Kopi pahit diatas meja bersemayam.
Rasa sakit masih ada sedari malam.
Banyak motif derita yang beragam.
Perih hadir dari dangkal hingga terdalam.
Kata mu aku sampah.???
Bocah, yang tak berpola pikir???
Yang bisa hanya berkeluh kesah...
Dan masa depan tak mampu ku ukir...
Dengar ya gaiiissss.
Walau tanpa busana tapi aku punya size.
Kalian semua nice.
Kritik aku hingga mati nyaris.
Bringasnya kau perkosa aku dengan perkataan.
Tertindasnya aku yang tak dahulu diberi pertanyaan.
Teruslah kalian mengajak perdebatan.
Hingga kalian lupa akan norma perbedaan.
Ku Senggamai setiap ejekan.
Ditemani rokok-rokok kretekan.
Selami semua kritikan.
Tapi tetap tak ku temui satu pun kebenaran.
Hujan ini deras sudah tak lagi rintikan.
Hati ini jelas terdapat rintik-kan.
Angin bebas bertiup dengan kencangan.
Hati yang lekas membaik kembali kesakitan.
Memang kenapa jika aku mengeluh???
Hal yang aku sukai apa salahnya???
Daripada sebuah hatinya yang keruh.
Tapi bersih dengan penuh rekayasa.
Berucap aku adalah mata keranjang.
Selalu membawakan wanita ku ke dalam topik.
Lalu nyambung pembicaraan ke ranjang.
Dan menyebut aku ini bukan aerobik.
Jika iri itu bilang bos.
Lidah mu berduri macam tangkai rose.
Bukan dalam lomba jadi aku belum lose.
Jati diri ku dzahir tak macam ghost.
Semua celaan yang dilempar sangat menarik.
Kalian anggap hanyalah candaan.
Pesan untukmu yang sikapnya semoga membaik.
Ingat canda tawa dalam mengobrol ada batasan.!!!
Semua manusia tidak sama.
Beda sifat satu dan lainnya.
Jadi jaga selalu lidah anda.
Tanpa sadar dalam canda anda memberi luka.
Keluh kesah ku tulis semua yang tak terbendung.
Berjalan ku teliti hingga takkan tersandung.
Dunia sosial memang hal terbingung.
Salam ceria dari sang perenung.
YOU ARE READING
BATASAN
Non-FictionKisah pilu seorang bocah tanpa bintang yang berjuang untuk menepi dari genangan darah yang anker. Sakit yang nyata adalah sakit yang tak bisa terucap. Tidak ada alternatif lain untuk berucap. Tulisan lah yang menjadi sarana. Aku adalah sang serana.
