Zira's story 1

9 2 0
                                        

Semua luka yg terbuka terasa begitu perih dan sakit. Hingga tak bisa berkata-kata untuk mengungkapkan rasa sakit yang tertahan selama bertahun-tahun. Luka itu semakin parah karna tak ada yang mengobati. Melihatnya saja mungkin kalian kasihan. Tapi, perempuan yang satu ini tak suka dikasihani. Dia akan terus berjuang, meskipun dia yang harus merasakan apa yang seharusnya tidak dia rasakan. Dia juga ingin seperti remaja yang lainnya.

Dia adalah Zira Zara. Perempuan yang berusaha terlihat tegar meski dalamya rapuh. Tetap terlihat ceria meskipun selalu kesepian. Tidak mudah baginya untuk terlihat baik-baik saja didepan umum. Depresi yang dialaminya membuat Zira menahan mati-matian agar tidak ada yang mengetahuinya. Dia harus memakai topeng yang entahlah, mungkin topeng ini akan susah dilepaskan. Topeng yang begitu melekat di dirinya. Sekarang Zira terbiasa menggunakan topeng itu. Terus-menerus luka kecil berdatangan, hingga menimbulkan luka yang begitu besar. Tetapi dia selalu tersenyum. Tersenyum misterius.

Zira tidak meminta luka itu datang untuknya, mungkin saja tuhan punya rencana yang tidak disangka olehnya. Sehingga dengan cara memberikan luka untuknya, mungkin dia belajar untuk menerima apapun kenyataannya. Ia menatap langit cerah yang begitu indah dipandang. Zira berbagi keluh kesahnya kepada langit dan sang pencipta.

Mengapa tuhan memberiku rasa yang begitu sakit dirasakan?

Mengapa harus aku yang menerimanya?

Kenapa tidak yang lainnya saja?

Apakah aku memang ditakdirkan untuk menahan ini semua?

Ya tuhan aku ingin menyerah!

Aku sudah lelah dengan semuanya!

Tapi mereka yang selalu berada dibelakang dan disampingku selalu membangkitkan diriku.

Aku harus bertahan dan bangkit lagi!

Ya, aku harus berjuang lagi agar mereka tidak sedih.

Tes

Zira tak kuat menahan isakannya. Perlahan cairan yang dibencinya turun dari pelupuk matanya. Kenapa disaat seperti ini dia begitu lemah. Hanya bisa menangis dalam diam. Rasanya Zira ingin berteriak sekeras-kerasnya agar seluruh makhluk alam semesta tau apa yang dirasakannya sekarang. Mungkin Zira butuh sesuatu untuk dibuat rusak oleh tangannya sendiri. Sudah lama Zira tidak merusak sesuatu. Rasanya ia ingin merusak barang sekaligus melukai dirinya. Tapi niat itu terurungkan karna suatu alasan. Apa alasan tersebut? Tak ada yang mengetahuinya. Hanya ada satu orang yang mengetahui, tapi orang itu sudah berada di alam yang berbeda. Lebih tepatnya tiada dari dunia. Dia ingin orang itu kembali dan mendekapnnya sangat erat. Zira rindu dengan dekapannya.

********

Suasana desa di malam hari sungguh indah nan sejuk. Ia senang bisa menjadi remaja desa. Suara hewan malam yang mendominasi menemaninya. Zira menatap langit dari balkon rumahnya. Ingin sekali rasanya dia naik ke atas genteng rumahnya, tapi dia sedikit takut karna cerita omnya itu. Katanya setiap tengah malam ada suara yang serem dari atap rumahnya. Makanya Zira sedikit takut jika sendirian diatas genteng. Sedikit penakut memang, meski sikapnya yang tersembunyi itu sangat tidak memungkinkan untuk dia takut.

Berharap ada sedikit perubahan dihidupnya. Dia membayangkan kehidupan yang harmonis dengan keluarga yang lengkap. Tatapannya kosong melihat indahnya bulan dan bintang. Hatinya terasa sesak kembali mengingat kondisi dirinya sendiri. Sedikit mengerikan dan berbeda dari sebelumnya. Matanya kembali memanas dan perlahan cairan bening memenuhi matanya. Dia menangis dalam diam. Setiap malam selalu menangis. Entah apa yang dipikirkannya hingga menangis sesak ditahannya.

"Ayo zira kamu pasti kuat, ayo bangkit lagi ya"

"Rasanya sakit ya? Gapapa ayo nikmati prosesnya"

"Lebih semangat lagi, jangan pernah malas!"

"Ayo yakinkan lagi dirimu, jangan buat mereka kecewa yang membantumu bangkit."

"Semangat Zira Semangat!"

