12.56
jaemin mengetuk jarinya keatas meja berulang, kebiasaan yang selalu ia lakukan kala gelisah dan panik. ia berulang kali melirik arloji yang melingkar apik di tangan kirinya. makin kalut kala waktu telah berlalu lebih dari dua jam sejak ia mulai menunggu.
inhale
exhale
si manis berusaha mengatur nafasnya. "panik hanya akan memperburuk keadaan" terus jaemin rapalkan dalam hati sebagai sugesti untuk tetap tenang.
tiba-tiba kursi di depannya ada yang menduduki. jaemin mengangkat dagu dan menemukan sang kekasih duduk bersebrangan dengannya.
"maaf aku terlambat"
terlampau singkat untuk seseorang yang terlambat hampir tiga jam dari waktu yang dijanjikan. tetap saja jaemin memaksakan sebuah senyum.
"hampir tiga jam jen, kau bahkan tidak menjawab satu pun pesanku, tidak mengangkat telponku. tidakkah kau berkenan memberikan alasan dibalik keterlambatanmu?"
jaemin berusaha agar suaranya tidak terdengar bergetar.
"macet. kau tahu sendiri seperti apa jalan tol di hari kerja. mengertilah dan berhenti berpikir berlebihan"
jeno tahu skenario apa yang ada di kepala si manis. jaemin dengan segala overthinkingnya akan berpikir kalau jeno sengaja. jaemin akan berpikir kalau jeno telah muak padanya. sedikit banyak jeno menyesali perkataannya yang terdengar sinis. namun macet panjang benar-benar manghancurkan moodnya siang itu.
jaemin menunduk. makan siangnya terasa hambar. terlebih ketika jeno memberikan tatapan jengah saat mengetahui jaemin hanya makan beberapa suap.
suasana mobil terasa sunyi. hanya ada suara radio yang tengah memutar lagu berlirik sendu. jaemin meremas tangannya. berbagai spekulasi bermunculan tanpa bisa ia cegah.
"jeno akan membenciku setelah ini. jeno tidak mencintaiku lagi. aku hanya pesakitan yang menyusahkan. jaemin bodoh."
jeno tahu kekasihnya tengah kalut. ia bukannya tidak peduli. namun sekali saja ia ingin jaemin menuntaskan sendiri masalah dengan pikiriannya. jadi jeno memilih diam.
16. 38
sampai di rumah yang mereka tinggali selama lima tahun lamanya, setelah singgah ke beberapa tempat. jeno masih bungkam. ia membiarkan jaemin masuk dengan tergesa dan buru-buru ke kamar mandi.
di dalam kamar mandi jaemin terisak sampai dadanya sesak. ia terus menangis sambil memukul tubuhnya sendiri berulangkali. setiap pukulan melambangkan rasa benci jaemin terhadap dirinya sendiri. ia benci keadaan yang membuatnya menjadi seperti ini. namun ia lebih benci dirinya.
trust issue dan anxiety. itu hasil diagnosa psikiater jaemin tiga tahun yang lalu. menjelaskan mengapa jaemin selalu butuh diyakinkan. mengapa jeno harus selalu membuktikan cintanya. jaemin memiliki kesulitan dalam mempercayai seseorang. dan jaemin tidak bisa menjelaskan betapa hal itu begitu menyiksanya.
jaemin kadang tidak bisa tidur. sampai tengah malam pikirannya hanya dipenuhi dengan berbagai skenario buruk. ia khawatir pada hal-hal yang bahkan belum terjadi.
di saat seperti itu, jeno akan terbangun dan menenangkan kesayangannya. membawa jaemin ke dalam pelukan. mengajaknya mengobrol mengenai banyak hal agar pikiran jaemin teralihkan. kemudian mengecup pelipis dan bibir ranum jaemin saat si manis akhirnya tertidur.
20.29
"kau tahu? kurasa kau harus mengatasinya sendiri kali ini. aku tak mungkin selamanya berada di sisimu. aku mencintaimu sayang percayalah. namun kau perlu tahu aku juga bisa lelah"
jaemin bergetar kala rungunya menangkap kalimat jeno dengan jelas. air mata mulai menggenang dan jaemin berusaha keras agar tidak meneteskan satu pun depan jeno.
"jeno sudah cukup menderita karenaku"
setelahnya terdengar suara pintu tertutup diikuti suara mesin mobil jeno yang menjauh. jaemin terduduk di lantai terisak, lagi. kali ini ia mengutuk dirinya. kekasihnya menderita. bagi jaemin, tinggal menunggu waktu hingga akhirnya jeno memilih untuk pergi karena muak.
03.10
rumah itu terasa begitu kosong ketika jeno masuk. awalnya ia berencana untuk pulang setelah matahari terbit. namun rasa khawatir menguasai dirinya. jadi disinilah ia sekarang. berjalan perlahan menuju kamarnya dengan jaemin.
senyum kecil tersungging di bibir tipisnya saat mendapati sang kekasih terlelap di kasur mereka. jeno mendekat tanpa suara agar jaemin tidak terbangun. tangannya ia bawa untuk mengelus helai halus jaemin yang terlihat begitu tenang. terlampau tenang.
ada yang tidak beres disini.
jantung jeno berpacu saat merasakan dingin pada pipi jaemin. ini tidak mungkin. jeno tahu persis kekasihnya hangat dalam artian harfiah. jeno menyibak selimut abu-abu yang membungkus tubuh jaemin.
saat itu pula jeno merasa dunianya hancur.
jaemin terbaring dengan irisan mendalam pada pergelangan tangan kirinya. darahnya hampir mengering di kasur. jeno tidak bisa lagi berpikir jernih. diangkatnya tubuh ringan jaemin kemudian berlari ke mobil.
jeno memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. sesampainya di rumah sakit, jaemin langsung ditangani oleh dokter jaga. jeno duduk di depan ruang gawat darurat dengan jemari bertaut. memanjatkan doa tanpa henti, berharap masih ada kesempatan kedua bagi mereka. bagi jaemin untuk tetap hidup, dan bagi jeno untuk memperbaiki segalanya.
03.56
semesta jeno luluh lantak saat dokter mengatakan bahwa jaemin sudah tidak bernyawa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
jika saja jeno mau bersabar,
jika saja jeno mau menunggu lebih lama,
jika saja jeno memilih untuk tinggal.
END
YOU ARE READING
Jika Saja ll NOMIN
FanfictionJika saja hari itu Jeno memilih untuk tinggal. Jika saja Jeno mau menunggu lebih lama lagi. Jika saja keyakinan tidak hilang malam itu. Mungkin saja, mereka masih bersatu hingga kini. BXB, Lowercase, Homophobe go away. Nomin AU TW⚠️ Selfharm, suicid...
