01: MATAHARI

1K 115 15
                                        

Interstellar adalah ruang antar bintang di alam semesta. Fanfiksi ini terdiri atas tata surya ( dan pluto ) sehingga terdiri atas beberapa chapter. Terinspirasi dari album Sleeping At Last. Universe, rating dan genre akan berbeda di setiap chapter. Selamat membaca!


note: listening to their songs were adviced!


chapter 01: MATAHARI

genre: family/romance

rating: T

.

Mungkin Levi tidak akan tidur di atas sofa jika saja bibirnya tidak salah ucap setelah hari yang panjang di kantor. Bukan pinta Hange, memang. Tapi Levi yakin istrinya butuh waktu untuk sendiri. Jadi dia hela napasnya sebelum mengganti pakaiannya dengan kaus lengan pendek dan membanting tubuhnya ke atas sofa sambil berkontemplasi atas kalimatnya barusan.

"Kamu terlalu sering merasa lelah, kita jadi sulit untuk punya anak."

Selimut tipis yang menutupi tubuhnya ia remat. Mungkin dia agak keterlaluan. Padahal Hange baru saja menyambutnya dengan rambut tersisir rapi yang tergerai, aroma sabun lavender (Levi pernah bilang, itu aroma favoritnya). Kedua tangannya membawa nampan yang terisi penuh oleh kukis jahe hangat yang Levi suka, juga secangkir teh kamomil panas tanpa gula.

"Aku tidak lelah." Hange merespons tatap galak Levi dengan senyum dan gelak penuh tanya, "Hari ini justru sangat menyenangkan. Aku bisa—"

"Kamu bilang begitu setiap hari. Aku sering melihatmu meringis sambil memijat pundak sendiri."

Levi tidak bisa tidur. Ia bangkit duduk sebelum memijat pangkal hidungnya. Nampan yang kini tergeletak rapi di atas meja makan ia lirik. Kakinya melangkah malas dengan tangan yang berayun. Teh di dalam cangkir sudah agak mendingin, rasanya jadi jauh lebih pahit.

Levi tersenyum masam. Haruskah dia mengetuk kamarnya dan meminta maaf?

Namun ketika tangannya hampir menggenggam kenop pintu, engsel pintu di depannya berderit sebelum daunnya terbuka. Di baliknya, ada Hange yang berdiri menatapnya dengan mata setengah mengantuk. Pria itu tersentak sebelum bibirnya berkedut, sedikit.

"Kacamata, aku minta—"

"Aku sudah menunggumu dari tadi." Hange memotongnya, "Kenapa tidak masuk?"

Terkejut dengan pertanyaan tiba-tibanya, Levi hanya bisa mengangkat alis.

"Kamu masih marah?"

Harusnya aku yang tanya begitu, Levi tergelak dengan rasa bersalah dalam hati. Tapi alih-alih menjawab atau meminta maaf, tangannya ia angkat sebelum menyingkirkan helai-helai rambut yang menutup wajah lelahnya, "Kamu harus berkaca."

"Kenapa?"

"Kantung matamu," kening Sang Istri ia sentil. "Aku tahu kamu suka bangun tengah malam dan tidak tidur sampai fajar untuk mengerjakan laporan."

Wanita di depannya melepas gelak, lalu bibir keringnya bergerak sebelum ia berbisik, "Maaf."

"Tidak usah ke lab besok," Levi bersandar pada bingkai pintu, netra kelabunya mengatensi penuh wajah Hange yang tampak lebih cantik di mata mengantuknya, "Kita naik sepeda tandem keliling Edinburgh. Benda itu akan berkarat jika terus dibiarkan di garasi."

Maka begitulah. Saat mentari mengecup wajah keduanya di kala Fajar, Levi membawa Hange pada hiruk-pikuk kota dan pesona pagi. Hange tatap punggung Levi di depannya sambil melepas tawa.

interstellarStories to obsess over. Discover now