Siang ini cukup syahdu. Mendung bergelayut manja di langit. Seorang laki-laki sedang berdiri di samping pusara seseorang bernama Tiana. Laki-laki itu hanya terdiam, berdiri mematung. Ia hanya memandangi pusara itu tanpa menangis. “Aku akan membalaskan dendam untukmu, Dek.
***
Satu minggu yang lalu ….
Wildan membasahi tubuhnya. Hari ini ia ada kuliah pagi. Tangannya masih terasa perih akibat luka baru yang diciptakannya sendiri. Dua hari yang lalu, Wildan putus dengan Elis, kekasihnya. Sudah satu tahun ini, Wildan menjalin hubungan dengan Elis. Wildan sangat mencintai Elis. Saking cintanya, laki-laki dua puluh tahun itu bahkan rela melakukan apapun supaya tidak kehilangan wanita yang dicintainya itu.
“Wildan, ada yang perlu aku tanyakan,” kata Elis.
“Apa?” tanya laki-laki berambut gondrong itu.
“Mana kaos yang aku belikan buat kamu kapan hari itu? Aku pingin lihat kamu pakai kaos lengan pendek.”
“Maaf, tapi … aku belum bisa pakai."
“Kenapa? Jelek?”
Wildan menggeleng. Bukan itu alasan Wildan tak pernah memakai kaos yang diberikan wanita berkulit putih itu untuknya. Wildan hanya merasa, belum saatnya Elis tahu, bahwa di tubuhnya penuh dengan luka akibat penyaluran emosi.
Laki-laki bertubuh atletis itu memang menyimpan banyak rahasia. Sejak berusia sepuluh tahun, Wildan kehilangan rasa untuk menangis. Tiap kali ia merasa sedih atau tertekan, ada rasa di dalam diri yang mendorongnya untuk melukai dirinya sendiri. Jika rasa sedih atau marah itu muncul, Wildan tanpa takut mengambil sebuah pisau lipat yang ia letakkan di dalam laci lemari dan menyayat tubuhnya sampai ia puas. Tak terhitung berapa banyak luka sayatan yang ia dapatkan. Entah di lengan, di dada, atau di kaki.
Sayangnya, orang tua Wildan tak pernah peka akan kondisi anaknya. Mereka hanya bekerja dan bekerja, sehingga makin lama, kondisi Wildan makin buruk. Keadaan itu semakin buruk ketika ayah dan ibunya meninggal dunia akibat kecelakaan di usianya yang ke enam belas tahun.
Setelah pemakaman, Wildan mengunci pintu kamarnya. Ia mengambil pisau lipat miliknya, lalu menyayat-nyayat tubuhnya. Darah segar mengalir dari nadinya. Ia hampir saja tewas karena kehabisan darah jika saja Mak Bongki—asisten rumah tangganya—tidak menggedor pintu kamarnya karena curiga akan keadaannya.
“Wildan, kita putus saja,” kata Elis membuyarkan lamunannya.
“Kenapa?”
“Aku pikir kamu hanya orang yang dingin saja. Tetapi ada banyak rahasia tentangmu yang belum ku ketahui. Sampai kapan kamu mau terus menyembunyikan rahasiamu itu?” tanya wanita berambut ikal yang sudah mulai menangis itu.
Sebenarnya, Wildan tak tega melihat wanita pujaannya itu menangis. Ia mencintai wanita itu. Wildan hanya tak bisa mengungkapkannya. Jalan satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk membahagiakan Elis adalah dengan memberinya kejutan-kejutan kecil. Misalnya, ketika Elis ingin membeli sesuatu, maka laki-laki berjambang itu akan berusaha mencarikannya. Sayangnya, Elis tak menyadari bahwa itu adalah bahasa cinta yang ia miliki.
Wanita bertubuh tinggi semampai itu sering menuntut Wildan melakukan lebih. Misalnya dengan mengatakan cinta atau bahkan berhubungan seks sebelum waktunya. Wildan tidak pernah mau menuruti keinginan Elis.
Ia takut akan merusak masa depan wanita yang sudah dipacarinya selama satu tahun itu. Selain itu, di sisi lain ia memiliki rahasia di dalam tubuhnya. Di mana tak seorang pun tahu—kecuali Tiana—bahwa ada rasa sakit yang ia rasakan di balik luka-luka itu.
“Maaf Elis. Tapi aku nggak bisa memberitahumu ini. Nggak ada seorang pun yang tahu rahasiaku ini, kecuali Adikku, Tiana.”
“Kamu jahat, Wildan! Aku semakin ingin putus saja denganmu! Sudah, ya. Kita sampai di sini saja!” Elis beranjak dari tempat duduknya. Ia pergi begitu saja meninggalkan Wildan yang masih terdiam tanpa ekspresi.
