HAPPY READING
THANK YOU!
**
Dihadapan semua siswa-siswi kelas sepuluh, sebelas dan dua belas serta para guru. Seorang perempuan berhidung mancung dengan percaya diri menjadi pusat perhatian.
Di atas panggung kecil bersebelahan dengan pembina upacara. Suaranya terdengar menenangkan dan nada bicaranya mulai merendah.
Tampaknya air mata berlinang membasahi pipi. Dengan tangkas punggung tangan terangkat menghapus buliran-buliran bening yang membasahi wajah.
"Contohnya saja Naufal Rifano, di usia yang masih sangat muda. Baru hendak mengukir mimpinya di masa SMA ternyata ia sudah pergi. Bukti hidup itu singkat. Kalau meninggal akan dikenang sebagai apa? Sayangnya beliau belum dikenal sebagai apapun, mungkin keluarganya saja yang bisa kenang. Kita tahu Steve Jobs, Albert Einstein kita tak mengenal mereka, tapi kita tahu kenangannya semasa mereka hidup. Mereka mencetak sejarah melalui perbuatan dan saya sebagai generasi yang baru belajar dan ingin seperti mereka. Saya berdiri di sini mungkin salah satu cara saya untuk mencetak sejarah alias melakukan impian saya. Saya Harap teman-teman semua punya prinsip seperti itu akan hidup ini."
Hari Senin minggu ini merupakan hari terakhir bagi anak kelas dua belas mengikuti upacara. Minggu depan mereka sudah disuguhi dengan ujian nasional. Ujian yang menentukan nasib masa SMA.
Tangisan ganjilnya membuat seorang siswa kelas 12 IPS yang mendadak saja keluar dari barisan. Tanpa membuat upacara tersebut kacau balau dan menyuruk melalui barisan paling belakang.
Siswa yang menyelinap adalah seorang laki-laki berambut gondrong, berjalan ke arah toilet. Ia meraup air lalu membasahi kulit wajah sawo matangnya.
Terdengar suara isakan yang menggema di wc cowok. Sekali lagi menampung air menggunakan tangannya, membasahi muka berbarengan buliran air mata yang sempat tumpah menyatu dengan air.
Tak bisa bohong. Suara tangisnya kencang hingga orang yang berada di depan pintu toilet mendengar. Sontak kaget, ketika membuka pintu matanya melotot menatap sosok yang ditemukannya di depan pintu kamar kecil.
"Ada apa Pril? Lo habis nangis?" Sepertinya cowok berkulit kuning langsat dihadapannya mendengar suara tangisnya tadi. Bisa jadi pun sekarang melihat raut wajahnya yang sendu.
Masih enggan menjawab cowok itu malah memberikan senyum terbaiknya kepada adik kelasnya.
"Gue sepermainan futsal sama lo! Ada masalah? Jangan salah pelampiasan! Jangan adu jotos sama gue!"
Namanya April. Si lelaki jangkung mengangguk mengiyakan ucapan adik kelasnya yang dia kenal.
**
Rambut yang mencuat ke mana-mana, baju seragam yang kusut, tentu tak dimasukkan ke dalam celana. Kaki kirinya terangkat menurunkan standar motor vixion bewarna putih. Pintu garasi bewarna abu sudah ditutupnya. Berlarian cepat masuk ke dalam rumah. Tempat tinggal yang bernuansa minimalis dengan dominasi warna abu dan hitam.
Kunci dimasukkan ke dalam lobang kenop. Pintu rumah sudah terbuka, menyiratkan satu makna bahwa tempat tinggalnya tak ada orang.
April sendirian.
Sepi.
Masuk ke kamar merebahkan tubuh di atas kasur empuknya yang beralaskan seprai Barcelona. Klub sepak bola favoritnya.
Baju seragam sekolah yang masih dikenakan, tangannya tergerak melepas kancing yang menampakkan kaus putihnya. Matanya menatap langit-langit kamar sembari menarik napas kuat, tangannya mengacak-ngacak rambut. Mendadak kepalanya dipenuhi dengan suara yang membuatnya pusing.
YOU ARE READING
IKHLAS
Teen FictionHidup memang unpredictable. Namaku Ninda dikenal sebagai siswa aktif dan cerdas. Yah, kuakui memang kelebihanku dikenal sebagai siswa yang keren abis kata teman-temanku sih. Tapi, timbul dipertanyaan kalian kan. Kenapa aku bisa menjadi siswa sep...
