Jurnalistik

10 0 0
                                        

Suasana diruangan ini cukup membosankan bagi wanita bersurai coklat yang duduk disalah satu kursi rapat. Ia hanya bisa menghela napas pelan mendengar ketua ekskul jurnalistik menjelaskan tentang kegiatan yang akan mereka lakukan. Lidya memang sedang tidak dalam mood yang bagus hari ini.

Lidya tidak sadar bahwa pada saat ini ada sepasang mata besar yang sedang menatapnya. Benar itu adalah milik Moon Junhui. Pria yang mengklaim dirinya berparas tampan itu sedang duduk diseberang Lidya sambil menatap wanita itu dalam dalam.

Seperti yang dibicarakan orang disekitarnya,Jun merupakan orang yang sangat jahil. Lihatlah apa yang sedang ia lakukan sekarang. ujung kaki jenjangnya sedang berusaha untuk meraih kaki Lidya yang berada diseberang nya.

Lidya yang merasakan seperti ada sesuatu yang menyentuh kakinya dibawah langsung tersentak kaget. Beruntung, orang disekitarnya tidak menyadari gelagat anehnya itu karena terlalu fokus memperhatikan.

Perlahan bola mata Lidya melirik kerarah bawah meja, lalu melihat ada sepasang kaki yang memakai sepatu converse berukuran besar sedang menendang kecil betisnya. Lalu ia dongakan kepalanya lagi untuk melihat siapa pemilik sepatu itu.

Lidya hanya bisa tertawa kecil ketika melihat Jun yang sedang bersender pada kursi sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Bisa-bisanya tatapan matanya mengarah ke papan proyektor disebelah kanan tetapi kakinya sibuk dibawah untuk menendang kecil betis Lidya.

Menatap Jun dengan jahil, Lidya membalas perbuatan Jun dengan menginjak kaki besar pria itu kencang. Si empunya kaki lalu mengaduh kecil karena takut akan mengganggu presentasi. Lalu Jun balik menatap Lidya tajam. tatapan tajam yang meledek tentu saja.

Seperti teringat sesuatu,tiba-tiba saja Jun mengambil ponsel dari saku jaketnya dan seperti mengetikkan sesuatu dibenda pipih itu. Lalu mata besarnya kembali menatap Lidya seperti memberi kode pada gadis itu untuk memeriksa ponselnya. Lidya yang tidak mengerti apa maksud pria itu hanya mengernyit kebingungan.

Tidak berhasil,akhirnya Jun mengerakkan bibirnya tanpa suara. Ia seperti sedang mengatakan sesuatu. butuh beberapa detik bagi Lidya untuk mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Jun. Keadaan Jun sekarang mengingatkan Lidya pada seorang dukun yang sedang komat-kamit membacakan mantra untuk pasiennya.

Baca chat dari saya....

Memahami perkataan Jun, segera Lidya mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja rapat lalu membuka roomchat. ia tekan kolom chat yang datang dari kontak bernama 'Kak jun' lalu membacanya.

Setelah itu masing-masing dari mereka hanya melempar tatapan sambil tersenyum lalu kembali mengetikkan sesuatu di ponsel mereka.

regretsWhere stories live. Discover now