Tangan Jacki menyentuh cermin. Dimiring-miringkan wajahnya. "Kemana badan kecil yang lucu dulu?". Jacki remaja sudah menjulang 165cm. Kakinya berjinjit-jinjit di depan cermin. Dilirik kulit putihnya, rambut lurus coklatnya. Matanya digerakkan ke kiri dan ke kanan. Ditepuk-tepuknya pipi yang tirus.
Pipi itu sudah tidak tembem lagi. "Ah!! Aku sudah beranjak remaja,"sorak hati kecil Jacki.
Sewaktu masih kecil, pipinya lebih mirip bakpau empuk. Rambutnya sedikit tipis ikal diujungnya. Tetapi wajahnya kini lonjong, dengan tulang pipi yang menonjol. Rambut ikal kecilnya sudah hilang, kini lurus panjang sepunggung.
Rambut yang coklat bukan karena dicat pewarna rambut, tetapi memang asli dari gen bapaknya yang berdarah Amerika. Ibunya Flores, Indonesia. Cantik sekali paras Jacki.
Remaja seumurannya biasa kongkow dengan gangnya di cafe, foya-foya shopping atau kumpulan anak remaja jenis lainnya. Tapi tidak untuk Jacki. Dia lebih suka menyendiri di rumah dengan anjingnya atau Neneknya yang sudah renta. Ibunya sudah meninggal dan Ayahnya lebih sering berada di Kalimantan untuk mengecor tambang minyak.
Nenek dari ayahnya rupanya jago mendongeng jaman penjajahan Belanda, Jepang tempo dulu. Juga sangat menguasai budaya Indonesia dari kisah-kisah perwayangan ataupun kisah-kisah kerajaan dari berbagai Nusantara. Tidak mengherankan, Jacki tumbuh menjadi remaja yang mengenal "unggah-ungguh" dan nilai-nilai kearifan nusantara serta mencicipi spiritualitas.
Meskipun demikian dia selalu "haus" menanyakan siapa dirinya?.
Neneknya yang sangat piawai itu pun kalang kabut memberikan jawaban kepada cucu kesayangannya.
Karena kekecewaannya, Jacki nampak sering melamun. Buku-bukunya yang menumpuk dua lemari, tak mampu memuaskan pertanyaan satu itu.
Dalam lamunan di pinggir sungai dengan Dotty anjingnya. Dia bertanya kepada Dotty, "Bagaimana rasanya menjadi anjing?", Dotty hanya melongo menatap tuannya, "wraafff....wrafff!!". Lalu berguling-guling di permadani rumput dekat mata air yang mengalir ke sungai.
"Ahh Dotty!!".
Jacki pun mengalihkan pandangannya. Kali ini dia menatap wajahnya sendiri di atas air sungai yang mengalir.
Bayangan wajahnya sangat jelas di air yang bening itu, "Lalu bagaimana rasanya jika aku bukan Jackie, tetapi seorang pria ataupun wujud lainnya?", otaknya serasa ingin meledak membayangkan sebenarnya siapa dia itu?.
"Ya aku tahu, namaku Jacki, warga negara Indonesia dll.
"Lalu tujuanku di dunia ini untuk apa?.
"Kelahiran demi kelahiranku pastinya sudah ratusan kali atau mungkin ribuan kali. Aku merasa jengah dengan kehidupan ini". Serasa tersesat karena tidak tahu musti kemana kaki melangkah di usianya yang menginjak remaja.
Rasanya dia belum melakukan apa-apa dalam hidupnya. Kosong-hampa. Pikirannya meloncat ke sana-kemari bagaikan monyet yang menari berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya.
Tiba-tiba telinganya berdesing seperti ada suara sayap lebah kecil yang menari-nari di dekat daun telinganya. Masih sayup sampai, tetapi sekarang suara desis kepakan sayap makin jelas terdengar. Dan desiran angin tipis terasa segar menyapu telinganya.
Tiba-tiba terdengar suara kecil yang aneh,
"you are a soul" ,
kamu adalah jiwa.
Sama halnya denganku.
Aku pun sebuah jiwa.
Hanya wujudnya berbeda".
Kata sumber suara kecil itu sembari tertawa renyah; khas suara anak kecil tapi lebih lembut.
Jacki makin kebingungan dan sangat terkejut dengan kemunculan suara itu. Dia pun bangkit dari tepian sungai dan memutarkan badannya mencoba mencari sumber suara kecil itu.
Pada saat dia menoleh ke arah Dotty dibalik semak, Jackie menjerit kaget.
"Aaarrghh!!", siapa kamu?", dengan mata melotot meskipun mata Jacki sipit, tetapi lingkaran bola mata itu nampak sangat serius dan gusar bercampur rasa kesal.
Dotty nampak muncul keluar dari semak dan mendatangi tuannya. Karena dia melihat ada sesuatu yang terbang mengitari Jacki. Dotty pun menggongong manja ingin ikut serta bermain.
"Dotty! Ajh akhirnya kamu disini. Jacki mendesah tenang melihat anjingnya kembali.
"Wrafff...wrafff...", anjing Maltese itu berguling-guling, mencoba menangkap makhluk bersayap kecil yang sangat cantik dengan warna tubuhnya yang gemerlap bagai pelangi di atas awan.
Pelan-pelan Jacki mendekati Dotty dengan degup jantung yang berdetak kencang. Antara cemas dan takut Jacki mengamati makhluk itu.
Ditundukkan kepala Jacki ke arah Dotty dan, "wihhhh... kamu tadi yang bicara?".
"Ya aku mengajakmu bicara tadi
Kamu nya aja melongo terus. "Untung bukan makluk halus yang datang ha ha.... ", peri kecil itu pun terbang meninggi dan meliuk terbang ke sana kemari. Menciumi beberapa bunga rumput di tepi sungai. Dotty makin senang mengejar makhluk mungil itu.
Jacki pun tak kalah gesit dari Dotty ingin mengikuti irama terbang peri itu. Dengan berlarian kecil, Jacki bertanya,
"Kamu tadi bilang apa?"
"Aku adalah jiwa?", Jacki melongo.
"Aku pun jiwa", timpal peri itu.
Peri itu tersenyum, "Ya benar, we are soul dengan wujud yang bermacam-macam".
Asalkan jiwamu menyatu dengan yang membuat hidup, nantinya kamu akan mengerti tujuan hidupmu dan lain-lain yang berkenaan dengan intisari kehidupan.
Dari tatapan mata yang sinis tiba-tiba Jackie mulai tersenyum manis mendengar jawaban peri kecil itu. Dia pun ikutan mengejar peri kecil itu bersama Dotty mengitari pepohonan dan bunga-bunga liar di tepi sungai.
#30daywritingchallenge
#Siapasaya??
~SekarGendhis2021~
****
CITEȘTI
Siapa AKU ?
Ficțiune generalăJacquelin tidak bisa berhenti berpikir "siapa saya?". Tentu saja dia mengenali siapa dirinya. Dia anak tunggal blasteran Flores-Amerika. Namun wujud fisiknya yang jelita tidak penting bagi Jacquelin remaja. Jacki nama kecilnya, dia ingin mengenal ja...