Zira tersenyum dan menghapus kasar air matanya setelah menyemangati dirinya sendiri. Dia harus lebih semangat menghadapi hari esok. Memang, dunia bercandanya kelewat batas. Dia harus tersenyum melihat kondisinya yang sangat bisa dibilang buruk. Bagaimana tidak, tatapan matanya semakin tajam, wajahnya semakin datar, senyum yang jarang terlihat, bawah mata menghitam, banyak bekas luka yang dibuatnya sendiri hingga bau anyir darah bisa tercium dari tubuhnya.

Darah adalah kesukaannya. Warna merah favoritnya. Melukai diri sendiri adalah hobinya disaat depresi. Meski memiliki trauma pada darah merah. Entah kenapa rasanya sedikit lega setelah membuat karya yang indah di anggota tubuhnya. Tiada rasa sakit, yang ada hanyalah rasa senang dan tenang. Dia psikopat? Tentu saja bukan, Zira tidak sekejam itu untuk melukai dirinya hingga ingin membunuh orang lagi. Bisa dihitung berapa kali Zira akan membuat seni di tubuh seseorang yang menjadi targetnya. Seolah yang terlihat adalah bukan Zira yang biasanya, melainkan sisi lain Zira yang begitu tenang dan menakutkan.

Siapa sangka jika Zira adalah keturunan dari seorang militer penembak jitu dan sifat kekejaman serta keadilan seorang pemimpin. Siapa lagi kalau bukan kakeknya, ayah dari ibunya. Sifat kakeknya itu sangat menurun padanya. Hingga Zira adalah salinan dari kakeknya versi cewek. Jika kakeknya adalah orang yang sangat disegani, maka Zira adalah gadis rapuh yang berusaha bisa menjadi seperti kakeknya. Hingga dirinya tak perlu merasakan seperti sekarang jika dulu Zira mengikuti jejak kakeknya. Aliran darah kakeknya berada pada Zira. Ya, Zira mewarisi darah kakeknya. Kakeknya berharap Zira mau menjadi penerusnya. Zira ingin sekali menjadi penerus kakeknya, tetapi orang tuanya tidak mengijinkannya masuk ke dunia kakeknya. Karna dia seorang perempuan.

Zira membayangkan betapa keren dirinya jika sekarang bersama kakeknya. Memiliki banyak teman, disegani, bisa melakukan apa yang diajarkan kakeknya. Itu semua hanya masa lalu. Sekarang dia begitu jauh dengan kakeknya. Negara butuh kakeknya sebagai pemimpin, tapi keluarga juga butuh kakeknya.

"Huh jadi rindu kakek kan. Gimana ya kabar kakek sekarang? Pasti kakek semakin hebat" ucapnya lirih dengan membayangkan wajah tegas kakeknya.

"Huft, aku harus bisa menjadi penerus kakek. Karna aku cucu satu-satunya yang mewarisi darah kakek" wajahnya kembali ceria setelah berkata demikian.

"HUWA AYAH, KALO ZIRA BESAR NANTI ZIRA MAU JADI SEPERTI KAKEK AJA YA" tiba-tiba dia merengek lalu menangis secara bersamaan. Meminta ijin pada ayahnya? Baginya sangat mudah, daripada harus meminta ijin pada ibunya. Intinya ayahnya mendukung apapun yang dilakukan anaknya asalkan bisa buat zira untuk mengembangkan jati dirinya.

"MUNGKIN JATI DIRI ZIRA ADA DI DUNIA PASKIBRA DAN MILITER" dia bingung harus melakukan apa agar jati dirinya bisa muncul dengan baik.

"Ya, aku suka keduanya" ucapnya kembali lirih setelah semangatnya muncul sebentar.

Zira selalu teringat ucapan keluarga dan tetangganya. Mereka bilang Zira tidak pantas kesana, Zira gabakal bisa jadi seorang tentara, Zira adalah anak yang lemah. Zira anak bandel ga penurut. Hell! Padahal semuanya bisa dia buktikan dengan berusaha keras. Ucapan mereka hanya bisa ditelan oleh Zira. Diam lebih baik daripada dia ikut meladeninya. Katakanlah Zira itu patung bermuka datar. Yang terlihat tak peduli meski membuat mentalnya down. Belum saatnya dia membalas perbuatan mereka semua. Ada saatnya harus diam tanpa membalas.

Biarkan waktu saja yang menjawab semuanya, batin Zira.

******

Thanks ya udh sempetin baca. Feelnya dapet ga? Soalnya gue masih pemula.
Ceria ini murni dari pemikiran gue.
Kalian suka sama ceritanya? Vote dan komen yaa biar gue tmbh semangat buat nulisnya.
See you next part v:

Yayımlanan bölümlerin sonuna geldiniz.

⏰ Son güncelleme: Apr 27, 2021 ⏰

Yeni bölümlerden haberdar olmak için bu hikayeyi Kütüphanenize ekleyin!

Zira's story ( on going )Bağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin