Harap saya runtuh, lebur bersama punggung-punggung yang tak lain adalah masa lalu. Entah bagaimana bisa percaya, teramat mengasihi, menerima dari segala sisi yang selalu berlawan arah, meninggalkan luka kering pun basah menghantam indra penglihat. Lalu, air mata telah beruah samudra, dengan bodohnya selalu membawa punggung-punggung baru menginap di atasnya, tanpa—satu pun—ingin menyelam bersama. Padahal, saya menemukan satu per satu dari dasar air mata, mengulurkan tangan dan memeluk mesra, menawarkan secangkir suka, lengkap bersama setangkup duka.
⇠⇢
Anda:
Saya di perbatasan, kenapa dermaganya tampak malu?
Hwasa:
Benarkah? Maaf, tapi saya hanya bisa kirim perahu.
Anda:
Bukan masalah, kemarilah!
Hwasa:
...
Anda:
Emm, Anda tahu siapa yang menawarkan sarapan pada saya?
Hwasa:
Tidak.
Anda:
Saya ingin mengucapkan terima kasih padanya.
Hwasa:
Semoga dia tidak menyesal telah menarikmu keluar.
Anda:
Omong-omong, di mana kapalnya?
Hwasa:
Tidak ada.
⇠⇢
Semoga saja, kali ini saja.
