aku bertemu dengannya beberapa tahun lalu.
kita berada di ruang tempat latihan yang sama, di agensi yang sama.
aku kira dia seorang yang mudah berbaur, ternyata tidak. setelah latihan dia selalu menunggu semua orang tidur, baru dia akan pergi mandi. lucu.
kita sangat dekat, banyak yang bilang kita seperti anak kembar.
aku selalu membantu dia keluar dari 'zona nyamannya'. bukan bermaksud sombong atau membanggakan diri, tetapi banyak yang bilang begitu.
sering menghabiskan waktu bersama dalam jangka panjang, membuat kita nyaman satu sama lain.
dan membuat perasaanku mulai hadir. perasaan mencintai lebih dari sekadar adik.
aku tidak pernah jujur. belum.
ada banyak pikiran negatif yang menutupi seluruh kepalaku, salah satunya ketakutan kehilangan dia di sampingku.
kita tetap menjalani hari bersama seperti biasanya, dengan tambahan perasaanku yang semakin membesar setiap menitnya.
sering kali ku pandang wajahnya saat dia terlelap di sampingku, sangat manis. pernah sekali aku memikirkan, "bagaimana kalau aku kecup pipinya? atau bibir? atau mata bulat yang indah itu?"
tapi semua runtuh saat aku tersadar bahwa ada batas diantara kita.
bersamanya, hariku semakin berwarna. agak menggelikan memang, tetapi aku berusaha jujur.
dan beberapa bulan kemudian, saat seluruh perasaanku menumpuk memenuhi hatiku, aku mengatakannya.
aku mengatakan kalimat sakral itu sembari menatap telak di netra indahnya.
dia diam untuk waktu yang lumayan lama. hening mendominasi kita berdua.
aku mengumpat di dalam hati, gigiku sibuk menggigit lidah yang lancang mengucapkan kalimat itu.
sebenarnya sudah terbilang biasa aku mengucap, "i love you." padanya. tetapi mungkin didukung oleh posisi yang hanya ada kita berdua dan hawa serius di sekitar.
saat ini yang aku mau hanya dia tertawa terbahak-bahak menganggap semua ini guyonan belaka lalu akan aku susul dengan tawaku. aku sangat malu. teramat sangat.
tetapi, ternyata apa yang aku inginkan tidak terjadi. dia menciumku, di pipi. setelahnya menatap mataku seraya mengucap, "i love you too."
aku menerjapkan mataku berkali-kali, tidak percaya dengan apa yang aku lihat, dengar, dan rasakan. aku berusaha menggigit bagian dalam pipiku, mengetes apakah ini nyata atau tidak.
mataku terus menerjap menatap dia, total bingung dengan situasi ini. sampai saat tangannya menampar pipiku pelan.
dan kita jadian.
KAMU SEDANG MEMBACA
a short story about a long way, tk ✔
Fanfictiona (very) short story in taehyung's pov
