Penantian Sang Hujan

9 1 0
                                        

Disuatu hari ada seorang anak yang sedang bertanya pada ayahnya.
“ Yah, kenapa dengan dunia ini? Disini tidak ada air bersih yang layak untuk diminum, hanya ada kubangan air berwarna coklat semata” Tanya si anak. “ tak ada hijaunya pohon yang menghiasi setiap sudut mata, hanya saja setiap aku memandang hanya ada coklatnya pasir dan beberapa sampah yang menumpuk dimana-mana, apakah sejak dahulu dunia selalu dipenuhi dengan warna coklat yah?” lanjut si anak.
Sang ayah hanya bisa tertawa mendengar itu.
Lantas sang anak pun kembali bertanya. “kenapa ayah tertawa? Apakah pertanyaanku ini lucu bagimu yah?” .
“ tidak nak, tidak ada hal lucu dari pertanyaan mu.”
Sang anak semakin binggung dengan ayahnya. Tak seperti ayahnya biasanya. Sang anak pun menatap dalam-dalam mata ayahnya. Seakan sedang bernostalgia dengan kenangan lamanya.
“ayah sedang memikirkan sesuatu sepertinya? Ada apa yah?” tanya sang anak
“ayah hanya sedang bernostalgia dengan masa kecil ayah saja nak” jawab sang ayah. “ayah merindukan masa-masa dimana dunia ini masih berwarna,nak. Dunia yang tak selalu berwarna kecoklatan, dunia dimana masih ada banyak binatang menawan di dalamnya, dunia di mana masih ada gunung-gunung hijau yang berdiri kokoh layaknya sebuah pasak dunia, dan dunia dimana semua orang tidak saling membunuh hanya untuk setetes air.” Lanjut sang ayah.
“bolehkah aku tahu bagaimana dunia masa itu yah?” tanya sang anak yang semakin penasaran dengan dunia masa lalu.
“sangat boleh nak, tapi tunggu sebentar nak, sebaiknya kita mencari tempat berteduh terlebih dahulu, karena matahari semakin menggeluarkan panasnya” sambil melanjutkan langkahnya
“baik yah, aku tak sabar mendengarkan cerita ayah”
Mereka berdua pun melanjutkan langkahnya, mencari tempat berteduh untuk istirahat. Sampai akhirnya mereka pun menemukan gua yang lumayan besar.
“sepertinya disana ada gua nak, mari kita kita kesana lagipula hari sudah hampir malam, kita menginap disana saja ya nak”ujar sang ayah.
“ baik yah”
Mereka pun kemudian memasuki gua tersebut. Menyiapkan beberapa makanan yang sudah tak layak, namun bagaimana lagi, dunia tak seperti dulu. Tak banyak makanan yang layak, begitu pun air minum, bahkan untuk bernafas pun sangat sesak. Setelah makan malamyang tak layak, diiringi membaranya api unggun dan suhu yang semakin turun, sang ayah pun memulai cerita masa kecilnya. Masa 40 tahun silam. Masa dimana dunia belum sekarat.
“ mendekatlah nak, ayah akan bercerita perihal masaku dahulu kala.”
“ baik yah.” 
“dahulu dunia ini sangatlah berbeda dengan dunia yang sekarang. Dahulu kala  tepatnya 40 tahun yang lalu ketika ayah berumur 10 tahun, dunia ini masih sehat tidak seperti sekarang.”
“apa yang ayah maksud dengan dunia yang masih sehat yah?” tanya sang anak.
Sambil terkekeh dan mencoba mengingat ingat kembali masa itu, sang ayah pun menjawab. “nak, bersabarlah sebentar, ayah mu ini belumselesai bercerita.”
“maafkan aku yah.”
“sudahlah lupakan” ujar sang ayah. “baiklah ayah lajutkan, yang ku maksud dengan duniia yang sehat itu adalah ketika kau bisa melihat hamparan luas sabana hijau dimana-mana, tumbuhan yang tumbuh subur, banyaknyya lembah hijau dimana-mana, banyak hewan-hewan liar berlarian kesana kemari seakan mengajakmu bermain, dan ketika kamu bangun di pagi hari, kamu bisa melihat luasnya lautan biru di depan mu dan dengan udara pagi yang khas yang akan membuatmu selalu rindu dengan keadaan itu.” Lanjut sang ayah.
Kemudian sang anak pun bertanya kepada sang  ayah.”aku masih belum mengerti yang ayah maksud dengan sabana hijau, lembah dan lautan biru, karena bagiku sekarang  ini semuanya hanya berwarna coklat dan berpasir atau kah yang ayah maksud itu setumpuk pasir berwarna hijau? Dan apakah hijau itu yah?”
“baiklah ayah jelaskan satu persatu, kamu ingat ketika kita duduk dibawah pohon kurma tadi siang?” tanya sang ayah.
"aku mengingatnya yah, yang daunnya sangat rimbun itu?”
“layaknya daun kurma tadi siang, itulah warna hijau dan sabana itu layaknya hamparan padang  pasir diluar sana namun dihiasi dengan hijaunya rerumputan, begitu juga dengan lembah. Lembah itu layak gunung pasir yang kita temui tadi siang namun ditumbuhi dengan beraneka ragam pepohonan yang tinggi menjulang.” Jelas sang ayah.
