We shouldn't exist

5 0 0
                                        

If want to get the feeling, very recommendation to use dark mode and
Play song "us-keshi"






Malam di dataran rumput yang luas. Sunyi, hanya perbincangan serangga malam yang ada. Jeno menemani Grace yang sedang ingin mengunjungi tempat ternyamannya. Bersama langit berbintang dan desis angin malam yang sejuk, namun mereka berada di situasi menghangatan yang mereka ciptakan.

"Jen tau ga, bintang yang paling ujung itu bintang yang ada di foto ini."

"Lah bukannya ada di sebelahku?."

Tanya Jeno yang setelahnya mendapatkan pukulan ringan dari Grace.

"Ih gombalan basi."

Gelak tawa mereka menghangatkan atmosfer kala itu.

"Kamu ga perlu jadi bintang buat bisa jadi cinta pertamaku, Grace."

Grace terdiam. Pikirannya sedang mencari jawaban dan memperlihatkan suatu memori yang tak pernah ia sangka.

"hmm?"

"Kenapa?"

"Gapapa,

eh bintangnya mana?"

Kalimat Grace untuk mengalihkan perbincangan sambil menunjuk arah awan yang menutupi bintang.

"Ketutup awan bintangnya"

"Yahhh padahal pengen lihat"
Rengek Grace yang sedih karna awan.

"Bentar lagi pasti kelihatan kok, awannya jalan ketiup angin."

Dan benar, awan bergerak memperlihatkan bintang yang tadi ditutupinya.

"Kayaknya bukan deh Grace"

"Bukan apa?"

"Bintangnya beda sama yang di foto"

Grace tersenyum.

"Sama kaya kita"
Ucap Grace yang tak dimengerti oleh Jeno.

"Maksudnya?"

"Kita, sama kayak bintang itu. Terlihat sama, tapi sebenernya bukan."

"Bisa dijelasin lagi? aku masih ngga paham" Ucap Jeno lembut minta penjelasan dari kekasihnya.

"Kamu sebenernya nggak butuh aku, begitpun sebaliknya. kita harusnya nggak pernah ada, Jen"

"Kenapa? kenapa gitu Grace?"

"I'm not your first love. Cinta pertama yang kamu kira aku, itu sebenernya Gea, temenku. Bukan aku, kamu udah salah Jen."

Ungkap Grace yang hanya dijawab oleh suara serangga malam.

"Seseorang yang membuatku jatuh cinta, itu bukan kamu?"
Tanya Jeno yang hanya dijawab anggukan.

"Semua kenangan yang telah kita buat, semuanya hancur gitu aja because you are not my first love?"

"Maybe"

"I have no problem with that. Meskipun kamu bukan cinta pertamaku, kamu cintaku yang sekarang."

"It's my problem. Do you have feeling to me without the 'first love'? No. Semua itu karna kamu ngira I'm your first love. But i'm not"

"Kamu ngerasa gitu?"

"Yes"

"Itu cuma perasaan kamu aja, aku nggak ngerasa gitu. Whatever you're my first love or no, you are always you. I still love you."

"But i'm not.

Since this, i don't feeling of you without 'first love'. Sorry Jen."

"Okay, understand."

"Be honest, kamu juga kan? kita ngerasaain hal yang sama."

"Mungkin.

mungkin juga nggak."

"Please pikirin lagi sebelum kita terlalu jauh."

"We have, kita udah terlalu jauh buat ngeakhiri ini semua Grace. 3 years is not short time. Apa yang udah kita buat, apa yang udah kita lakuin selama itu. Semuanya kelihatan baik-baik aja, tapi itu bohong?"

"Yes, i fake it.

Kamu juga, semua yang udah kamu lakuin selama ini beda. Seharusnya itu bukan buat aku, itu buat yang lain."

"I'm not"

"Yes, is you Jeno"

Tak ada jawaban, suasana tiba tiba menjadi sunyi, tidak ada kicauan serangga malam dan tidak ada angin yang berhembus.

"That you do to protect me and us, is lie"

"It's gonna be hurt with this, Grace.

Are you feel hurt everytime? Yang kamu rasakan selama ini sakit and i don't know about that. Kenapa baru bilang sekarang?"

"Aku nggak sadar juga. But yes, hurt to know that. Maaf Jen"

Mereka merasakan sakit yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Sakit yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Hari semakin larut dan dingin. Malam yang cerah tiba-tiba terdengar petir yang samar. Tepat sebelum hujan turun




"Kita nggak bisa kayak gini."

"Must we ended?"

"Yes."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 04, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

My AUWhere stories live. Discover now