sedikit berlari menuju pintu utama.
Dilihatnya sang teman yang saat ini memakai helm hitam yang kontras dengan legamnya rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai.
"Yok berangkat", katanya mengagetkan Anis.
"Njir kaget nih monyet!! Kamu kapan datengnya? Nggak kedengeran suara sepatu tadi", heran Anis.
"Kamunya aja yang budek", sinisnya.
"Udahlah itu helmnya dipake, nggak usah pake cincong".
"Iya. Ini helm kenapa warnanya putih banget deh? Beli baru? Kek tai cicak ni kita", dumelnya sambil memakai helm putih itu.
"Nggak mau ikut? Ya udah sono balik rumah".
"Iya-iya ini udah dipake. Yok berangkat".
Diperjalanan menuju tempat yang mereka tuju, banyak sekali perbincangan yang mereka bicarakan. Dari hal-hal keseharian sampai apa yang mereka lihat dijalan. Jika di bandingkan dengan sodara sepupu bahkan adiknya, hanya Raralah yang tidak berpakaian syar'i dan setaat mereka akan agama. Bukan menyepelakan, hanya saja pemikiran yang belum terluruskan dan teman sepermainannya yang terbilang cukup bebas. Sudah berkali-kali keluarganya memberikan petuah untuk menutup aurat yang benar, namun sampai berbusa pun Rara masih tetap Rara, sang pembangkang. Mungkin nanti akan ada saatnya Rara akan berubah. Untuk masalah panggilan aku-kamu dikalangan orang jawa adalah hal biasa, beda lagi kalau menggunakan istilah lo-gue pasti akan sedikit aneh bagi mereka yang tak terbiasa. Ya walaupun sudah banyak kalangan muda di daerah jawa yang menggunakan istilah itu.
"Weh Ra! Tadi pagi aku baru download aplikasi baru nih. Aplikasi mencari teman gitu", kata Anis yang tengah memarkirkan motonya.
"Wiiih seru tuh kanyaknya. Boleh deh nanti aku coba juga".
"Harus. Pokoknya nanti kita coba bareng, siapa tau dapet jodoh hehehe", cengir anis.
"Yoi, siapa tau kan dapet jodoh kan lumayan. Udah yuk bahasnya nanti lagi. Aku udah pingin cari buku novel", kata Rara sambil menggandeng tangan Anis.
"Ayok!!".
Diakhir pekan seperti ini, memang banyak remaja dan orang dewasa mengunjungi toko buku. Sebenarnya Rara sedikit malas jika ada banyak orang berada ditoko buku seperti ini. Tapi demi novel yang dia inginkan sejak lama, dia rela datang ke toko buku yang lumayan banyak pengunjung. Berbagai deretan buku novel dan lainnya terjejer rapi di rak buku yang ditata sesuai dengan jenis buku yang ada. Kakinya mulai menjelajah di deretan rak buku novel yang terjejer rapi. Dari novel terkenal sampai novel lokalpun ada disini. Matanya berbinar melihat banyaknya buku novel yang sangat menggiurkan. Diliriknya satu-persatu buku yang ada disana, hingga netranya melihat sebuah buku novel bergenre islami yang berjudul "Jika Allah tak mengizinkan".
🌼🌼🌼
Untuk visualnya aku nggak mau ngasih gambaran gimana mukanya para tokoh ya. Sesuka imajinasi kalian aja. Soalnya aku nulis ini aja masih blur visual mba Raranya. Terimakasih sudah membaca, maaf pendek. Hehe
Pemalang, 25 juni 2021
YOU ARE READING
Garis Takdir
Teen FictionOrang dahulu bilang, garis-garis yang ada di telapak tangan kita adalah sebuah arti dari takdir yang akan kita dapatkan. Mungkin jika di pahami dengan baik akan ada benarnya. Pada dasarnya takdir ada ditangan kita, tapi Tuhan yang menentukannya. kit...
