1. PUTRI NESTAPA

10 5 0
                                        

Dahulu, disebuah kerajaan terbesar pada zamannya pernah terlahir seorang putri yang sangat cantik jelita, perilakunya sangat anggun dan penyayang pada siapa pun

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Dahulu, disebuah kerajaan terbesar pada zamannya pernah terlahir seorang putri yang sangat cantik jelita, perilakunya sangat anggun dan penyayang pada siapa pun. Bahkan, pada pelayan pribadinya sendiri yang merupakan temannya sejak kecil, tak pernah sang putri merepotkan pelayannya itu. Putri yang cantik itu merupakan anak kedua setelah kakak lelakinya lahir sepuluh tahun lebih dahulu.

Saat sang raja, ayah dari putri yang cantik itu sedang jatuh sakit di usianya yang menginjak sembilan puluh tahun. Sementara sang putri sendiri sudah beranjak dewasa dan telah memiliki tunangan dari kerajaan tetangga. Sang putri begitu sedih dengan keadaan ayahnya.

Setiap pagi ia datang ke kamar Ayahnya, merawat dan memberi ayahnya makan dari tangannya sendiri. Sampai ia lupa akan merawat dirinya sendiri. Hingga wajah cantiknya tidak lagi terlihat sehat, tubuhnya pun kurus tak berisi.

Sementara sang kakak sibuk berperang. Dikarenakan posisi kerajaan sedang lemah karena sang raja sedang sakit-sakitan, banyak negara tetangga yang berusaha menjatuhkan kekuasaan sang raja. Tunangan sang putri yang cantik jelita pun ikut membantu.

Hingga pada suatu hari, peperangan tersebut telah usai dan di menangkan oleh pasukan kakak lelakinya. Tetapi, bayaran yang diterima sangat mahal. Tunangannya meninggal dalam peperangan.

Sang putri begitu sedih hingga mengurung diri di kamar selama beberapa hari. Tak ada yang berani masuk ke dalam kamarnya, pun kakaknya sendiri tak berani bahkan hanya mengetuk pintunya. Kakaknya sampai menyalahkan diri sendiri.

Karena situasi yang menyedihkan itu, sang raja yang masih sakit-sakitan akhirnya meninggal karena keadaan lingkungannya. Ia begitu sedih karena putrinya yang sedang berduka.

Demi mendengar kabar duka dari sang ayah, putri tersebut berlarian menuju mayat sang ayah yang telah terbujur kaku. Ia menangis begitu kerasnya hingga membuat pilu orang-orang yang mendengar. Hingga tujuh hari berlalu sejak hari pemakaman, sang putri akhirnya memutuskan untuk meninggalkan istana tepat di hari saat kakaknya menaiki tahta.

"Tapi kau akan pergi kemana?" Sang kakak bertanya, berusaha mencegah keinginan adiknya. Ia sendiri tidak sanggup melihat adiknya yang terus berada dalam lingkaran kesedihan.

"Aku akan menyendiri, kak. Dipulau tempat dimana dulu ayah sering mengajari kita berburu." Sang putri menjawab lugas. Ia langsung pergi ke pulau yang disebutkan.

Sang kakak menyuruhnya untuk membawa pasukan yang akan menjaga selama perjalanan dan selama ia berada disana. Namun sang putri menolak tegas. Bersikeras hanya ingin membawa pelayan pribadinya.

Hingga bertahun-tahun lamanya, sang kakak tak pernah berjumpa dengan adiknya. Ia kini menyesal telah mengijinkan adiknya untuk pergi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berkunjung menemui adiknya.

Setiba disana, sungguh miris hatinya melihat keadaan sang adik. Tubuhnya kurus tak berisi, wajah cantiknya memudar tak terlihat lagi semangat dalam hidupnya, kulitnya yang putih dan terasa halus berubah menjadi kecoklatan dan terasa kasar.

Sang kakak kembali ke istana dalam keadaan hatinya menangis.

"Ya, Tuhan. Mengapa kau biarkan adikku hidup dalam kesedihan?" Ia terus meratap sekembalinya ke istana.

Akhirnya, sang kakak memutuskan untuk membuat sayembara. Barang siapa lelaki yang bisa memberikan kebahagiaan bagi adiknya dan berhasil membujuknya pulang ke istana, maka akan dijadikan suami untuk sang putri.

Ribuan pria diseluruh negri tergiur akan sayembara tersebut, namun tak ada dari mereka yang berhasil. Bahkan sebelum mereka dapat mengajak bicara sang putri, semua lelaki itu sudah diusir olehnya.

Hingga datang seorang pangeran dari negeri yang jauh, pun dari kerajaan yang kecil. Bahkan tidak ada yang tahu nama kerajaan tersebut dan letaknya.

Pangeran itu datang menemui sang kakak, ia menawarkan diri untuk membantunya membujuk sang putri. Tapi dia tidak mau dianggap sebagai salah satu dari orang yang mengikuti sayembara yang diadakan.

Sang kakak tidak peduli dengan apa yang dikatakan pangeran itu, yang terpenting baginya ialah agar adiknya bisa kembali seperti semula. Maka pangeran itupun diantar ke pulau tempat sang putri menyendiri.

Disana, sama seperti pria yang lain, sang putri telah mengusirnya. Tetapi sang pangeran tetap berada ditempatnya.

"Wahai, putri. Apakah kau tidak memiliki sopan santun? Bukankah seharusnya anda mempersilakan tamu yang masuk?" Ucap pangeran itu.

Sang putri hanya diam, hingga sang pangeran kembali berkata. "Alangkah kecewa aku jika menjadi ayahmu. Ia tidak berhasil mendidik putrinya bahkan hanya pada hal terkecil sekalipun."

Sang putri menangis ketika mendengar ucapan pangeran yang menyebut ayahnya.

"Untuk apa menangis? Selama kematiannya kau tidak pernah membuatnya tenang didalam kuburnya. Kau terus meratapinya, kau terlalu sibuk dengan kesedihan dirimu sendiri. Tidakkah kau pikirkan bahwa ayahmu sedih karena melihat putri tersayangnya terus meratapinya? Apakah kau tidak tahu bahwa kakakmu saat ini tengah sedih sebab keadaanmu?"

Pangeran itu terus mengatakan hal-hal tersebut. Hingga akhirnya sang putri tersadar, selama ini ia terlalu larut dalam perasaannya sendiri. Kehilangan dua orang yang paling ia sayangi memang begitu menyakitkan, tetapi tidak harus seperti ini jadinya. Seharusnya ia mengikhlaskan kepergian orang-orang yang ia sayangi.

Akhirnya, sang putri pun mau diajak kembali ke istana. Sang kakak sungguh bahagia melihat adiknya mau kembali, bahkan sang adik sudah tersenyum kembali setelah bertahun-tahun lamanya. Sesuai janjinya, akhirnya mereka dinikahkan.

Tetapi, karena sang putri tidak pernah merawat diri selama berahun-tahun ia menyendiri di pulau terpencil, ia jatuh sakit. Walau begitu, suami dan kakaknya selalu berada disampingnya setiap saat. Merawatnya dengan baik, hingga ajal menjemput setelah sang putri mengikhlaskan sepenuhnya kepergian ayahnya. Ia tersenyum saat maut datang, dan berkata dalam hati. "Aku akan bertemu kembali dengan Ayah."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 10, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DONGENG Where stories live. Discover now