Tok tok tok tok tok
Aku tetap menghiraukan ketokan badut itu, dia sudah berdiri sekitar 30 detik. Dia tidak bergerak menuju pengemudi mobil lain. Dia tetap mengetok-ngetok kaca mobilku. Bajingan bangsat, tak bisakah dia berhenti melakukan itu? Aku sudah memberikan tanda tidak mau memberikan uang padanya. Senyuman di topeng badut itu mulai membuatku mual. Tapi dia tetap acuh dan mengetuk-etuk kaca mobilku. Aku melirik jam tanganku, waktuku sempit. Aku tak punya waktu untuk menghajar badut sialan itu. Dan lampu lalu lintas ini tidak berubah-ubah warna.
Aku tidak mau memandangnya, tapi dia tetap mengetuk-etuk kaca mobilku tanpa henti. Aku muak, dan membuka kaca mobil. Berteriak dan memaki badut itu. Tapi dia tak bergeming dan meletakkan sebuah bungkusan merah, semerah darah kental. Dia langsung mundur, dan mobil di belakangku membunyikan klakson. Aku pun mengebut untuk meninggalkan bangsat badut itu secepatnya.
Aku melirik jam yang ada di mobil dan merasa cemas tidak bisa tepat waktu untuk hadir tepat waktu untuk bertemu dengan pengacara sialan yang menghisap habis uang perusahaan tanpa ampun. Pemberitaan negatif dari berbagai sudut-sudut seluruh devisi yang sudah aku sapu dan sembunyikan di bawah karpet menumpuk. Sialnya wartawan menemukannya dan bangsat aku harus menyewa pengacara itu. Pengacara sialan itu memang paling bagus, segerombolan perampok yang mengambil uangmu akan tampak seperti malaikat di depanmu ketika dia membela. Tapi dia meminta tarif yang sangat tak masuk akal. Dia juga terkenal disiplin, terlambat sedikit saja, dia akan menaikkan biaya konsultasi! Dasar makhluk penjilat! Aku mulai memaki-maki sepanjang jalan. Aku harus menetralkan emosi ini agar dapat bertemu dengan pengacara sialan itu dan memasang tampang sales! Agh!!!
Ah, sebentar lagi aku sudah harus mengakhiri makianku, berbelok ke gang itu. Lurus sedikit...,
Biiiiiip biiiiip bippp
Suara apa itu? Aku menoleh dan teringat akan bungkusan merah darah yang aku terima tadi. Aku menoleh,
BOOOOOOOOM!!!!
Sedikit-sedikit kesadaranku mulai menghilang, rasa sakit yang sangat menyayat ini mulai hilang. Kau tau? Seperti kau terluka dan memakan obat penghilang rasa sakit, dan obat itu mulai bekerja? Nah itu yang aku rasakan. Tapi aku merasa ada yang salah, jantungku tidak berdetak...
Mobil yang aku kendarai meledak tepat di depan perusahaanku.
ESTÁS LEYENDO
Badut Merah
Misterio / Suspensobadut merah itu terus mengetuk-ngetuk kaca mobil. aku sudah mengabaikannya tapi dengan senyuman konyol di topeng itu yang membuatku muak, dan melontarkan kata-kata kasar, dia tetap mengetuk-etuk. bangsat ini, aku menengok jam tanganku dan waktu yang...
