Prolog

515 89 17
                                        

Y/n membuka pintu rumahnya, berantakan, gelas yang pecah, kursi yang terbalik, dan beberapa berkakas sudah hancur dan tidak lagi berada di tempatnya. Adu argumen antara orang tuanya dapat Y/n dengar karena mereka berdua saling meninggikan suara mereka, saat ini usia Y/n baru menginjak enam tahun, dan sejauh ini hidupnya cukup menderita.

Y/n tidak dilahirkan di keluarga yang kaya, dia hadir ditengah-tengah keluarga yang sangat tidak harmonis bahkan hadirnya merupakan sebuah kecelakaan. Kesulitan ekonomi menjadi masalah utama untuk mereka, dan alasan dari orang tuanya selalu berdebat.

Y/n kecil bersembunyi dibalik lemari buku sedangkan kepalanya mengintip disana, dia melihat ayahnya memukul ibunya beberapa kali hingga menarik rambutnya. Pemandangan seperti ini bukan lagi hal baru untuk Y/n, dia hanya berdiri diam disana bahkan tidak ada lagi air mata yang menetes disana hatinya sudah cukup keras untuk anak seusianya.

Ayahnya, pria itu berjalan begitu saja melewatinya sebelum membanting pintu rumah mereka dengan keras bahkan hingga kaca jendela mereka bergetar.

"Y/n." Rintih Ibunya.

Y/n memeluk erat boneka beruangnya sembari berjalan mendekati ibunya yang masih tersungkur di lantai, dan duduk bersimpuh di sebelahnya.

"Apa yang sakit ibu?" Tanya Y/n tangan mungilnya menyibak rambut kusut ibunya yang menutupi wajahnya.
"Tidak ada sayang, ibu baik-baik saja." Ibunya itu tersenyum lemah.
"Ibu selalu bilang hal yang sama." Y/n mengusap pipi ibunya yang masih basah karena air mata.

Lebam di wajah ibunya membuat perhatian Y/n teralihkan, dia meletakan bonekanya di lantai dan membantu ibunya untuk bangun dari sana dan menuntunnya ke sofa.

"Ibu tahu aku akan menjadi dokter nanti, jadi biarkan aku mengobati ibu." Ucap Y/n sebelum dia berlari kedapur.

Siapa yang hatinya tidak teriris saat putrinya yang masih berusia enam tahun harus berhadapan dengan kenyataan yang terlalu keras

Y/n mengambil kotak p3k yang sengaja dia simpan di tempat yang mudah di jangkaunya, dia sedih tapi dia tidak menangis, menangis tidak akan mengubah atau membantu apapun.

Dress merah mudanya basah karena air yang diambilnya di dalam mangkuk bergerak seirama langkahnya, Y/n berusaha menyeimbangkan langkahnya agar tidak banyak air yang tercecer sementara satu tangannya yang lain menenteng kotak P3K itu.

"Apa aku sudah terlihat seperti dokter?" Tanya Y/n pada ibunya.
"Ya kau bahkan terlihat seperti malaikat." Ibunya mengusap rambut Y/n yang dikepang dua itu.
"Sekarang," Y/n duduk di meja di depan ibunya kakinya yang masih menggantung dia ayunkan ke depan dan kebelakang, dia sangat menggemaskan. "Katakan pada ku dimana ibu merasakan sakit?" Tanya Y/n.

Ibunya mulai menunjuk mana-mana saja yang terdapat luka, dan Y/n dengan polosnya membersihkan luka itu dan mengobatinya.

"Aku sangat beruntung memiliki mu." Ibunya memeluk Y/n setelah gadis kecilnya selesai dengan urusannya.
"Aku menyanyangi ibu, sudah semestinya aku merawat ibu." Balas Y/n.

**

Y/n berbaring di tempat tidurnya bersama boneka beruangnya, dia menatap ibunya yang sudah mematikan lampu dan keluar dari kamarnya.

Bayangan kejadian siang tadi masih terekam jelas di otaknya, dia masih bisa mendengar suara ibunya yang merintih kesakitan dan suara pukulan ayahnya.

