"ya tuhan, maafkan putriku" Fluke panik saat melihat putri kecilnya hampir jatuh menabrak seseorang dan menumpahkan minuman ke pakaiannya. Fluke menyusulnya dan membantu putri kecilnya berdiri, tidak bisa membohongi perasaannya dia lebih khawatir kalau putrinya terluka daripada baju pria itu.
Pria itu tersenyum kearah anak kecil perempuan yang menampilkan ekspresi wajah yang hampir ingin menangis. Pria itu menunduk dan mengusap pelan pipinya. "tidak papa anak manis, ini akan hilang saat paman cuci nanti"
Anak kecil itu langsung berhambur ke dalam gendongan Fluke dengan isakan kecil. "sor... sorry papa" ucapnya ditengah isak.
Fluke menghela nafasnya dan tersenyum lalu mengangkat putri kecilnya. "It's okay baby, syo minta maaf pada paman yang tadi Pam tabrak" Fluke mengusap punggung putrinya sambil bicara. Putri kecilnya akhirnya tenang dari isakan dan mengangguk pelan.
Fluke memutar tubuhnya, membawa dia dan putrinya menghadap pria yang sedari tadi memperhatikan mereka dalam diam. Namun tanpa di duga, saat Fluke melihat pria itu tubuhnya membeku seketika, seakan aliran darahnya berhenti mengalir dari tubuhnya. Debaran jantungnya tidak lagi beraturan saat matanya dan mata pria itu bertemu.
"Fluke?" panggilnya pelan.
-SEE YOU SOON!!!-
Hiiiii, welcome back lovely readers huhu aku kangen kalian!!<3<3
Aku kasih spoiler dikit yaaa, semoga aku bisa update secepatnya! see you later~ 😘💙
YOU ARE READING
Beautiful Gift (COMPLETED)
FanfictionPutrinya adalah hidupnya, hanya Fluke dan putrinya sudah lebih dari cukup. Itu menurutnya sekarang. ❌Warning: kata-kata kasar, mpreg, boyxboy, dan ini cuma FF please jangan dibawa serius~
