Awan

271 15 5
                                        

Hari ini, seusai Ujian Sekolah. Pak Imam memberikan tugas akhir Bahasa Indonesia yaitu membuat cerita pendek. Kukira, setelah Ujian Sekolah aku bisa menikmati waktu senjaku di kala MTs. Ya, sejak Pak Nadiem meniadakan UN, Ujian Sekolah menjadi ujian terakhir yang kita temui di MTs. Tapi, itu tak menjadi sesuatu yang membuat kita berhenti berpikir tentang pelajaran. Untungnya, aku sedikit menyukai pelajaran Bahasa Indonesia dan cerita yang akan aku buat. Sedikit.


"Assalamualaikum," tulis Pak Imam dalam chatnya. Sebuah chat yang membangkitkan kembali grup WhatsApp yang telah mati selama seminggu sejak kita fokus Ujian Sekolah. Bahkan mungkin akan mati untuk selamanya jika Pak Imam tak mengirim chat itu.


"Alhamdulillah, selamat untuk kalian semua yang telah menyelesaikan Ujian Sekolah, semoga hasilnya bagus semua." sambung Pak Imam.


Tanpa menunggu ada yang merespon, Pak Imam terus melanjutkan chatnya.


"Kegiatan selanjutnya setelah Ujian Sekolah sampai sebelum kelulusan kalian akan ditargetkan untuk membuat karya sastra berupa cerita pendek atau puisi sebagus-bagusnya yang kemudian akan diterbitkan menjadi sebuah buku," sambung Pak imam melalui pesan suara yang masih terdengar sama persis seperti terakhir kali kami bertemu.


"Nggih Pak," balas Sabrina. Si anak rajin di kelas kita.


Seperti biasa, kamu hanya akan diam tak membalas apapun.


***

Masa-masa terakhir kita di MTs diisi dengan berdiam diri di rumah. Mengapa? Haha. Lucu sekali aku menanyakan ini kepadamu yang sudah pasti mengetahui jawabannya. Sesuatu yang bikin kesal, tapi aku yakin di kemudian hari, pasti jadi cerita pamungkas untuk diceritakan kepada anak cucu kita nanti. Emm, maksudnya anak cucu dari generasi kita.


"Cu,"


"Kenapa Kek?"


"Tau ga? Kakek dan Nenek dulu waktu masih muda pernah ngalamin 2 kali kiamat lho."


Kalimat pembuka yang pastinya akan membuat si kakek bercerita panjang lebar, sesekali dihiasi senyum kagum nan imut dari si cucu, kakek yang sejenak berhenti dari ceritanya, menatap wajah si nenek. Keduanya tersenyum bahkan tertawa geli seolah tanpa sebab. Padahal, mereka sedang mengingat masa lalu. Si cucu yang tak tahu apapun ikut tertawa.


Ah, membayangkannya saja sudah membuatku tersenyum, apalagi merasakan suasana itu secara langsung?


Kiamat yang pertama sebenarnya hanyalah sebuah hoax. Hoax terbesar bagi dunia yang saat aku mendengarnya aku masih duduk di bangku kelas 1 SD begitu polosnya dan hanya memberikan senyuman-senyuman kepolosan ketika teman satu kelasku bercerita tentang itu.


Kiamat kedua adalah Pandemi Covid-19. Pandemi yang pertama dan kusemogakan akan menjadi pandemi terakhir yang aku temui. Pandemi yang muncul di awal tahun 2020, menjadikan setengah dari semester kelas 8 bahkan seluruh semester kelas 9 dilakukan secara online.


"Assalamualaikum wr. wb. diberitahukan kepada seluruh siswa-siswi MTsN 1 Kebumen, menindak lanjuti surat dari Pemerintah Kabupaten Kebumen, maka kegiatan belajar mengajar di madrasah kita akan dilaksanakan secara daring selama 14 hari ke depan. Untuk informasi lebih lanjut, akan menyusul melalui surat yang akan segera dibagikan. Demikian pengumuman yang dapat kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih," ucap Pak Giro dengan suara bassnya terdengar dari pengeras suara madrasah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 30, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AwanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang