01. Prelude

405 36 3
                                        

Disclaimer: Cerita dan semua karakter yang tertulis di sini milik saya. Perihal visualisasi karakter, saya hanya meminjam visual mereka—tidak ada hubungannya dengan kehidupan asli tokoh yang bersangkutan/tokoh yang dijadikan visualisasi. Tulisan ini hanya sebagai hiburan semata sekaligus kesenangan pribadi, tidak bermaksud untuk mencemarkan nama baik pihak manapun, semua yang tertulis di sini bersifat fiktif. Diharapkan kebijaksanaan pembaca.

Summary: Sepanjang garis antara aku dan kamu adalah kerinduan yang disamarkan. Sedang, rintik-rintik hujan menjadi saksi bisu kisah kita.

Warning! Tulisan ini mengandung tema dan muatan konten dewasa. Bagi pembaca yang belum cukup umur atau tidak nyaman dengan konten tersebut, dianjurkan untuk TIDAK MEMBACANYA. Diharapkan kebijaksanaan pembaca.

Perempuan itu membisu, netranya asyik mengamati tiap guguran rintik-rintik bunga salju tergambar jelas dari balik jendela yang menjadi sekat antara dirinya dengan dunia luar. Seolah-olah manik madu miliknya itu bisa mengindra apa yang tersembunyi di balik rinai lembut keputihan, berguguran lantas menjelma pada kenangan yang tak ingin diingat. Sesungguhnya, ia sendiri tak tahu apa yang dilakukannya saat ini di kedai kopi yang tak jauh dari tempatnya bekerja. Selagi ia menyaksikan bunga salju rontok dan berusaha menyelimuti erat bumi, berangsur-angsur membuat tanah berubah warna menjadi putih, pada rentang waktu yang bergulir itu pula, melodi akan kenangan-kenangan yang begitu menyesakkan dada masuk tanpa izin wanita bersurai cokelat gelap bemantelkan warna pastel tersebut.

Tak ingin ingatan akan masa lalunya terkorek lebih dalam lagi, wanita cantik itu memilih bangkit dan meninggalkan kedai, untuk membelah hujan salju yang sudah siap membelainya dengan kenangan tanpa ampun, mempermainkan perasaannya atas nama takdir. Ia enggan ambil pusing atas guyuran hujan renyai yang telah menelisik detail tubuhnya, ditundukan kepalanya sambil mengeratkan pegangan pada tas selempang di bahu kanan. Indra pendengarannya menangkap langkah seseorang mendekat ke arahnya, ia memejam tatkala jantungnya berpacu lebih dibandingkan biasanya, sedang bibirnya berkomat-kamit tanpa suara.

“Wendy!” panggil orang itu cukup lembut dengan menepuk bahunya. Baritone itu sukses memecah konsentrasi perempuan yang membiarkan surai panjangnya tergerai, lembar memorinya masih mengingat jelas bahwa dirinya tak ingin lagi bertemu dengan sosok itu, sebagaimana ia melontarkan sumpah serapah pada bajingan itu. Namun, malam ini, takdir benar-benar mempermainkan perasaannya, semuanya tercampur dengan sempurna. Wendy yakin bahwa sosok yang memanggilnya beberapa saat lalu adalah figur yang sama dengan lima tahun lalu, bajingan yang sudah merusak kehidupannya.

“Andrian Aleshin,” gumam Wendy mendesis, buku-buku tangannya yang tidak terlapisi kaos tangan itu memutih. Segala afeksi yang dengan susah payah ia kubur itu kembali mengudara dan hinggap. Tubuhnya bergetar dan likuid bening perlahan turun, menapaki pipi mulusnya yang kini bersemu merah kedinginan, “seharusnya aku membencimu. Tapi, yang terjadi ... diriku selalu merindumu, meskipun kau membenciku,” lanjutnya terisak, mengakibatkan gerakan seolah mengangguk berulang.

Paham dengan apa yang dilakukannya lima tahun silam, seharusnya ia tak melakukan hal tersebut pada sosok yang ia cinta. Mengingat apa yang terjadi lima tahun lalu, tepat di hari salju pertama turun di musim dingin, laki-laki berwajah tampan itu tak henti-hentinya merutuki kebodohannya saat itu. Tanpa aba-aba, ia lantas membalikkan badan wanita yang berdiri di hadapannya—membuat keduanya saling bersirobok. Direngkuhnya sosok yang dirindunya sambil berujar, “Aku merindukanmu walaupun aku tahu kau membenciku. Tak peduli seberapa besar kau membenciku, kau tetaplah satu-satunya pemilik hatiku,”

Tetes lara wanita itu pecah dalam dekap hangat sosok yang sudah menjungkirbalikkan dunianya, ia lemah akan sentuhan yang diberikan. Ia tak lagi mampu memperdayai segala negasi yang terlontar dari lidah tak bertulangnya, ditambah pertautan bibir yang begitu ia rindukan, menyapu lembut, dan menyesapi ruang yang ada di dalam rongga mulut Wendy tanpa ampun.

「✔」 Yearning FeelingMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon