Malam, malam yang dingin
ya, aku belum tertidur.
Sudah pukul 10, tetapi hawa ngantuk pun belum datang. Aku hanya ter ingat suatu kisah, kisah yang membuat hati ku remuk. Aku tidak mengenalnya, dia pun tak mengenalku, tetapi kenapa rasa rindu datang begitu saja?
ya, rasa rindu terhadap nya, bahkan akupun tidak pernah bertemu dengannya, tetapi mengapa aku sangat merindukan kehadirannya?
///////////
"Nak, bangun, sudah siang
Anak perawan kok jam segini masih tidur sih, hayuk tu mbak mu udah nunggu sama mas mu, kamu mau diajak jalan jalan katanya ke Danau Toba, tempat favorit mu"
Aku tak tau, aku dimana? Ibu tadi memanggilku nak, tetapi aku tidak mengenalnya, dia bukan ibu ku. Lalu kamar ku pun menjadi berubah, seperti gaya kamar tahun 60an, aku tidak tau apa yang terjadi padaku.
"Maaf ibu siapa ya? Dan aku dimana sekarang? Ini terlihat bukan seperti kamar ku?"
"Aduh nduk, saya ini ibu mu, bu Rustini Chamim, suami bapak Roni Chamim"
"Apa? Ibu? Chamim? Seperti familiar, Sekarang aku dimana bu?
"Di rumah mu nduk, di Medan, Sumatera Utara, kamu gak papa kan, apa kamu sakit? Lupa ingatan?"
"Oh ndak bu, maaf saya mau tanya lagi, sekarang tahun berapa ya bu? Soalnya suasana nya terlihat seperti jaman dulu, tidak terlihat seperti 2021"
"Eh anak ibu tidur semaleman sampai lupa tahun berapa, sekarang ini tahun 1965, tepatnya bulan januari tanggal 8"
"Apa? Tahun 1965? Bukannya 2021 bu?"
"Wah jauh sekali kamu mimpi nya, sampai ke 2021, sudah sekarang mandi, mas Pierre, dan mbak Rukmini sudah menunggumu di depan"
Aku hanya membisu, setelah kudengar nama Pierre dan Rukmini, aku seperti familiar mendengar namanya, tetapi hawa ngantuk masih menyerang tubuh ku, hingga ku tertidur lagi
Sesosok pria keturunan Belanda-Prancis datang menemuiku di kamar, dengan tidak sabaran menepuk nepuk pundak ku
"Rasti Chamim, bangun nduk, ini sudah siang, masih mau tidur kah?"
Aku kaget, ya nama ku Rasti, tetapi nama belakang itu bukan nama ku, nama ku Rasti Hendrayanti, tinggal di Jakarta bukan di Medan, dan akupun hidup di era milenial.
"Maaf mas ini siapa ya? Kayaknya kita baru kenal deh."
Omongan ku terhenti ketika aku berpaling menghadapnya, tubuh ku seketika kaku, ya ternyata aku mengenalnya, dia lah Bunga Bangsa yang telah gugur "Pierre Andries Tendean", salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia.
"Bapak Pierre? Pak maaf saya ini baru mau bang-"
"Wah sejak kapan kamu manggil saya dengan sebutan bapak? Apa sekarang saya sudah terlihat tua?"
Dia pun terkekeh saat aku memanggilnya bapak, aku tidak mengerti dimana letak lucunya, tetapi senyumannya sangat aku rindukan, ya dia seseorang yang buat aku rindu, walau tidak pernah berjumpa.
"Eh terus aku harus panggil bapak siapa? Kakek? Kakak? Mas?"
Aku kebingungan dan tidak tau apa yang harus aku lakukan, aku benar benar bingung.
"Kamu lagi kurang sehat ya? Biasanya saja manggil saya dengan sebutan mas pierre"
Senyum itu terukir di bibirnya, senyum hangat mewarnai pagi ini, aku sangat senang bisa bertemu dengannya.
"Eh iya mas, maaf efek masih ngantuk ini"
"Yasudah mas sama mbak tunggu kamu di depan ya, sambil mas mau manasin mobil dulu"
Aku masih tak tau harus berkata apa, aku harus memanggil dia mas? Apa? Aku masih kaget, dan masih tidak tau siapakah aku di tahun 1965 ini.
Aku pun keluar kamar ku, terlihat wanita cantik nan anggun yang duduk di sofa sambil meminum secangkir teh hangat.
"Adik ku sudah bangun, sudah siap kah ke Danau Toba, tempat favoritmu?"
Apa? Dia memanggilku adik? Berarti disini aku menjadi adiknya bu Rukmini Chamim, kekasih hati pak Pierre. Beliau sangat cantik duduk manis sambil meminum teh hangatnya, memakai setelan baju berwarna ungu.
"Iya mbak, maaf aku semalem ndak bisa tidur, jadinya bangun kesiangan"
"Ayo sudah siap semuanya? Makanan sudah siap?"
"Sudah mas, sudah siap semuanya, tinggal berangkat aja"
Saut bu Rukmini kepada pak Pierre, tak tau kenapa air mata ku jatuh begitu saja, melihat dua sejoli ini sangat mesra dan sangat tidak bisa dipisahkan.
Aku pun masuk ke mobil dinas pak Pierre dan berangkat menuju Danau Toba, aku pun kaget, mengapa semua orang disini tau, bahwa Danau Toba lah tempat favoritku.
"Rasti, kamu lapar tidak? Kalau lapar, mas punya roti di tas samping kamu itu, ambil saja ada 2 roti coklat kesukaan mu"
Rasa kaget pun menyerang tubuh ku lagi, mengapa pak Pierre tau makanan kesukaan ku adalah roti isi selai coklat, aku tidak merasa seperti orang asing disini karena semua orang tau tentang ku.
"Iya mas, aku ambil ya"
"Iya nanti kalau mau lagi, ambil yang satu nya, tetapi kalau yg kedua habis mas sudah tidak punya roti lagi"
Perkataan pak Pierre itu pun disambut gelak tawa oleh bu Rukmini dan aku sendiri. Aku pun langsung mengambil roti itu dari dalam tas nya, lalu menyantapnya sambil melihat pemandangan dalam perjalanan menuju Danau Toba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Heart Full Of Tears
Historical FictionApa? Aku ada di tahun 1965? Tidak ku sangka aku dapat mengunjungi tahun dimana saat idolaku masih hidup.
