"Nasrun, dia siapa?" tanya Ning Fatimah seraya menunjuk seorang abdi ndalem tak jauh di depannya.
"Dia santri kelas tiga Aliyyah, namanya Zaid. Memangnya ada apa kalau saya boleh tahu?"
"Ndak apa-apa, konyol aja masa' sandalnya ketuker sama punya saya." Ning Fatimah terkekeh sampai terlihat gigi putihnya.
"Waah, jangan-jangan itu pertanda." Nasrun mencoba menebak-nebak.
"Pertanda apa?"
"Pertanda kalau Zaid bakal jadi jodoh njenengan." Nasrun tertawa pelan.
"Hahaha, ada-ada aja kamu." Ning Fatimah ikut tertawa bersamanya.
"Ya udah, kamu buatin minum buat para tamu abah, setelah itu panggilkan Farah suruh temui saya di dapur."
"Njih, Ning Fatimah."
Saat itu, di balik percakapan antara Ning Fatimah dan Nasrun, Zaid tengah sibuk mencari sandalnya yang sebelah kanan. Selesai mengaji bersama abah setelah solat maghrib sandalnya hilang sebelah. Zaid sudah biasa memakai sandal yang berbeda sebelah. Dalam bahasa jawa disebut selen. Namun kali ini dia heran, sandalnya tertukar dengan sandal perempuan. Dari bentuknya terlihat sandal itu lumayan mewah dan pastinya bukan milik santri putri. Tapi masa bodoh, Zaid tak memikirkan itu semua, yang terpenting adalah dia bisa kembali ke asrama dengan beralas kaki.
"Zaid, kok kamu baru pulang?" Amr yang melihat sahabatnya baru pulang dari ndalem memasuki gerbang pondok langsung menghampirinya.
"Iya nih, dari tadi nyari sendal ndak ketemu-ketemu."
"Lha itu sendalnya siapa?" Amr menunjuk sandal yang ditenteng Zaid.
"Ndak tau, wong adanya ini ya saa bawa."
"Ngawur kamu, itu kan punya santriwati."
"Alah ndak papa, biar saya simpen. Kalo mau nyari pemiliknya sekalian kenalan." Zaid tertawa terlalu keras membuat salah seorang pengurus keluar kantor menghampirinya.
"Assalamualaiku." Ustadz Nizar, salah seorang pengurus menatap ramah ke arah Zaid. Dia menyunggingkan senyum.
"Eh, ustadz. Waalaikumsalam." Zaid meraih tangan ustadz Nizar dan menciumnya yang diikuti oleh Amr.
"Zaid, Zaid. Sudah berapa kali daya kasih tahu, kalau sedang jam belajar jangan berisik, kan jadi ganggu yang lain. Lagian kenapa coba ketawa-ketawa sampe kedenger dari kamar pengurus?"
"Hehe, maaf, Tadz."
"Ya sudah masuk kamar! Kamu juga, Amr."
"Njih, Tadz." Keduanya pergi ke kamar mereka. Kamar RSH8 yang terletak di lantai dua paling pojok belakang.
Zaid mendapati teman-temannya sedang belajar pelajaran sekolah untuk persiapan ujian kelulusan. Dia meletakkan sandal perempuan itu bersama sandalnya di kolong lemari. Tanpa pikir panjang dia mengambil buku dan bergabung bersama mereka.
"Lagi pada belajar apa, nih?"
"Bahasa Indonesia."
YOU ARE READING
Yang Tertukar
Teen FictionSebuah kisah perjalanan hidup seorang pemuda di sebuah pondok pesantren modern. Kisah ini diambil dengan latar belakang pondok pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia Leler Banyumas. Budaya khas pesantren yang menjadi warna dan cikal bakal gener...
