Satu

3 2 0
                                        

   Langkahku perlahan memasuki rumah yg bisa di sebut istana ini,masih seperti merasa berdebar antara nervous dan memikirkan bayang bayang akankah mampu menjadi asisten pribadi seorang Sabda Adhi narendra,pengusaha sukses di usia tergolong muda 35tahun.

   Rasanya sudah lama aku berjalan diantar seorang pembantu rumah tangga separuh baya lebih tapi tidak sampai juga di tempat yang dituju,yaitu halaman belakang dimana kandang kuda berada karena sangking luasnya dari depan kedalam rumah dan harus berjalan di lapangan luas.
  
   "Permisi mas,ini tamu yang mas sabda tunggu."

   Tampak empunya nama menoleh menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan, menghentikan mengusap kuda hitamnya.Sabda,pria dengan mata elang yang tajam dengan tinggi sekitar 180an,tidak terlihat sudah berumur 33 tahun dengan garis rahang yang jelas,hidung yang tergolong mancung untuk ukuran orang indonesia dan garis halus di sekitar dahinya.Aku hanya bisa menelan ludah karena ketampanan calon boss ku ini.Sedikit melangakah maju untuk memperkenalkan diri.

   "Saya Naira pak,yang mulai hari ini bekerja sebagai asisten pak sabda"

   "Kamu temannya sherli?ikut saya."

   Dan akupun hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkahnya yang menuju ruang kerjanya.Sherli adalah teman kerja di perusahaan dulu sebelum akhirnya aku memutuskan resign saat ibu stroke karna tidak ada yang mengurusnya.Kini ibu telah tiada,akupun sudah tidak punya keluarga karna bapak juga meninggal saat aku masih duduk di bangku smp.

   Begitu ada tawaran kerja dari sherli sebagai asisten pribadi yang tinggal di rumah majikannya akupun mengiyakan walaupun dengan skill kemampuan yang tidak terjamin,sherli mendukung ku menilik dari sifat ku yang sabar katanya.sudah pasti mampu menjadi asisten sabda yang terkenal dingin dan irit bicara.sherli pun menjelaskan kalau selama ini tidak ada yang pernah bertahan dalam sebulan menjadi asisten pribadi si Sabda ini mungkin karena sifat nya.Akupun membutuhkan pekerjaan ini karena gaji yang di tawarkan lumayan besar dibandingkan saat bekerja di perusahaan terdahulu.

   Aku menarik blouse yang aku kenakan saat merasa gugup begini,apalagi pak sabda dari tadi hanya melihat ku tanpa berkata satu katapun bahkan tidak mempersilahkan aku duduk sedangakan dia sudah duduk di meja kerjanya seraya memasukkan tangan kedalam kantong celana yang sudah pasti harganya bisa separuh gajiku mungkin.

   "Sherli udah jelasin semuanya?"

   "Sudah pak,mengenai gaji dan kerjanya pak,bahkan saat di haruskan tinggal di sini juga pak."

   "Keluarga?"

   "Maaf pak..oh maksud saya orang tua saya sudah meninggal pak dan saya sudah lampirkan itu di CV saya kemarin pak."

   "Nanti mbok tinah akan antarkan kamu ke kamar".

   "Bisa saya mulai kerja sekarang pak?"

Dia menatapku sebentar sebelum berkata.
   "Istirahat dulu."

   Iapun memanggil mbok tinah pembantu yang mengantarkanku tadi untuk menunjukkan kamar yang akan aku tempati.

   "Kalo begitu saya permisi pak".

   Kamarku ternyata ada di lantai dua di dekat kamar pak sabda.Mbok tinah juga menjelaskan kalau yang tinggal di sini hanya anak anak dari keluarga Adhi narendra yaitu pak sabda sebagai anak pertama,kedua mas argha adi narendra.Sedangkan si bungsu rastha putri narendra berkuliah di london dan orang tua pak sabda lebih sering tinggal di luar negeri untuk menghabiskan masa tua.Dari mbok tinah juga aku baru tahu kalau sherli adalah sepupu dari pak sabda.Lalu kenapa selama ini dia hanya kerja di perusahaan kecil kalau ternyata dia juga bagian keluarga kaya juga.Ah sudahlah aku juga tidak ingin terlalu ikut campur.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 08, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

alurWhere stories live. Discover now