“lantas apa yang dimaksud dengan birunya lautan,yah? Tanya sang anak.
“laut itu hamparan air yang sangatlah luas namun dengan warna layaknya warna biru pada langit siang hari dan disana kamu tak perlu khawatir air itu akan habis, karena terlalu banyaknya air yang ada di lautan sana, bahkan kamu bisa bermain atau pun berenang bebas disana tanpa saling berebut satu sama lain. Namun air laut itu tak bisa kamu minum, bukannya tak bisa namun butuh proses yang cukup panjang, karena air laut itu rasanya asin dan membuatmu dehidrasi nak.” Ucap sang ayah.
“apa itu rasa asin yah?”. Tanya sang anak.
“asin itu layaknya rasa keringatmu saat keluar bercucuran nak.” Jelas sang ayah.
“oh begitu, lalu kenapa dunia sekarang berubah menjadi gersang dan kotor seperti sekarang yah?”
“itu semua karena kita sebagai manusia tidak bisa menjaga alam sekitar hanya bisa saling merusak. Dahulu kita punya berjuta-juta pohon yang selalu memanjakan mata kita, namun sekarang lihat lah sekelilingmu, hanya ada hamparan gurun pasir dan tanah gersang. Semua itu karena manusia yang hanya bisa menebang pohon namun tidak kembali menanamnya. Sehingga itu berakibat pada lingkungan sekitar, udara yang tidak sesegara dahulu dan bencana banjir dan tanah longsor dimana-mana, karena kurangnya daya serap pada tanah. Kemudian manusia yang membuang sampah sembarang yang mempengaruhi lingkungan sekitar, semisal membuang sampah disungai atau bahkan di lautan yang dapat mencemari air. Air yang biasa kita minum menjadi taklayak minum dan berpengaruh juga pada hewan-hewan sekitar yang tidak sengaja memakan sampah-sampah yang tidak bisa terurai.” Jelas sang ayah.
“lalu apa lagi yah?”
“masih banyak lagi nak, exploitasi dan penggunaan bahan bakarbumi yang secara berlebihan sehinggamencemari udara dan yang terparah  adalah perang. Kamu tau nak, perang adalah factor utama yang mengubah dunia menjadi semacam ini. Karena itu hanya akan merusak alam sekitar kita. Dan kamu tahu nak apa yang mereka perebutkan? Yaitu sumber daya alam yang melimpah di beberapa Negara atau kota. Mereka ingin menguasainya untuk dirinya sendiri.memperkaya diri untuksampai pada kekuasaan tertinggi tanpa memperdulikan sekitarnya. Bahkan untuk mencapai itu semua, mereka membuat senjata-senjata canggih yang dapat merusak sekitar misalkan pembuatan bom  nuklir. Dan kamu tahu nak jarak daya ledak bom nuklir itu berapa?” tanya sang ayah kepada sang anak
“aku tidak tahu yah.”jawab sang anak.
“sekitar 2kilometer bahkan ada yang daya ledaknya sampai 55 kilometer yang dapat meluluh lantakkan sekitarnya, entah itu desa, hutan, kota atau apapun itu. Tidak pandang bulu, ia akan mengahancurkan semuanya, bahkan satu pulau pun mampu dia hancurkan. Dan ketika setiap Negara mempunyai senjata nuklir dan saling berperang menggunakan itu, maka lihatlah disekelilingimu, hanya ada padang pasir, tanah yang gersang, air yang tak layak untuk diminum, hewan dan tumbuhan yang mati, kita memerlukan alat pernafasan ini hanya untuk menghirup udara dan curah hujan yang sedikit. Mungkin itulah karma yang kita dapatkan ketika merusak keseimbangan alam nak.”
“lantas, apakah dunia ini akan kembali seperti dahulu yah?”
“entahlah nak, bisa jadi mungkin atau bisa jadi takkan pernah terjadi, semua itu bergantung kepada manusianya, apakah kita mampu memperbaiki atau kah tidak” jelas sang ayah. “dan juga tergantung bagaimana kita mengendalikan ego kita nak. Oleh karena itu, kamu sebagai generasi penerusku, rawat dan jaga lah alam sekitar. Ketika kau menjaganya, maka ia juga akan menjagamu. Cukup kami generasi terdahulu yang melakukan kesalahan, generasi selanjutnya jangan sampai melakukan kesalahan serupa, ingat itu nak.”
“baik yah, aku akan berusah semampuku untuk memperbaikinya”
“baguslah nak kesempatan itu akan selalu ada, tinggal bagaimana cara kita untukmenjemput kesempatan itu. Mari kita tidur, malam sudah terlalu larut, besok pagi kita harus lekas bernagkat ke oase terdekat, karena air minum kita sudah semakin menipis.”
“baik yah.”

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 20, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Penantian Where stories live. Discover now