Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Pura-pura tidak tahu untuk bahagia itu, jadinya bahagia atau pura-pura bahagia?
Aku ingat saat itu umurku baru menginjak 13 tahun. Kehidupanku begitu sempurna. Ayah dan ibu berasal dari keluarga yang berada. Dari yang kudengar, mereka menikah karena dijodohkan. Meski begitu, aku bisa mengetahui bahwa mereka saling mencintai.
Setidaknya, itulah yang terlihat.
Aku memang saat itu belum cukup dewasa untuk memahami situasi. Tapi, mereka tidak tahu bahwa diam-diam aku sering mendengar pertengkaran keduanya. Bahkan, tak jarang kudengar ibu menyebut-nyebut namaku. Hal itu seringkali membuatku menangis sendirian. Mengapa? Padahal di depanku mereka terlihat sangat bahagia.
Sejak saat itu, bukan hanya mereka yang berpura-pura bahagia. Tapi, aku juga mengikuti permainan mereka dengan berpura-pura tidak tahu. Situasi itu kemudian berjalan selama kurang lebih setahun. Sampai ayah yang sudah muak pada ibu sering membawa wanita berbeda ke rumah dalam keadaan mabuk. Tak hanya itu, ayah bahkan tidak ragu lagi memperlihatkan kemarahannya pada ibu di hadapanku.
Tidak butuh waktu lama untuk tahu bahwa keluargaku hancur dalam sekejap. Hatiku sakit bak diiris pisau tajam berkali-kali. Mentalku pun ikut terluka. Hingga hidupku yang sempurna seketika lenyap dalam semalam.
Di malam ulang tahunku yang ke-15, aku menjadi seorang pembunuh.
Aku membunuh ayahku sendiri.
***
Hidupku berubah secara drastis.
Insiden itu bak setetes tinta hitam yang kau tuang ke dalam segelas air putih. Keruh. Tidak akan bisa kembali menjadi bening. Terhitung sudah beberapa kali aku berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain. Alasan kepindahanku selalu sama. Pembunuh. Jika sudah begitu, hari-hari setelahnya aku akan pulang sekolah dengan pakaian yang berbau busuk dan tampilan yang tidak layak.
Dasar tukang bully sialan! Jika mereka berada di posisiku saat itu, aku yakin mereka juga akan melakukan hal yang sama denganku.
Kata ibu, ia prihatin dengan kondisiku. Beliau tidak tahu saja bahwa keadaannya jauh berkali-kali lipat lebih memprihatinkan dibanding diriku. Oleh karena itu, kali ini aku memutuskan untuk tetap bertahan dan menutup telinga dari segala hal yang berkaitan dengan masa laluku. Toh, ini merupakan tahun terakhirku. Meski terkadang mereka masih suka mengataiku dan menatap sinis hingga menyebut namaku secara terang-terangan. Perbedaannya, sekarang aku lebih berani bertindak agar mereka tidak berlaku semena-mena terhadapku.
Akhir-akhir ini juga aku memiliki seorang teman. Namanya Kim Taehyung. Ia berada di kelas yang berbeda denganku. Kami hanya sering menghabiskan waktu bersama di taman belakang sekolah. Aku tidak tahu apakah dia tahu tentang masa laluku atau tidak. Yang jelas, aku senang karena sekarang memiliki seorang teman yang bisa kuajak bicara. Jujur saja, dia memiliki wajah yang sangat tampan. Aku yakin banyak wanita yang akan iri jika tahu aku yang seorang pembunuh ini dekat dengannya.