Semua ini dimulai dengan kedatangan Diana Mega Batari ke ibu kota Jakarta tahun di pertengahan tahun 2017, masa-masa dimana tahun ajaran baru dam penerimaan siswa dimulai. Diana tak berpindah tempat tinggal, dia masih warga Bandung tercinta yang hanya pergi sebentar dan kembali setelah urusannya selesai.
Lantas, urusan apa yang membuat anak berumur enam belas tahun mau meninggalkan tanah kelahirannya dan memberanikan diri menetap di ibu kota yang besar dan 'keras' itu? Jawabannya hanya Tama Ali Khairul.
Diana mungkin terdengar konyol karena masih percaya pada ucapan teman masa kecilnya, tapi memang itulah kenyataannya. Ibarat kata, hidup memang keras, tapi ucapan Tama membuatnya seakan lebih mudah untuk dijalani. Karena itu, Diana di sini.
“Olivia!” panggil Diana di pagi yang masih berbalut kelamnya langit fajar. Suara kerasnya tentu saja mencapai orang-orang yang ada di rumah Olivia yang hanya berbatasan tembok dengannya. “Olivia, lo udah bangun belom?” tambahnya dengan suara yang lebih kencang.
Selagi memakai sepatu baru miliknya, Diana mengunyah roti bakar buatan paman yang rumahnya ia tinggali saat ini. Dia sibuk mengikatkan kedua tali itu agar terpasang dengan sempurna, sementara mulutnya juga berusaha menjaga agar roti miliknya tak jatuh menyapa kawanan semut di tanah. Karena itulah, Diana tentu tak akan perhatikan sekitar dan akhirnya membiarkan kepalanya dipukul pelan oleh sepupu laki-lakinya, Alfian Sukma.
“Bajingan!” umpat Diana sesaat setelah roti yang ia jaga, lolos dan mendarat dengan baik di tanah yang kotor. Dia mengulum bibir, berusaha menahan amarah. Tapi tetap tak bisa.
Wajah Alfian mengerut ngeri setelah mendengar umpatan sepupunya barusan. “Baguskah mulut begitu dibawa ke sekolah?” tanyanya dengan nada mengejek. Diana tak akan menahan diri jika itu adalah Alfian, maka pukulan balik tak ragu ia berikan pada lengan pemuda tinggi dan kurus itu.
“Sopankah mukul kepala orang begitu?”
“Ya udah besok gue pukul di bagian lain,” ucap Alfian sambil sedikit melirik ke bagian belakang tubuh Diana yang dibalut kemeja putih polos dan rok hitam khas masa ospek di kebanyakan sekolah Indonesia. Diana yang tak tahan melihat wajah mesum Alfian, lantas merotasi kedua matanya dan pergi dari sana. Tidak peduli meski itu sungguhan atau lelucon seperti yang sudah-sudah.
Karena hari ini Diana sedang bahagia sekali, maka dia akan lewatkan hal-hal yang tak penting untuk ditanggapi, termasuk Alfian yang kini sedang meneriakinya sembari mengeluarkan motor ninja berwarna hijau miliknya.
“Diana, tungguin gue!”
Alfian menyusul Diana, karena tetap saja menjaga Diana adalah kewajibannya sebagai saudara gadis itu. “Berangkat sama gue, buruan naik.” Alfian menyuruh Diana, tapi gadis itu menggelengkan kepala.
“Gue udah janjian mau berangkat sama Olivia.”
“Olivia berangkat sama abangnya.”
“Tau dari mana?”
“Sumedang.”
Diana mendengus sebal, semerta-merta memukul punggung Alfian agak keras sembari berkata, “Tau, bodoh! Bukan tahu!”
Alfian tertawa meski sedikit meringis. Diana memang tidak pernah ragu untuk menyakiti tubuhnya. “Lo galak banget deh! Gimana mau dapet pacar kalo lo aja demen kekerasan begini?” ejek Alfian, tapi itu tak menyentuh benak Diana.
Gadis dengan rambut sebahu berwarna coklat itu malah tersenyum, tak peduli akan ucapan Alfian. “Gue gak perlu cari cowo, karena ada satu cowo yang pasti mau sama gue,” ujarnya, menyangkal ejekan Alfian dengan percaya diri.
YOU ARE READING
ROMANCE IS JUST A TALE : Soobin, Ryujin.
Teen Fiction" Anak kecil itu bahkan gak tahu apa yang dia omongin, dan dengan bodohnya, gue anggep itu adalah hal yang serius. " Sepuluh tahun berlalu dan Diana Mega Batari masihlah gadis yang sama yang menunggu Tama Ali Khairul kembali untuk menepati kata-kata...