Wildan ingin menangis, tetapi tak bisa. Laki-laki itu pun meninggalkan tempatnya. Ia menuju ke mobil merah metaliknya. Wildan menampar pipinya, lalu membentur-benturkan kepalanya sekuat mungkin di jendela sampai ia merasa lega. Ia tak habis pikir dengan wanita. Hanya gara-gara pakaian dan sifatnya yang dingin saja, Elis berani meninggalkannya. Semakin Wildan memikirkannya, kepalanya terasa pusing. Wildan segera menurunkan kursinya dan tertidur pulas. Ia tak peduli meski di luar cuaca telah berganti dari panas menjadi hujan.
Drrrrttt … Drrrrttt …
Getaran ponsel itu membangunnkan tidurnya. Ada nama Tiana di layar ponselnya.
“Halo, Bang. Abang di mana?” tanya Tiana.
“Abang di jalan, Ti. Ada apa?”
“Pulang gih, Bang. Tiana mau berangkat kerja. Shift sore ini. Abang bawa kunci?”
“Bawa. Mau Abang anter?”
“Iya, deh. Tiana tunggu.” Tiana mematikan sambungan teleponnya.
Wildan bergegas pulang. Rupanya sudah lima jam ia berada di mobil kesayangannya itu hanya untuk tidur. Jika saja Tiana—adiknya yang dua tahun lebih muda darinya—tidak menelepon, pasti saat ini hari sudah malam.
Tiiiiinnn … tiiiiinnn ….
Mak Bongki berlari cepat untuk membukakan pintu. “Selamat sore, Den. Sudah ditunggu Neng Tiana,” kata asisten rumah tangga yang sudah setengah baya tetapi masih lincah itu.
“Iya, Mak. Tiana suruh agak cepet. Aku tunggu di sini,” Wildan tersenyum. Mak Bongki segera menuju ke dalam rumah dan mendapati Tiana sudah bersiap.
“Neng, Den Wildan sudah di luar.”
“Siap, Mak. Tiana berangkat dulu ya, Mak. Mak Bongki sama Kang Salman baik-baik di rumah, ya. Nggak usah masak. Aku nanti makan di luar, Mak. Da daaaa ….” Tiana melambaikan tangan kepada Mak Bongki. Ia takt ahu, bahwa itu adalah hari terakhirnya berada di dunia.
Tiana memasuki mobil merah metalik itu. “Cus, berangkaaaaaatttt,”ujar Tiana bahagia. Tiana memang selalu ceria melalui hari-harinya. Di usianya yang ke delapan belas tahun, sifatnya bahkan lebih dewasa dari Wildan, kakaknya. Sejak kematian ayah dan ibunya, Tiana bertekad untuk tidak melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Ia memilih bekerja, supaya bisa membawa kakaknya yang sakit itu ke psikiater.
Ada banyak hal yang berubah dalam hidup mereka setelah orang tua mereka meninggal. Selain mereka menjadi yatim piatu, mereka harus berjuang sendiri untuk tetap hidup, meski ayah mereka meninggalkan warisan yang tak sedikit. Wildan dan Tiana bisa saja bersekolah tinggi, tetapi mereka memilih untuk bekerja.
“Bang, nanti malem jemput, ya,” ucap Tiana.
“Jam berapa?”
“Abang jemput jam dua belas malem ya, Bang. Don’t forget!” ucap Tiana sambil mengacungkan jari telunjuknya.
“Iya … iya …. Sana buruan! Dicari bosmu, loh.” Wildan mengusap rambut adik kesayangannya itu dan menunggu Tiana sampai masuk ke supermarket tempatnya bekerja.
Pukul 23.45
Wildan meluncur untuk menjemput Tiana. Entah mengapa, sejak tadi perasaannya tak enak. “Semoga Tiana baik-baik saja,” gumamnya sambil melajukan mobil merah metalik itu semakin cepat. Tak berapa lama, ia telah sampai di supermarket tempat Tiana bekerja. “Selamat malam, Tiana nya ada?”
“Tiana? Kayaknya tadi keluar. Katanya sebentar, tapi ini udah setengah jam, dan dia belum balik,” ucap salah seorang teman kerja Tiana.
“Dia ngomong nggak mau ke mana?” Wildan panik.
“Katanya mau beli makan. Mungkin ke warung bakso yang di pertigaan itu, Bang.”
Wildan memasuki mobilnya. Pikirannya kacau. Ia mencari Tiana di sepanjang jalan. Sampai suatu ketika, ia tiba di sebuah semak-semak. Wildan bermaksud untuk beristirahat. Jantungnya berdebar kencang saat ia mendapati sebuah benda pipih tergeletak di jalan. “Bukankah itu ponsel Tiana?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Wildan: The Murder
Mystery / ThrillerWildan adalah seorang pria berusia dua puluh tahun. Setiap hari ia tak lepas dari pakaian lengan panjang dan celana panjang. Ia memiliki seorang adik perempuan bernama Tiana. Tiana adalah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa di balik pakaian len...
