prolog

9 1 0
                                        

"SHABIRA!!!"

Gadis yang bernama Shabira itu terkejut mendengar namanya dipanggil, Ia mengalihkan pandangan ke arah suara, matanya langsung terbelalak melihat siapa pelaku yang memanggil namanya.

"Umi, Abi!?" panggil nya rendah

"Ternyata ini kelakuan kamu selama di Jakarta!?" tanya Abinya dingin penuh emosi.

Shabira langsung gelagapan dan tak tau harus berbuat apa, semua pengunjung yang ada di sana memandang ke arahnya.

"Mana jilbab dan pakaian syar'i kamu selama ini? Kenapa pakaian kamu jadi kaya begini!?" tanya Abinya dingin sekali lagi, melihat pakaian Shabira yang terbuka.

Shabira masih tetap diam, lidahnya terasa kelu luar biasa. Netranya tak sanggup melihat Uminya yang telah menangis menahan Abi yang emosi, serta Abinya yang kini seolah mengeksekusinya dengan tatapan marah bercampur kecewa.

"Dan laki-laki ini !" tunjuk Abi ke arah sosok pemuda yang berada di depan meja Shabira, Umi dan Abinya tadi sempat melihat pemuda itu memegang tangan anaknya.

"Kenapa kamu biarkan dia pegang tangan kamu begitu saja! Apa kamu selama ini ngak tau tentang agama?!" tutur Abi sambil menunjuk sosok pemuda tadi. Pemuda itu hanya diam melihat Shabira, seolah mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi.

"Abi ngak sanggup lagi mendidik kamu, dulu Abi ijinkan kamu tinggal di sini, jauh dari Abi. Dulu kamu janji supaya selalu taat sama perintah Allah dan agama. Tapi sekarang apa!?" Abinya mengurut kepalanya, kemudian menggeleng.

"Abi ngak tau lagi apa mau kamu, sekarang kalau kamu masih jadi anak Abi sama Umi, ikut kami pulang!, dan jangan pernah injak kan kaki di jakarta lagi." tutur Abinya tegas.

Shabira yang sejak tadi menunduk, kini mengangkat wajahnya yang sudah berlinang air mata.

"Ngak Bi !, Aku masih mau di sini!, Aku masih mau kerja," jelas Shabira tegas, kini berani melihat Abinya.

"Abi ijinin kamu kerja!, tapi mana janji yang kamu katakan sebelum berangkat ke sini, Shabira!" Abinya mulai tersulut emosi. Shabira menundukkan wajah lagi.

"Sekarang begini saja! Kalau kamu masih Abi anggap anak Abi, sekarang juga kita pulang dan Abi akan segera nikahkan kamu,"

Mendengar itu, sontak Shabira tak terima.
"Abi apa-apaan sih!, Aku ngak mau dijodohin, aku udah punya pacar dan aku sayang sama Revan!,"

"Oh, jadi kamu ngelawan sama Abi? Kamu lebih pilih laki-laki ini daripada orangtua kamu?!," bentak Abinya, sehingga membuat Shabira terus menunduk takut. Orang-orang disekitarnya masih memperhatikan mereka.

"Udah bi," sejak tadi dengan berlinang air mata, Uminya terus berusaha meminta Abi menyudahi perkataannya.

"Kamu anak yang tak tau malu! Berani berkata seperti itu sama orangtua sendiri!," masih tersulut emosi, Abinya mencengkram tangannya, dan berusaha membawanya keluar.

Tapi Shabira sejak tadi berusaha untuk melepaskan cengkraman Abinya,
"Aku ngak mau Bi, aku mau tetap disini!" dengan berlinang air mata Shabira berkata seperti itu, sambil berusaha melepaskan cengkraman Abinya.

Setelah sampai di luar, cengkraman Abinya lepas,
"Apa? Jadi kamu mau pilih tetap di sini! Jalan kamu sudah salah nak! Abi ngak pernah ngajarin kamu kayak gini. Kalau kamu masih anak Abi, ikut Abi pulang!" Abinya tak bisa bersabar lagi.

"Aku mau tetap di sini bi," tutur Shabira dengan suara bergetar.

"Mi, sebaiknya kita pergi dari sini, Dia bukan anak kita lagi!" final Abi.

"Ngak bisa bi, Shabira masih anak kita, Ayu pulang nak," dengan berlinang air mata, Uminya terus membujuk Shabira untuk ikut dengan mereka.

Dengan wajah tertunduk dan masih sesenggukan, Shabira menggelengkan kepala perlahan.

"Ayo Umi," Abinya terus memaksa untuk pergi.

"Abi," panggil Uminya meminta agar bisa membujuk Shabira lagi.

"Jemputan sudah menunggu kita," jelas Abi, yang masih bisa didengar oleh Shabira.

Uminya menganggukkan kepala perlahan,menyetujui ucapan Abinya. Mereka kompak melihat Shabira sekali lagi, kemudian pergi tanpa sepatah kata.

Shabira yang tadi diam, saat ini mberubah menjadi tangisan. Revan-pacarnya tadi yang sejak tadi sembunyi, kini perlahan menghampiri Shabir, kemudian menyentuh pundaknya.

"Sha,"

Shabira masih tetap menangis sesenggukan.


You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 15, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ShabiraWhere stories live. Discover now