Sore itu Pak Iwan pulang dengan wajah yang sangat murung sekali, pasalnya, ia baru saja di PHK dari tempat kerjanya. Dina yang melihat kondisi suaminya yang sedang tidak baik ini pun akhirnya bertanya.
“Kamu kenapa mas? Kamu sakit atau sedang ada masalah di kantor?” tanya Dina. Namun yang di tanya pun tidak menjawab, Pak Iwan bingung bagaimana ia harus mengatakan pada istrinya kalau ia di PHK.
“Mas, kok diam aja sih? Ada apa?” tanya Dina lagi.
“Aku capek, mau istirahat dulu,” jawabnya sambil berlalu masuk ke kamarnya.
“Mas Iwan itu kenapa sih? Pertanyaanku kok ga di jawab,” batin Dina. Ia pun segera menuju dapur dan membuatkan teh untuk suaminya, “mungkin setelah minum teh hangat, ia mau cerita padaku.” Pikirnya.
Selesai membuatkan teh hangat, Dina segera beranjak ke kamarnya.
“Mas, ini ku buatkan teh hangat untuk kamu, di minum dulu mumpung masih hangat,” ucap Dina.
“Terimakasih ya,” ucapnya.
****
Dina POV
Setelah minum teh hangat buatanku, suamiku menghela nafas panjang dan berkata, “ada yang ingin aku bicarakan padamu.”
Tiba-tiba jantungku rasanya berdebar kencang, perasaanku pun mulai tidak enak.
“Katakanlah, jangan membuatku khawatir. Ada apa sebenarnya?” tanya Dina penasaran.
“Ya, aku tidak mungkin menyembunyikannya darimu. Cepat atau lambat kamu pun akan mengetahuinya,” Ujarnya.
“Aku akan katakan, tapi kamu jamgan marah ya,” lanjutnya.
“Apa? Jangan membuatku penasaran,” jawabku gemas.
“Aku di PHK.”
JLEGEEERRRR
Bagai di sambar petir di siang bolong, ketika mendengar jawaban singkat darinya. Air mataku mengalir di pipiku, aku tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan kami ke depannya jika suamiku di PHK.
“Maaf kan aku,” ucapnya dengan suara bergetar, “aku janji, aku akan tetap berusaha bekerja apapun itu asalkan halal, demi memenuhi kebutuhan rumah tangga kita,” lanjutnya berusaha meyakinkanku.
“Bagaimana dengan kehidupan kita kedepannya mas?” tanyaku terisak.
“Aku tau ini berat sekali, tapi aku yakin kita bisa melewatinya,” ucap suamiku.
****
Iwan POV
Sejak memberitahu Dina bahwa aku telah di PHK, ia terlihat sangat murung sekali. Aku merasa sangat bersalah, sebab sejak awal menikahinya aku belum mampu membahagiakannya.
Pukul sudah menunjukkan pukul 00.30, namun mata ini belum juga mau terpejam. Aku beranjak dari tempat tidur, berjalan keluar kamar.
Saat sedang berjalan, langkahku pun terhenti di sebuah ruangan kecil yang di buat khusus untuk shalat. Aku mengingat-ingat kapan terakhir aku shalat di ruangan ini, ternyata sudah lama sekali aku tidak shalat di ruangan ini, sudah lama sekali aku tidak bermesraan dengan Rabb ku di ruangan ini. Aku pun kembali melanjutkan langkah kakiku menuju tempat wudhu, aku ingin shalat, aku ingin mengadukan semua masalahku pada Rabb ku.
(Bersambung)
YOU ARE READING
Serpihan Cinta yang Berserakan
General Fiction"Aku di PHK," JLEGEEEERRR Bagai di sambar petir di siang bolong, saat aku mendengar jawaban singkat dari suamiku. Inilah awal mula rumah tangga Dina di uji. Namun ujian terbesar Dina ada pada anak semata wayangnya yang tumbuh menjadi gadis yang sang...
