IMAGE

272 13 2
                                        

Sekali lagi Mark mendesah. Lagi-lagi dia hampir saja mempermalukan dirinya sendiri di atas panggung. Saat Mark bersamanya, dia seharusnya bisa mengontrol emosinya. Tapi tidak hampir saja dia terbawa suasana dan membuatnya melakukan hal yang memalukan. Ah...kalaupun itu terjadi dia akan mengelak dan mengatakan itu adalah salaha satu fanservice nya. Oke...memang begitu kejadiannya, tapi yang ditakutkan Mark adalah apa yang terjadi selanjutnya kalau dirinya menjadi terbawa suasana. Bisa-bisa dia akan make out dengannya di atas panggung.

Tidak...tidak....Mark menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menghilangkan image itu.

"Hahhhh!!!" teriak Mark frustasi. Dijambaknya rambutnya sendiri. Sialan...image itu belum hilang.

Pluk.

Mark kaget. Tangan yang menyentuh pundaknya itu dipukulnya dengan tas nya. Keras sekali. Hingga sang pemilik tangan mengibas-ngibaskan tangannya.

"Sial kau Mark...teriak-teriak sendiri. Tanganku pun kau pukul dengan keras. Kenapa kau? Lagi pms?", cerocos sang pemilik tangan. Menggerutu karena telah menyakiti tangan halusnya.

"Kau yang sial Blue. Ngapain di sini? Nggak pulang sama Bang Joss?" gerutu Mark. Lalu kemudian dia nyengir melihat tangan sahabatnya itu yang kelihatannya nanti akan menjadi merah. Ah...biarkan saja. Siapa suruh mengganggu kehaluanku tadi. Batin Mark menyenangkan dirinya.

"Ini lagi nunggu Bang Joss. Dia sedang ke toilet. Aku pikir aku bisa membantumu malah kau siksa aku. Tau begitu kutinggalkan kau di sini sendirian biar saja diseret satpam keluar," balas Blue separuh marah separuh simpati.

"Hehehe...maaf Blue. Habis kau mengagetkan aku. Kan aku jadi kaget," cengir Mark lagi

Blue mendongkol mendengarnya. Tau gitu ikut Bang Joss aja ke toilet tadi, batin Blue.

"Kenapa kau tadi? Lagi ngebayangin begituan ya sama si..." Blue menaikturunkan alisnya berkata seperti itu. Bibirnya menyunggingkan senyum mengejek. Blue tidak meneruskan kata-katanya. Sengaja.

Mark membelalakkan matanya, "Gila kau Blue. Ngapain aku membayangkan begituan????"

"Ya nggak tau. Kan kau yang..." sebelum Blue menyelesaikan kalimatnya, mulutnya sudah dibekap duluan sama Mark.

"Mulutnya ya..." Mark mendesis.

Blue berontak. Sambil menahan tawa sambil bergelut untuk melepaskan tangan Mark

"Hehhh....ngapain kamu Mark? Nyiksa pacar saya itu...."

Tidak jauh Joss Wayar berlari-lari mendekati kedua sahabat itu. Khawatir Blue kehabisan napas.

Mark melepaskan tangannya dari mulut Blue. Tersenyum menghadapi Joss.

"Habisnya pacar anda itu ya Bang Joss...." kata Mark merajuk.

Joss mendesah. Dia menarik Blue kepelukannya.

"Bang Joss~"

"Nggak pa pa kan, sayang?" tanya Joss khawatir. Dia memeriksa mulut Blue. Khawatir ada apa-apa.

"Yailah Bang...Cuma gitu doang...manja bener si biru," gerutu Mark tidak terima. Ya...ada rasa iri juga melihat pasangan kekasih ini. Tapi separuhnya enek juga liat adegan mesra-mesraan dihadapannya.

Blue nyengir lebar, "Iri bilang bos...kalau mau sana dempel sama si...." lagi-lagi Blue tidak menyelesaikan kalimatnya, malah nyengir makin lebar. Sengaja. Menggoda Mark memang sesatisfying itu.

Mark merengut. Bersiap melemparkan tas tangannya kepada Blue.

Namun sebelum tindak kekerasan dalam studio itu terjadi, seseorang memegang tangannya. Dengan lembut. Mark tentu saja terkejut. Hampir saja dia jatuh karena menggerakkan kepalanya tiba-tiba untuk berpaling kepada si empunya yang memegang tangannya.

Perth Mark OneshotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang