Lucien Min-jae Vale
Los Angeles tidak pernah belajar berbicara pelan.
Kota ini lahir dari cahaya, dari kamera, dari orang-orang yang ingin dilihat sebelum sempat menjadi siapa pun. Udara di bulan itu sudah mulai kasar — panas yang menempel di aspal, di kaca mobil, di leher orang yang terburu-buru. Lucien membencinya dengan cara yang sopan. Bukan marah. Hanya menjauh. AC di mobilnya selalu lebih dulu hidup daripada mesinya. Tirai rumahnya jarang terbuka siang hari. Ia alergi panas, dan kota yang memujanya justru dibangun dari matahari.
Di luar pagar, lensa sudah menunggu seperti kebiasaan lama. Bukan karena ada skandal. Karena ada wajah.
Wajah itu — pirang dari ayah Inggris-Canada-Rusia, tulang halus dari ibu Korea-Thai — sudah berhenti menjadi milik satu orang. Billboard di Sunset, cover di Eropa, kampanye di Seoul, poster di bioskop yang antriannya membelok sampai parkir.
Dunia menyebutnya ikon. Orang-orang yang pernah berdiri satu meter darinya menyebut hal yang lebih berbahaya: ia lebih cantik di kehidupan nyata, suaranya rendah, senyumnya tidak dipasang, dan wanginya tidak bisa dilupakan. Jasmine. Mawar. Musk. Sedikit baby powder, seperti seseorang yang baru selesai dimandikan dunia, lalu diminta tetap menjadi laki-laki.
Ia laki-laki.
Itu yang sering dilupakan orang ketika mereka terlalu lama menatap.
Lucien Vale menunggang kuda di pagi yang masih dingin, menembak dengan napas yang rapi, menari seperti tubuhnya ingat musik sebelum otaknya sempat memerintah. Ia menyanyi kalau diminta, bermain piano kalau ruangan terlalu ramai, makan salad atau makanan Korea dengan sikap orang yang tidak perlu membuktikan kaya. Matcha di pagi hari Cokelat di malam hari,yang berhasil ia dinginkan. Biru, putih, coral di lemari yang ditata seperti palet, bukan pameran.
Single.
Bukan karena tidak ada yang mau.
Karena terlalu banyak yang menyukainya
bayangan yang mereka buat dari tiga detik kesopanannya.
Malam sebelum semuanya pecah, ia pulang dari studio dengan kemeja putih yang masih menyimpan wangi rumah. Kota di belakang kaca terlihat seperti perhiasan yang terlalu panas untuk disentuh. Seorang paparazzi berteriak namanya.
"LUCIENNNNN",Teriak Salah Satu Dari Mereka.
Lucien tidak menoleh. Ia hanya menutup pintu dengan tangan yang tenang, seperti orang yang sudah lama tahu: dunia akan terus memuja dia dengan siapa pun yang kebetulan berdiri di sisinya.
Besok, tiga meter dan satu pintu mobil akan cukup.
Internet akan menggelar pesta.
Dan Lucien Min-jae Vale, It Boy Los Angeles yang baik, lembut, ramah, dan terlalu terkenal untuk menjadi milik siapa pun, hanya akan menuang matcha ke gelas dingin — lalu membiarkan wajahnya, sekali lagi, melakukan sisanya.
YOU ARE READING
THE VALE
RomanceLucien Min-jae Vale, 25, born in Los Angeles to an English-Canadian-Russian producer and a Korean-Thai former supermodel, grows into a blonde world-icon face - model, actor, it boy - manly on camera but baik, lembut, and ramah in real life, smelling...