Y/n memejamkan matanya dengan kuat sembari memeluk bonekanya dan berusaha untuk tidur dia harap semua itu tidak akan terulang besok.

Saat Y/n nyaris terlelap dia mendengar pintu kamarnya di buka, ini langsung membuatnya berbalik dan dia menangkap siluet ayahnya berdiri disana dengan tas gendong miliknya yang berwarna merah muda.

"Hi Y/n." Ayahnya berbicara dengan pelan bahkan bisa dikatakan nada bicaranya lembut yang mana tidak pernah terjadi sebelumnya.

Ayahnya turut bergabung duduk di sisi ranjang Y/n, sementara Y/n menatap bingung ayahnya yang bersikap asing.

"Bagaimana jika kau ikut dengan ku? Aku akan membawa mu berlibur." Ucap ayahnya.
"Berlibur?" Tanya Y/n.
"Ya, kau menyukai itu? Kita akan pergi jauh ke kota maka dari itu kuta harus pergi sekarang." Jujur janji ayahnya itu membuat hati Y/n dia mengangguk riang karena akhirnya ada titik terang di keluarganya.
"Bagus, kau memiliki semuanya di tas mu. Sekarang kita berangkat." Ayahnya memakaikan tas ranselnya itu pada Y/n.
"Bagaimana dengan ibu?" Tanya Y/n.
"Dia akan menunggu di rumah lagipula kita tidak pernah menghabiskan waktu bersama." Ucap Ayahnya.
"Boleh aku membawa foto ini? Aku takut apabila aku merindukannya." Y/n meraih foto mereka bertiga yang berada di atas nakasnya.
"Baiklah."

Y/n tidak merasakan firasat apapun, dia duduk di samping kursi kemudi dengan riang bahkan hampi enggan untuk tidur walaupun akhirnya gadis kecil itu terlelap.

**

Ayah Y/n membawa putrinya itu ke kota, bukan untuk berlibur seperti janjinya, melainkan untuk menukar putrinya dengan uang.

Ya dengan uang, dia akan menjual putrinya pada orang paling kaya di kota mereka. Ayahnya berpikir ini hal yang terbaik untuk mereka, dia tidak terbebani dan mendapat banyak uang, dan Y/n mungkin saja hidupnya akan terjamin.

Mereka sampai di rumah besar bak istana itu tepat saat matahari terbit, mereka di sambut dengan baik dan Y/n dia terpukau dengan rumah sebesar ini.

Sepasang suami istri disana menyambut mereka.

"Ah gadis cantik." Ucap si wanita itu pada Y/n.

Gadis cilik yang baru bangun itu basih tampak kebingungan terlebih ayahnya yang berbincang jauh darinya sebelum dia di beri selembar kertas oleh pria yang sebelumnya berdampingan dengan wanita ini.

Y/n berdiri disana dengan boneka beruang di genggamannya, dia masih memikirkan mereka akan berlibur disini atau bagaimana.

"Sekarang gadis ini milik kalian." Ucap ayahnya sembari mendorong Y/n.
"Ayah?" Tanya Y/n.
"Kau bukan lagi anak ku, kau akan tinggal bersama mereka." Ucap ayahnya.

Y/n memeluk kaki ayahnya sembari terisak, dia tidak mau tinggal disini dia ingin pulang ke rumah.

"Aku ikut dengan ayah."
"Buatlah diri mu berguna satu kali ini saja." Ayahnya melepaskan Y/n dari kakinya dengan susah payah.

Y/n bahkan dipegangi beberapa orang disana, dia tidak tahu akhirnya akan begini, dia tidak tahu malam itu malam terakhir bersama ibunya, jika tahu begini dia akan memilih tinggal daripada ikut ayahnya.

"Sekarang kau adalah putri ku, kau akan bergabung dengan saudara-saudara mu yang lain. Kau akan terbebas dari rasa sakit mu dan tumbuh menjadi wanita yang hebat." Wanita itu mengusap wajah Y/n dengan tangannya yang ditutupi sarung tangan mewah.

*

To be continue...



Mission Stories to obsess over. Discover now