Words

153 21 13
                                        

Matahari selalu tau dimana ia akan menyinari tempat yang seharusnya. Memancarkan cahaya dengan begitu lembut seperti embun yang selalu siap menemani dedaunan kala hujan reda. Sepasang mata tak lepas dari pandangan wajah di depannya, begitu indah diterpa sinar matahari pagi. Membuat sang pemilik wajah sama indahnya dengan langit cerah diatas sana.

Namjoon, lelaki berparas manis dan tegas dengan tubuh yang atletis—dua lesung pipi yang menghiasi wajahnya selalu bisa melemahkan hati siapapun saat ia tersenyum. Kapasitas otaknya yang terlampau jenius tentu sudah menjadi bahan pembicaraan para mahasiswa. Karismanya sangat luar biasa, tak heran banyak perempuan rela mengantri menjadi urutan dalam daftar pasangan ideal lelaki tersebut.

Pertama kalinya selama Raeyu menempuh pendidikan tinggi di tempat ini, dia bertemu dengan Namjoon. Dia tau lelaki tersebut sering menjadi pembicaraan teman-teman satu jurusannya, tapi tak membuat hati gadis itu tertarik mencari tau lebih dalam.

Bertemu di tempat sunyi yang hanya ada buku-buku menjadi saksi—tentu membuat keadaan agak sedikit canggung bagi Raeyu, apalagi hanya ada mereka berdua di barisan meja perpustakaan tersebut. Sebuah fakta menarik dibalik itu semua adalah Namjoon menyadari gadis dihadapannya saat ini tengah memperhatikan gerak geriknya.

Namjoon menutup buku yang tengah ia baca, berdiri dengan sigap menampilkan badannya yang tinggi menjulang semakin terlihat sexy dengan stelan kaos hitam dan jeans ketat yang ia kenakan. Dia berjalan menghampiri Raeyu tanpa gadis itu sadari. Hanya dalam beberapa langkah, Namjoon sudah menarik kursi disebelah gadis bernama lengkap Han Raeyu itu dan memposisikan duduknya bersebelahan dengan Raeyu tanpa jarak.

"Aku tau kau memperhatikanku daritadi," bisik Namjoon. Suasana perpustakaan sangat sunyi, tak mungkin ia bisa secara lantang berucap.

Raeyu masih dalam posisinya, mencoba bersikap tenang sambil membaca buku di depannya. Walaupun sebenarnya itu hanya sebagai pengalihan untuk menutupi rasa gugup yang menyerang.

"Tidak masalah, aku terbiasa dengan itu," lanjut Namjoon.

Ucapan Namjoon kali ini berhasil membuat Raeyu menoleh kearah lelaki disampingnya, menoleh tanpa mengucapkan kata apapun. Dirinya hanya bisa menebak-nebak apa yang ada diotak laki-laki disampingnya ini.

"Kalau tidak ingin bicara juga tidak apa-apa, aku duduk disini karena sinar mataharinya sangat silau mengenai wajahku, tidak bisa fokus membaca." Kali ini ucapan Namjoon diikuti senyuman manisnya.

Benar apa yang dikatakan orang-orang mengenai laki-laki bernama Lee Namjoon, dia sangat ramah pada siapapun. Senyumannya bahkan terlihat tulus saat berkata—seperti mempunyai pesonanya sendiri.

"Iya," akhirnya satu kata lolos dari mulut Raeyu. Satu kata itu berhasil membuat Namjoon tersenyum puas karena berhasil membuat gadis itu mengeluarkan sebuah kata yang sedari tadi ingin ia dengar.

Mereka kembali sibuk dengan bukunya masing-masing. Seakan buku adalah alat pemisah komunikasi diantara mereka. Beberapa pemikiran pun terlintas di pikiran Raeyu. Dirinya adalah penghuni setia perpustakaan kampus, bisa dibilang ia tak pernah absen menghadiri tempat itu setiap hari. Baginya buku-buku akan merindukannya jika dia tak mengunjungi perpustakaan. Pemikiran tersebut berpusat pada lelaki disebelahnya.

Raeyu tak pernah melihat Namjoon di perpustakaan—atau mungkin Namjoon yang tak pernah menampakkan diri di depan Raeyu sehingga membuat gadis ini bertanya-tanya tentang kehadiran Namjoon didekatnya.

Bukan dalam arti Raeyu merasa dirinya ingin dikenal seorang Namjoon, karena itu sebuah hal yang tidak masuk akal. Seorang Namjoon?sangat tidak mungkin mengenal dirinya yang hanya berteman buku atau dunianya sendiri.

Namjoon tiba-tiba menutup buku yang dibaca nya sambil melirik jam yang menghiasi tangan kirinya. Dia seperti bersiap-siap akan meninggalkan tempat tersebut. Mungkin dia harus masuk kelas—itu yang ada di pikiran Raeyu, melirik manusia di sampingnya.

WordsWhere stories live. Discover now