Yunho sangat panik ketika perutnya mulai terasa nyeri hebat dan dia dengan segera berlari dengan langkah tertatih-tatih. Air ketuban nya pecah, dia mulai bisa merasakan cairan itu mengalir melewati paha dalam dan turun ke betisnya. Yunho dengan cepat menarik handuk dan mengisi baskom dengan air hangat di dalam teko. Kemudian dia mulai berbaring di lantai dengan posisi terlentang dan kaki ditekuk. Dia membuka lebar kedua kaki nya agar memudahkan proses persalinan nya.
Napasnya mulai memburu dan dia benar-benar harus mengatur napas nya dengan baik agar dorongan yang dia lakukan tidak beresiko besar.
Dia mulai dengan menarik napas dan mengejang, kemudian dia kembali mengambil napas dan melakukan hal yang sama hingga suara tangisan bayi mulai terdengar nyaring di telinga nya.
Sejenak dia mengistirahatkan dirinya, kemudian bangun untuk memeriksa bayi nya ; plasenta nya sudah terputus dengan sendirinya. Yunho bersyukur dia tidak perlu memotong plasenta nya.
Itu adalah bayi laki-laki yang mungil, darah segar menutupi seluruh tubuhnya, dan dia memiliki tangisan yang sangat indah. Yunho sangat bahagia melihat bayi nya yang sehat dan tampan. Sebelah tangan nya terulur untuk meraih handuk di samping nya, kemudian membersihkan darah yang menempel di tubuh bayi itu di dalam baskom. Dia tidak memiliki perlengkapan bayi, tetapi dia bersyukur bayi nya baik-baik saja dengan alat perlengkapan seada nya.
Ketika semuanya selesai. Dia memaksakan kedua kaki nya yang terasa sedikit keram (efek setelah melahirkan) untuk berjalan kearah kasur lantai tempat dia biasa berbaring untuk tidur. Dia meletakan bayi laki-laki itu dengan sangat hati-hati dan sesekali menciumi pipi gembil milik bayi nya. Mendendangkan lagu pengantar tidur, agar bayi nya bisa tidur dengan nyenyak. Kemudian, dia berbaring disamping bayi nya, menutup matanya hingga gelombang kenyamanan membawa nya kedalam sebuah mimpi.
***
Pagi yang tidak begitu cerah, membuat dirinya merasa bahwa hari nya tidak akan menyenangkan. Ada banyak sekali pekerjaan yang harus dia benahi, dan dia lelah bertemu dengan tumpukan kertas-kertas gila itu. Di umur ke 21 tahun nya, seharusnya di isi dengan kesenangan dirinya bersama teman-teman, dan perempuan. Sayang sekali, dia harus menghabiskan masa-masa yang seharusnya menyenangkan itu dengan tumpukan dokumen-dokumen perusahaan.
"Bagaimana dengan secangkir kopi?"
Seorang pria bersurai hitam menghampiri meja nya.
"Kau gila? Ini masih pagi. Asam lambung mu akan melonjak seperti kurs dolar saat ini." balas nya sedikit kesal.
"Oh ayolah, Mingi. Kita tidak bisa terus melakukan hal ini dan membiarkan masa-masa muda kita hilang begitu saja." keluh pria bersurai hitam itu seraya mengibaskan rambutnya. "Bagaimana dengan perempuan yang kau sewa semalam?"
"Aku tidak menyewa siapapun." jawab Mingi acuh.
"Aku ingin satu."
"Perhatikan omongan mu Mr.Choi." suara nyaring tiba-tiba bergabung kedalam obrolan. Sesosok pria mungil bersurai cokelat memasuki ruangan dengan langkah elegan, memamer kan bagaimana indah nya tubuh molek miliknya dalam balutan kemeja beludru biru yang nampak sangat cocok dengan warna rambutnya. "Aku bisa saja membuat San kecil mu itu merasakan siksaan yang pedih."
"Jung Wooyoung, dengan segala hormat, bisa kah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?" Mingi bertanya kepada lelaki mungil yang berparas seperti perempuan itu.
"Jika aku bisa membuka nya sendiri, untuk apa mengetuk terlebih dahulu? Kau membuat waktu ku terbuang-buang hanya untuk menerima balasan 'silahkan masuk'." jawab Wooyoung skeptis lalu berjalan kearah Mingi yang tengah duduk dibelakang meja kebangga an nya. "Aku ingin meminta bantuan.." lirih si mungil.
Mingi mengerutkan keningnya lalu menoleh untuk menatap San yang berdiri disamping Wooyoung. "Kau sudah mempunyai San, mengapa meminta bantuan kepada ku?" kata Mingi.
Wooyoung berdecak kesal mendengar respon tidak perduli dari Mingi, dia menghentakan kaki nya kesal. "Bukan seperti itu. San juga tidak akan bisa membantu ku jika kau tidak ikut campur."
"Maksud mu, aku harus ikut campur agar suami mu itu bisa membantu dirimu?"
Wooyoung mengangguk aktif. "Ya. Benar sekali." katanya.
"Ada apa?"
"Bantu aku untuk menemukan kakak tiri ku." kata Wooyoung final.
Mingi kembali mengerutkan keningnya bingung. Terkadang, Wooyoung bisa menjadi orang yang benar-benar tidak masuk akal. Meminta hal-hal yang tidak mungkin ada dan tidak mungkin dilakukan. Mingi benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa sahabat nya, Choi San bertahan disamping Wooyoung dalam waktu yang cukup lama.
Wooyoung menggigit bibirnya ragu kemudian menoleh kesamping, menatap suami nya. Meminta bantuan penjelasan. "Aku tahu kau bingung dengan semua ini. Aku ingin sekali menjelaskan nya kepadamu."
"Kalau begitu jelaskan kepadaku."
Wooyoung mendesah berat. "Aku akan menjelaskan nya kepadamu, nanti." kata Wooyoung dengan nada serius dan sedikit memohon. "Tolong aku. Bantu aku untuk menemukan dirinya."
Mingi bangkit dari duduk nya. "Siapa nama nya?" tanya nya seraya menyambar ponsel miliknya di atas meja.
"Yunho. Jung Yunho."
Mingi membuat panggilan. "Cari seseorang, bernama Jung Yunho." katanya singkat lalu dia memutuskan sambungan telepon.
***
Terimakasih telah berkunjung dan membaca^^
Aku harap hari kalian menyenangkan^^
Terimakasih untuk vote dan komentar kalian^^
J
ESTÁS LEYENDO
HUNT || [Mingi x Yunho] ✅
Fanfiction[COMPLETE] Pria misterius itu selalu hidup didalam kegelapan. Semua orang mengetahui namanya. Semua orang mengenal dirinya. Siapa yang tidak mengenal Hunt? Dia sangat ketakutan. Dia hanya ingin hidup dengan tenang. Dia sudah menerima banyak perlaku...
![HUNT || [Mingi x Yunho] ✅](https://img.wattpad.com/cover/267904449-64-k140682.jpg)