[THE BEGINNING]

1.3K 120 3
                                        

Aku tidak suka taman komplek di sore hari. Terlalu berisik, tapi editor butuh bahan observasi untuk adegan slice of life di komik yang sedang kugambar. Jadi aku duduk di bangku paling pojok, dengan secangkir kopi dan notebook di pangkuan.

Sudah seminggu ini ada yang mengganggu konsentrasiku.

Seorang pria. Tinggi. Rambut pirang. Kemeja flanel.
Dia selalu duduk di bangku berseberangan dengan playground. Tidak bermain ponsel. Tidak membaca.

Awalnya kukira dia sedang menunggu anak atau keponakan yang bermain. Ternyata tidak. Dia hanya duduk, menonton. Memperhatikan anak-anak itu bermain sampai pukul lima, lalu pulang berjalan kaki ke arah ujung komplek.

Hari ketujuh, aku menyerah. Taman sudah kosong. Dia berdiri hendak pulang. Aku ikut berdiri.

"Permisi," panggilku.

Dia menoleh. Kami berjarak sekitar dua meter.

"Maaf mengganggu," kataku. "Boleh aku bertanya? Sudah seminggu ini aku perhatikan kamu selalu di sini. Hanya menonton. Tidak ada yang kamu tunggu atau jemput, kan?"

Sebenarnya pertanyaanku tidak sopan. Tapi rasa penasaran ini memang tidak pernah tahu situasi.

Dia diam sejenak, lalu menjawab, "Untuk latihan."

"Latihan apa?" tanyaku, nekat.

"Agar tidak kaget nanti."

"Kaget kenapa?"

Kali ini dia tidak langsung menjawab. Dagunya menunjuk ke arah playground. "Ayunan itu."

Ayunannya kosong. Bergoyang pelan karena angin. Aku mengerutkan dahi, tidak mengerti.

"Memangnya kenapa dengan ayunannya?"

"Di rumahku ada dua," jawabnya pelan.

"Di rumahmu?"

Dia mengangguk. "Ujung jalan."

Lalu hening. Dia tidak melanjutkan.
Aku menunggu, tapi tidak ada kelanjutan. Jadi aku mencoba memancing lagi.

"Kamu tinggal sendiri?"

"Iya."

Hening lagi. Tatapannya seolah menunggu aku menyambung sendiri, tapi aku tidak mau menebak-nebak.
"Terus ... kenapa dengan ayunan itu?" tanyaku hati-hati.

Tangannya masuk ke saku celana. Matanya kembali ke ayunan kosong itu. "Di rumah ada dua. Sepi. Tidak terpakai."

"Memangnya untuk siapa?"

Dia terdiam tiga detik. Seolah sulit menemukan kata. "Untuk istri, dan anak."

"Oh, kamu sudah menikah?"

Dia menggeleng.

"Sudah punya anak?"

Pertanyaanku keluar tanpa rem. Dia menggeleng lagi. Bukan.

Dadaku mendadak sesak. Bukan karena kasihan. Lebih karena terkejut. Ada orang yang menyiapkan sesuatu untuk orang yang bahkan belum pernah ia temui.

"Belum... ada?" tanyaku pelan.

Dia menggeleng. "Belum ketemu."

Singkat. Padat. Tapi tidak dingin. Ada beban di jeda kata "belum ketemu" itu.

Aku salah tingkah. Merasa seperti tidak sengaja mengorek luka orang. Buru-buru kualihkan pandangan ke notebookku. Ada stiker NAL Studios di sampulnya. Dia melihatnya.

"Kamu kerja di NAL?" tanyanya. Cepat. Seolah ingin mengganti topik lebih dulu dariku.

Refleks aku menutup notebook. "Iya. Kamu tahu?"

"Arsitek," katanya. "Pernah mengerjakan proyek di sana."

Pantas. Pantas dia bisa membangun ayunan sendiri.

Dia melirik jam di pergelangan tangan. "Sudah sore." Mengangguk. "Aku duluan."

Lalu dia berjalan ke arah ujung jalan. Meninggalkanku dengan empat hal yang mengendap di kepala: rumah yang sepi, dua buah ayunan, seorang arsitek, dan seseorang yang sedang menanti istri dan anak.

Besok aku akan membawa dua kopi. Bukan karena kasihan.
Hanya ingin memastikan, pria yang menunggu keluarganya itu... benar-benar ada.

========================
THE PLACE I CALL HOME
========================


THE PLACE I CALL HOME✔Stories to obsess over. Discover now