🏁 ; Gadis malang.

105 8 0
                                        

➖➖➖

Pagi yang cukup cerah ini, Ares terbangun dengan pemandangan sang Papa yang hampir menyiramnya.

"Papa! Kok Ares disiram?!" tanya Ares yang langsung bangun terduduk.

"Lagian, dibangunin enggak bangun-bangun! Kebo!" ejek Raihan.

"Ih, biarin aja kenapa sih? Ini tuh baru jam 5.40 dan Papa udah hampir siram Ares, apalagi nanti jam 6!" keluh Ares.

"Enggak terima keluhan, Res. Papa bukan Costumer service!" balas Raihan, Ares jadi cemberut dan langsung beranjak mandi, karena kalau tidak, dia benar-benar akan disiram oleh sang Papa.

Di meja makan, sudah ada Hana dan Raihan yang sedang menyiapkan meja dengan tangan Raihan melingkar cantik di pinggang Hana. Ares yang melihat itu sudah biasa, karena itu memang rutinitas sang Papa sebelum berangkat menuju kantor.

Melihat Ares memasuki Dapur, Hana melepaskan diri dari Raihan dan menghampiri Ares.

"Selamat pagi, Mama!" sapa Ares, lalu memeluk Hana sekejap beserta kecupan ringan di pipi.

"Selamat pagi juga, gantengnya Mama!" sapa balik Hana.

"Kamu enggak boleh cium-cium Mama ya!" elak Raihan, tak terima dan hal seperti ini terjadi tiap pagi.

"Ish, Papa! Mama kan punya aku juga, berbagilah Pa, berbagi itu indah!" elak Ares, dia menggoda Raihan dengan nada bicaranya.

"Enggak ada yang indah kalau berbaginya sama kamu!" balas Raihan. Hana menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan suami dan anak pertamanya itu, dia sudah terbiasa. Ares memajukan bibir bawahnya lalu duduk.

"Dasar kamu ya, Han! Enggak ngalah sama anak sendiri!" gumam Hana, yang pastinya didengar oleh Raihan, kini ia langsung mendekati Hananya kembali.

"Hai tuan putri!" sapa Ares saat Yolanda atau yang biasa dipanggil Nda itu, sampai di meja makan. Ares berniat akan mengacak-acak rambut Yolanda, namun Yolanda langsung menepisnya.

"Enggak usah iseng!" ucapnya, dengan tatapan acuh dan dingin.

"Dingin amat sih, lo!" keluh Ares, tak suka.

"Lo rese!" balas Yolanda, walau nadanya ketus, tapi raut wajahnya masih datar.

"Tuh kan, pagi-pagi udah berantem aja!" lerai Hana.

"Tau tuh Nda, bilangin Ma ke dia, jangan dingin-dingin, nanti enggak ada yang suka, lagian, turunan siapa sih dingin begitu?!" keluh Ares, mengadu pada sang Mama.

"Gue, kenapa? Masalah buat lo?" ujar Raihan tak terima. Sepertinya Hana perlu lebih bersabar pagi ini.

"Buset Papa gue galak amat, ngeri gue!" ledek Ares, dia memang sangat suka melihat wajah kesa milik sang Papa, hanya kesal, dia takut jika tatapan marah yang ada di wajah Papanya itu.

"Han!!" niat Hana itu tadi melerai kedua anaknya, kenapa jadi melerai anak dan bapaknya, sih?

"Ngeselin habisnya Na, ingin aku pites aja rasanya." keluh Raihan, kini Raihan yang mengadu pada Hana.

"Sakit dong, jangan dipites, disayang aja boleh gak? Ares siap kalau disayang!" goda Ares, anak ini memang kurang ajar.

"Nyebelin banget sih lo?! Turunan siapa sih?" sewot Raihan, pagi-pagi moodnya sudah kesal.

"Turunan gue, kenapa?!" balas Hana.

"Iya-iya ampun!!" ujar Raihan, ciut nyalinya kalau sudah dibentak begitu oleh Hana.

(Un)Finished [✓] - Hwang Hyunjin Stories to obsess over. Discover now