PROLOG
.
.
CMHOUSE, kepulauan anambas.
Pukul satu dini hari.
Seorang pria berpakaian serba hitam juga masker sebagai penutup wajahnya, sedang bertengker seorang diri di balik semak semak yang mengarah pada sebuah rumah besar.
Dirinya sedang sibuk mengatur posisi senapan jenis sniper, agar bisa menembak dengan pas ke arah target.
Tak lupa, memasukan peluru kedalamnya.
Pria tersebut adalah Seorang pembunuh bayaran yang memiliki bayaran paling termahal dengan nama samaran, Mr. J.
Ia tidak pernah gagal dalam membunuh targetnya dengan cara apapun. Ia juga tidak pernah tertangkap karena pekerjaannya itu.
Dia pria yang dianugrahi ketampanan yang luar biasa namun, tetap memilih untuk menjadi seorang pembunuh bayaran hebat.
"Dia Seorang wanita. turun dari mobil mercendes benz, Bajunya coklat, rambutnya panjang juga hitam kecoklatan." Ucap seseorang di balik telefon.
"Bunuh dia." Jedanya. "tepat dikepalanya"
Dan pria yang satu ini adalah kliennya yang sudah bekerja sama dengannya selama tiga tahun.
Mr. J tidak merespon ucapan kliennya meskipun, dia mendengar itu. Dia tetap fokus pada benda yang ada di depannya.
Dirinya juga mencari posisi yang nyaman untuk membunuh targetnya.
"Bersiap siap. Dia akan tiba sebentar lagi."
"Ya" jawab Mr.J tanpa ekspresi.
Suaranya terdengar berat, tegas dan berwibawa meskipun hanya mengeluarkan satu kata.
Dia menunduk saat melihat sebuah mobil melintas dan berhenti tepat di depan rumah besar itu.
tiba tiba sekelompok pria bertubuh besar langsung datang menyambutnya. Mereka semua mengelilingi mobil dengan penuh waspada.
Hal itu tidak membuat Mr.J kesulitan. Ia sudah biasa dihadapkan dengan situasi seperti ini sehingga, ia mampu mengatasinya dengan baik.
Mr.J memfokuskan matanya pada teleskop sniper sembari menunggu sang target keluar dari mobil.
Tak butuh waktu lama, Pintu mobil itu terbuka dengan perlahan diikuti oleh seorang wanita yang baru saja keluar dari mobil.
Angin malam langsung meniup dari arah barat hingga membuat wajahnya tertutup oleh rambut.
Mr.J menarik nafas panjang kemudian membidiknya.
Target lock
Keringatnya bercucuran selagi menunggu wanita itu menyinkirkan rambutnya. Dia tegang sekaligus tidak sabar melepas pelurunya keluar dan mengenai kepala targetnya.
Akhirnya yang ia tunggu tunggu, datang juga. Wanita itu menyinkirkan rambutnya dan memperlihatkan bagaimana bentuk wajahnya.
Wajahnya terlihat sangat tidak asing. Mr.J seperti pernah melihat sosok wanita itu.
Dia berfikir keras, sampai akhirnya mengingat sesuatu.
DEG
DEG
DEG
Tubuh Mr.J mematung seketika. Demi apa apun, Jantungnya Langsung berdebar dengan cepat. Matanya pun melotot.
Dirinya langsung melepas masker yang ia gunakan kemudian mengambil nafas dengan rakus.
Ia bingung, takut, juga khawatir. Perasaanya diaduk aduk hingga menjadi satu. Hal itu membuatnya bimbang.
Ia kembali membidik ke arah target seolah olah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"APA YANG HARUS DITUNGGU?! BUNUH DIA SEKARANG!!" Ucap kliennya dari telefon. Nadanya terdengar penuh amarah.
"Aa- apa dia.. targetnya?" Tanyanya sambil berbisik.
"Ya. Dia targetnya! Tembak! SEKARANG!"
Mr. J menelan ludahnya dengan kasar. Jarinya terasa sangat berat untuk digeraki namun Ia berusaha menarik pelatuk.
Dia kembali memfokusan dirinya namun pikirannya terus menganggu ketenangan dirinya.
Mr. J dihadapkan atas dua pilihan.
Bunuh dia, karena dia adalah target.
Atau
Jangan bunuh dia, karena dia adalah wanita yang ia cintai.
Sungguh, dia tidak sanggup untuk membunuh targetnya. Dia benar benar tidak bisa membunuhnya. Namun, menjadi sebuah keharusan untuk membunuh targetnya itu.
Lalu, manakah yang ia pilih? Membunuhnya atau membiarkan cintanya hidup?
