بسم الله الرحمن الرحيم " Perempuan -perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki- laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula) Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk permpuan yang baik, dan laki - laki yang baik untuk perempuan - perempun yang baik (pula)". (Q.S. an-Nur:26)
Tarhim sebelum subuh : * اعوذبالللهمنالشيطانالرجيم , بسماللهالرحمنالرحيم* الحمداللهالذاحيانابعدمااماتناواليهالنشور الصلاة و السلامعليك* ياامامالمجاهدين* يارسولالله *
"Mendekati subuh ternyata" sadarnya yang sepertinya terlelap usai solat tahajud. Ummu zakiyatal fakhiroh, biasa di sapa Ummu seorang santriwati asal Pekalongan yang berusia 18 tahun. Ummu baru dua tahun lebih menetap di darul quran. dirinya adalah wanita yang sopan dan lemah lembut, jadi tidak heran jika dirinya sudah terpilih menjadi ketua kamar untuk tahun ajaran baru. "Suara yang sama" Ummu kembali mengingat suara itu. Entahlah sudah hampir satu minggu ini dia mengamati suara sang Tarhim, dia pasti tidak mengenalnya, dan lagi pula dirinya sangat tidak ingin memikirkan tentang seorang lelaki hanya untuk mengganggu kefokusan dalam menghafalnya.
Darul quran Kudus adalah tempat Ummu menimba ilmu, pondok pesantren khusus Tahfidzul Qur'an yang mempunyai target tiga tahun hatam ini di dirikan oleh Abah KH. Ali Al Habsyi dan umi nyai Hj. Zahra Al Habsyi, santrinya terbagi menjadi dua bagian untuk putra dan putri. Menghafal sendiri bukan hal yang mudah, jadi tidak semua santri akan menyelesaikannya dengan cepat. terlebih kemampuan setiap orang pasti berbeda-beda jadi pesan Abah Ali dan umi Zahra adalah tidak usah terburu-buru yang penting lancar. Begitulah pesan yang ummu ingat saat menjalani segelumit masa-masa sulitnya ketika menghafal.
"Sa bangun, kalamunannya sudah di mulai" kaget wanita yang sepertinya lebih tua darinya. "Iya.. iya..mba Ummu" Lantunan kalmunan masih terdengar merdu memenuhi ruangan aula depan, tengah dan belakang. Beradukan dengan suara-suara santri Wati yang berciri khas masing-masing. "Kalamun qodimulla yumallu samaauhuu * Tanazaha angqouli wafi'ili wa niyyatii" Usai kalamunan para santri Wati kembali di sibukkan dengan kegiatan tartilan harian yang setiap kelompoknya berjumlah 3 sampai 4 orang dengan kedapatan membaca kacaan masing-masing.
"Ummu Al-fakhi" bagitulah panggilan khusus mba fina. seorang abdi ndalem yang sering mengajaknya untuk membantu pekerjaan ndalem, baginya itu bukan hal yang berat. Langkahnya terhenti saat hendak keluar aula, Senyum simpulnya terukir, Ummu memutarkan badannya menuju seseorang yang berada di belakangnya. "Dalem mba" "Mu, punten tolong bantuin mba yuk !" Pintanya masih dengan senyuman mengembang. "Oh gitu" Ummu mengangguk paham dengan apa yang di jelaskan mba fina secara rinci.
Ruang tengah yang berukuran cukup luas ini terlihat sepi, dengan perpaduan warna cat yang berdominn crem yang terlihat sangat baik. bahkan setelah satu Minggu ini dia baru saja menetap di rumahnya setelah lima tahun terakhir menetap di Maroko mebuatnya merasa rindu akan asramanya yang dia tinggalkan. sejauh mata memandang sosok yang di carinya bahkan tidak terlihat. "Assalamualaikum" suara di balik pintu masih dapat terdengar walaupun jaraknya yang lumayan jauh. Fahad membuang nafasnya kesal, dirinya yang sibuk mencari uminya malah harus di hadapkan oleh seorang tamu. "Waalaikumsalam" "Punten, ini baju kokonya Gus" pandangan Ummu masih terfokus pada lantai yang di tatapnya, tanpa beranjak sedikitpun kepada sosok yang berada di hadapannya. Mba fina yang menyuruhnya lantaran ada kepentingan pribadi yang harus dia hadapkan. Ini jelas bukan hal yang buruk toh sekedar mengantar pakaian karena kepepet akan di pakai untuk solat Jumat. Namun tak di sangka ternyata bukan umi Zahra yang menerimannya. Entahlah Ummu tidak terlalu paham dengan wajah pria ini. "Matur nuwun" ujarnya Singkat jelas, lalu beranjak pergi dengan wajah yang lebih banyak menunduk itu.
"Fahad tadi mba fina sudah datangkan, mengantarkan pakaian" ujar uminya, Zahra baru saja masuk melalui pintu belakang. "Nggeh umi mpun" seingatnya wajah mba fina beda dengan perempuan tadi. Sudahlah itu tidak terlalu penting untuk di pikirkan."Matur nuwun Umi, Fahad akan bersiap-siap untuk berangkat jumatan". " Baiklah abahmu juga akan berangkat bersama katanya".
"Allah hu Akbar, Allah hu Akbar" Ummu menyipitkan matanya, menatap daun kering yang mulai berjatuhan tertiup angin, "masih sama saat Tarhim" mendadak saja wajah cantik ini menarik senyumnya, singkat namun siapa tahu agaknya dia terlalu peduli pada suara yang satu Minggu ini selalu mengetuk relungnya.
Jemari Fahad menaruh kembali benda kecil yang sudah di pakainya untuk mengumandangkan azan, sejenak kemudian dirinya kembali meraih benda kecil itu lalu beranjak berdiri untuk azan Jumat yang ke dua kalinya.
Mohon maaf ya ini cerita pertama saya jadi maaf atas segala kekurangan.
🤗🤗🤗🙏🙏🙏
Visual Gus Fahad 🤍
Rất tiếc! Hình ảnh này không tuân theo hướng dẫn nội dung. Để tiếp tục đăng tải, vui lòng xóa hoặc tải lên một hình ảnh khác.
Visual Ummu 🤍
Rất tiếc! Hình ảnh này không tuân theo hướng dẫn nội dung. Để tiếp tục đăng tải, vui lòng xóa hoặc tải lên một hình ảnh khác.
Lanjut part selanjutnya kawan See you, jangan lupa vote oke supaya saya tambah semangat 🥰🥰🥰.