Good bye and hello

963 95 6
                                        

I'm dancing in the moonlight, above the city lights, where all the shooting stars eventually die.

We're burned into the sky a million times

▪️▪️▪️








Di kediaman sebuah keluarga ini, suasana nya sedang berduka, karena baru saja ditinggal salah satu anggotanya. Upacara pemakaman sudah dilaksanakan, dan sekarang keluarga sedang saling menyambut sanak saudara dan setidaknya untuk berkumpul dan bercengkrama sebentar.

Tetapi Junkyu, selaku cucu dari seorang wanita tua yang baru saja menghelakan nafas terakhirnya itu memilih untuk duduk di teras belakang rumah, tidak berminat untuk berkumpul dengan yang lainnya.

Junkyu tinggal bersama neneknya selama 6 tahun ini, sejak orang tuanya bercerai. Dia lebih memilih tinggal bersama neneknya dibanding harus tinggal bersama ayahnya yang sangat kaku itu, kalau boleh sih dia ingin tinggal bersama ibunya daripada merepotkan neneknya, tapi apa daya, suami ibunya yang sekarang tidak mengizinkan. Tetapi untuk tinggal bersama neneknya pun Junkyu tidak bisa lagi, mau tidak mau dia akan tinggal bersama ayahnya setelah ini.

"Junkyu ya.. Maaf ibu tidak bisa menghadiri pemakaman nenek-"

"Kenapa?? Nenek kan ibunya ibu sendiri, kenapa ibu tega? Hiks"

"Maafkan ibu.. Ibu tidak bisa kemana-mana tanpa ayah tirimu, sedangkan ayah tirimu masih berada di luar kota untuk bekerja"

"Chh, ibu kan bisa kesini naik kendaraan umum? Aku tebak pria sombong itu tidak mengizinkan ibu kan?"

"Junkyu ya~ ibu minta maaf nak, ibu juga ingin berada disana"

"Minta maaflah kepada Almarhum nenek!" - tutt

- Dengan kesal Junkyu mematikan sepihak telfon dari ibunya itu, disaat seperti ini dia hanya butuh ibunya, karena di dunia ini yang sayang kepadanya hanyalah nenek dan ibunya, tetapi ibunya bahkan tidak ada.

"Junkyu! Kesini!" Panggil bibi Junkyu dari dalam, oh tuhan Junkyu hanya ingin sendiri saat ini, kenapa bibi menyebalkan itu mengganggu sih.

"Apa kau tidak punya telinga?!" Ucap bibi Junkyu saat sudah mendekat, dengan sedikit berteriak.

"Oh tuhan nak, maaf sudah membentak mu" Setelah melihat keadaan Junkyu yang ternyata sangat tidak baik baik saja, bibi Junkyu melunak. "Hey, kau harus kuat mulai saat ini okay. Nenek pasti akan bangga padamu, ingatkan nenek tidak suka cucu yang lemah" Ucap bibi Junkyu sambil mengusap rambut Junkyu mencoba menenangkan, Junkyu hanya bisa mengangguk.

"Ibu mu lebih menyebalkan kan daripada bibi? Tapi setidaknya ayahmu tidak lebih menyebalkan karena dia masih ingat untuk datang kesini"

Mendengar itu Junkyu langsung bertanya-tanya, apakah ayahnya kesini juga akan menjemputnya?

"Junkyu, kau pasti tidak lupa kan setelah ini kau akan tinggal bersama siapa?" Lanjut bibi Junkyu

Ya, mana mungkin dia lupa, memang siapa lagi yang mau menampung nya setelah ini, bibi juga pasti tidak mau kan.

"Temuilah ayahmu, sekaku apapun dia, dia tetap ayahmu, dia juga menyayangi mu"

Bohong. Ayahnya tidak pernah melirik Junkyu untuk sekedar memberikan perhatian kecil layaknya ayah pada umumnya. Yang Junkyu ingat, dia hanya peduli pada pekerjaan nya, bahkan dia membiarkan ibunya berpaling darinya dan berakhir berpisah.

Dia menunggu di kamar Junkyu, memakai setelan jas hitam, sepatu hitam dan rambut yang sangat tertata rapi -tidak pernah berubah sejak dulu. Pintu dibuka menimbulkan suara berderit dan ayah Junkyu pun menoleh kearah pintu, dengan wajah yang datar.

Daddy's Sweater | Harukyu (discontinued) Příběhy, které tě pohltí. Začni objevovat