Bagian 1.

350 22 2
                                        

December, 2016.

Do

Waeyo?

Aku membacanya sekali lagi. Sudah kubulatkan tekat sejak seminggu yang lalu untuk membicarakan hal ini. Tapi nyatanya aku tetap mati kutu di tengah panggung yang kudirikan sendiri. Aku mencari penguat. Apapun itu. Bahkan hanya segelas air mineral yang mendadak tidak terasa menyegarkan. Aku mulai mengedarkan pandangan tak karuan. Merasa tidak enak menggantungkan sebuah obrolan dimana akulah yang memulai duluan. Tapi juga belum sanggup melancarkan jawaban. Di menit kelima, akhirnya aku menyerah. Membuang segala ego, gengsi dan harga diri demi pertaruhan sebuah perasaan yang sialnya tak mati-mati.

Se Jeong, Kim

Can we meet? Ada yg pengin aku omongin

Handphone kulempar seenak jidat ke tengah kasur. Kakiku terasa lemah tak berdaya hanya sebagai penyemangat tubuhku untuk duduk. Bahkan sebelum aku mengumpulkan ulang semua kekuatan yang tersisa, handphone ku berdering. Mengabarkan bahwa ada sebuah pesan yang masuk. Melalui adegan jantung berdegup kencang, tangan tremor, kepala terasa melayang, dan nyawa yang rasanya ingin berpisah dengan raga, ku ambil handphone itu dan melihat pesannya.

Do

Eonjae? Eodiya?

Demi Neptunus, Yesus, Buddha, dan segala Tuhan di semesta alam! Aku perlu membaca pesan itu berulang kali agar aku benar-benar paham apa yang terjadi. Kukira aku sedang melewati ujian masuk perguruan tinggi dengan mencoba membuka obrolan dengannya lagi. Nyatanya hal itu jauh melampaui ekspektasiku. Jawaban yang ia berikan tak pernah ada di daftar 'kemungkinan dia bakal balas apa' yang kubuat selama sepekan ini. Harapanku totalitas dihamburkan. Benar-benar tak kentara arahnya.

Se Jeong, Kim

Besok jam makan siang, eottae? Your Heart Caffe?

Nafasku memburu. Belum sempat aku,

Do

Call!

Jantungku rasanya seperti mau meledak. Nafasku lepas begitu saja. Terdengar putus asa, pasrah bercampur sepersekian persen bahagia. Kakiku serasa tidak bisa digerakkan. Tremor di tanganku berhenti total dan bertransformasi senasib dengan kakiku. Tatapanku nyalang kosong ke depan. Satu-satunya hal yang kurasa masih dalam kendaliku adalah otakku sendiri. Praktis aku seperti patung berotak. Yang sejatinya bisa bergerak tapi memerlukan usaha lebih untuk mengkoordinasikan ulang seluruh anggota tubuhnya. Is this a real? Batinku bertanya.

***

Ini benar-benar nyata. Setelah adegan panik bercampur mini jantungan di pedestrian sebelum Your Heart Caffe, kini aku duduk di salah satu kursi di kafe paling terkenal di kota ku. Tak hanya itu, di hadapanku sekarang duduk seorang yang semalaman membuatku nyaris pantas dibawa ke rumah sakit jiwa atau minimal psikiater. Kami tak memesan makanan. