March Morgan pelan-pelan masuk ke dalam rumah.Tirainya tertutup maka lalu di sentakkannya. Terdengar suara mendencing. Ujung tali yang keras memukul kaca jendela. March kaget sendiri. Dalam rumahnya yang amat sepi suara mendencing itu terdengar tajam sekali.
Ia berperawakan tinggi,dahinya persegi,rambutnya yg hitam dengan di sana-sini sudah tercampur dengan warna putih, disisir lurus ke belakang. Raut mukanya cukup halus dengan rahang yang memperlihatkan wataknya yg tegas.
Di depan pintu terdengar suara gemersik,lalu seseorang mengetuk dengan ragu-ragu. March menoleh dan dilihatnya juru masaknya berdiri memandanginya. Rupanya ia kaget melihat March berada di kamar dan tirai jendelanya sudah yerbuka.
"Saya datang untuk menanyakan,kalau-kalau anda membutuhkan minum teh ,sir,"katanya. Suaranya begitu lirih hingga March hampir tidak bisa menangkapnya.
"Ya, Mary, terima kasih,"jawabnya. Suaranya sendiri terdengar terlalu keras.
March melihat bahwa wanita itu baru saja menangis. Ah , tidak mungkin ia menangis karena kehilangan florence. Ia baru saja bekarja di rumahnya selama tiga bulan dan selama itu dia tentu belum pernah melihat wajah nyonya rumah. Makanan untuk Florence selalu di bawa oleh March atau pun oleh Hana. Tak seorang pun diperbolehkan memasuki kamar tidur.
Sampai pada detik wafatnya Florence menolak mempekerjakan seorang perawat. Ia begitu keras kepala hingga March dan para dokter terpaksa menyetujui bawa Hana-lah orang yang paling dapat untuk merawatnya.
March ingat, telah dua hari Hana tidak muncul. Tentu Hana hancur hatinya. Bahkan Hana begitu sedih hingga tidak berani hadir pada waktu pemakaman. March berdiri sendirian di samping makam, melihat peti mati Florence yang penuh di rundung penderitaan dalam hidupnya, diturunkan pelan-pelan ke dalam kuburan yang lembab dan menghilang dari pemandangan.
Tidak ada saudaranya dan tidak ada seorang pelayat satu pun. March sama sekali tidak menyiarkan kematian Florence. Di samping itu mungkin tidak ada seorang pun yang ingat pada Florence, baik sewaktu hidup mau pun sesudah meninggal.
Pada tahun-tahun pertama penderitaannya,March selalu ingat akan enam bulan pertama pernikahannya. Enam bulan yang penuh dengan cinta kasih. Kemudian kenangan indah itu hilang digantikan kepahitan, sebab ia menyadari bukan hanya hidup rumah tangganya yang telah di korbankannya melainkan juga karirnya.
Selama empat tahun ia telah bertindak melawan keyakinannya, empat tahun berdusta berpura-pura, penuh kebohongan, empat tahun tidak pernah mempedulikan bagaimana Florence nanti jadinya, empat tahun selalu membujuk dan merayu Florence. Tetapi semuanya sia-sia belaka.
Ia seorang yang amat ambisius. Dan sebenarnya kariernya sebagai di plomat amat cerah, bahkaan mungkin ia akan bisa membuat kemajuan sensasionaal. Ia di sebut sebagai orang muda yang mempunyai masa depan gemilang, ketika ia pertama kalinya bertemu Florence. Dan selm setahun perkwinannya dengaan Florence atasannya masih memberikan laporan yang bagus mengenai kemajuannya.
Segala kemegahan masa depaan yang menantinyaa, membuat ia bangga, sampai suatu saat ia menyadari bahwa hidupnya tidak bisa dipertahankan demikian. Akhirnya ia menyampaikan surat permohonan untuk mengundurkaan diri. Kemudian setibaanya di rumah ia menangis tersedu-sedu bagaikn seorng anak kecil. Semenjak saat itu i tidak mempedulikan sesuaatu pun.
Kemudian menyusul hari-hari panjang tiada akhir dan tiada arti. Tingkah laku Florence, histerisnya, cemburunya,berkali-kali kehilangan kesadaran, akhirnya merupakan bagian dari hidupnya sehari-hari.
Ia selalu bersikap bagaikan lelaki yang bangga akan dirinya. Karena itu ia tidak mau membukakan kepada dunia, apa yang dideritanya sebenarnya. Mereka meninggalkan rumah mereka di London dan pindah ke daerah pedalaman, ke rumah yang ternyata ia berhasil. Mereka tidak mengenal seorang pun dan tidak mempunyai teman.
YOU ARE READING
A Night Full Of Dreams
FanfictionMarch baru saja kehilangan istrinya Florence. Untuk menghilankan kesedihannya Marce pergi ke desa supirnya yang kebetulan anaknya sedang sakit. Di desa itu March ketemu dengan seorang gadis yang cantik bersuara emas bagai malaikat. Bagai mana kelanj...
