Desiran angin kencang tanpa permisi langsung menusuk pori-pori yang membuat banyak makhluk hidup merasakan hawa dingin. Langit sore hari ini sedang mengumpat hebat, menandakan sebentar lagi akan datang gemuruh hujan deras. Aku yakin besok akan banyak absen bertanda 's' bertebaran dengan alasan sakit.
Vokal merdu petir menjadi pembuka sebelum rintik-rintik hujan membasahi bumi. Tapi maaf ya, aku memilih untuk menyumbat pendengaran ku menggunakan earphone yang telah terhubung sempurna dengan ponselku. Mendengarkan suara Feby Putri lebih membuat tubuhku rileks ketimbang air yang menyerbu dataran tanah.
Ruangan dipenuhi dengan gema ribut dari barang-barang ku yang bersiap dimasukkan ke dalam tas bernuansa merah marun dan hitam. Kondisiku saat ini ialah sendirian dikelas, ditinggal dalam tanggung jawab piket. Seluruh penghuni sudah ogah menginjakkan kakinya ketika bel pulang kesukaan bernyanyi.
Rajin? Tidak juga, sebenarnya terpaksa. Sangat sangat terpaksa. Siapa lagi pelakunya kalau bukan 5 nama lain yang tertera di jadwal piket—tertempel didepan pintu kelas—dan seenaknya melempar tanggung jawab dengan alasan bervariasi seperti varian roti.
Untungnya hari ini tas ku tidak tersiksa dengan bawaannya sehingga masih aman di gendong walaupun pundak ku pegal. Aku menutup pintu dan memastikan jika pintunya tertutup rapat, urusan mengunci adalah tugas satpam sekolah. Lalu aku berjalan cepat di koridor yang telah sepi lalu lalang kecuali beberapa petugas sekolah. Sampai diujung koridor yang mendekati gerbang, aku tidak bisa berjalan lebih dari itu karena tidak mau mengambil resiko di guyur hujan dan berakhir membasahi segala yang aku kenakan.
Aku sibuk memencet benda berlayar itu untuk memesan taksi online. Pandangan ku terpaku pada angka yang terpampang di atas barisan notifikasi layar ponselku.
Pukul 16:27 WIB.
Ah ini sudah sore banget.
Batinku berdecak sebal karena air-air ini tak kunjung menampakkan tanda berakhir.
Selang beberapa menit, taksi yang kupesan belum juga sampai di hadapan setidaknya didepan gerbang sekolahku. Dalam peta digital menunjukkan jika sang pengendara sedang terjebak kerumunan macet.
"Mau pulang..."
"Ngga bisa pulang?"
Eh?
Tanpa ragu aku langsung mencari sumber suara, tak butuh waktu lama ditemukan berada dibelakang tidak jauh dari tempatku berdiri. Sosok lelaki bertubuh tinggi memakai hoodie hitam dengan tas yang senada. Aku lantas mengangguk kecil sebagai jawaban atas pertanyaannya tadi.
Oh ya, aku lupa bilang kalau earphone yang kupakai rusak sebelah. Jadi aku tetap bisa mendengarkan suara lain walau dua-duanya terpasang di telingaku.
Sosok lelaki itu memposisikan diri tepat di sampingku, tidak ada alunan lain kecuali suara hujan yang memenuhi atmosfer. Aku masih sibuk menekan-nekan ponselku, sedang bertukar kabar dengan pengemudi taksi. Mendapati bahwa sebentar lagi akan tiba di tujuan. Leganya.
"Lagi pesan taksi?"
Aku mengangguk, namun mengabaikan tatapannya.
"Gue juga lagi nunggu jemputan."
Mungkin dia mengharapkan jawaban tapi menurutku itu adalah pernyataan yang sudah tidak memerlukan jawaban lagi.
"Lo ngga banyak ngomong ya."
Aktivitas ku terhenti, meluangkan waktu untuk beralih menatap keberadaannya. Pandangan kami bertemu, dia memasang wajah datar dan aku pun demikian. Aku tidak akan bertanya suasana apa yang menyelimuti pada saat ini. Karena kebingungan ku sedari tadi tidak mempunyai energi untuk hal itu.
"Memangnya kenapa?"
"Ngga apa-apa, cuman, gue ngga suka canggung."
Loh itukan urusan anda.
Aku hanya bisa ber-oh-ria daripada sosok ini terus mencari jawaban diantara celah suaraku.
Kami kembali diam. Lagi. Hanya suara hujan.
"Lo dengerin apaan, sih?"
Tanpa izin, tanpa permisi, tanpa sopan santun. Dia mencopot salah satu earphone yang sedang kupakai dan menempelkannya—hanya ditempelkan bukan memasang— ditelinga sambil menunduk.
Aku? Tentu saja, kaget bukan main. Orang ini kenapa, sih?!
Terlebih lagi, yang dia ambil adalah earphone yang aku maksudkan, rusak. Dan sudah dipastikan dia akan bertanya;
"Loh, kok ngga ada suaranya?" dia menjauhkan earphone-ku dan menampilkan ekspresi kebingungan sendiri.
"Taksi online atas nama Asya!" Tiba-tiba teriakan dari arah gerbang membuyarkan adegan ketidakwarasan orang ini dan aku langsung bergegas berlari tidak peduli basah asalkan aku bisa bebas. Jujur saja, suasana tadi membuatku tersiksa secara batin. Berurusan dengan orang seperti dia sangatlah sebuah nasib buruk.
Namun entah darimana datangnya keinginan tak terencana ini. Aku sontak berseru kepadanya dari depan pintu mobil taksi.
"AKU LAGI DENGERIN SUARA JANGKRIK!"
Tidak ingin tahu lanjutannya akan seperti apa, aku menutup pintu dan disusul oleh lajunya mobil taksi yang aku tumpangi.
Jarak rumah dari sekolahku lumayan jauh, sementara menunggu sampai, aku berfokus mendengarkan lagu yang terputar secara acak di playlist aplikasi musikku. Berusaha melupakan kebodohan dan kejadian-kejadian yang membuat suasana hatiku campur aduk. Aku tidak bisa berpikir jernih, hanya bisa berlarut dalam irama yang seirama dengan tiap-tiap detak tanda kehidupanku.
Sialnya ingatanku tidak bisa lepas dari kejadian 10 menit yang lalu. Aku membayangkan reaksinya yang tidak bisa dijelaskan. Heran dengan tingkahnya membuatku tidak bisa memproses semuanya dengan instan termasuk aku harus berekspresi seperti apa. Bahkan dia sudah menodai earphone-ku—walau yang dia ambil adalah bagian yang rusak—dengan hampir memasangkannya di telinga! Syukurlah dia mungkin mengerti jika earphone akan menjadi media berbagi kuman dan bakteri kalau saja dipakai bersama.
Aku menghela nafas berat, mencoba untuk tidak membawa hal ini serius dan menganggap angin lewat saja. Namun, aku tidak pernah tahu, jika kejadian singkat ini akan menjadi awalan dari segala perubahan warna langit di hidupku.
— — — — —
Notes
Hai, hai! Makasih ya sudah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita super gaje hasil gabut ini haha! 😹
Karena ini hasil gabut jadi alurnya bakalan random pake banget, so yah, wajar kalo bosen hihi.
See u!
-Yoya
YOU ARE READING
Sebatas Maya
RomanceSang penjangkau hanyalah sebatas pernah tanpa menjadi nyata dalam raga. Aku tahu, meraihnya adalah kemustahilan belaka. Namun kenapa si tuan tanpa majikan tetap bersikukuh memberikan singgasana? Hanya menceritakan tentang seorang pemilik ciri khas...
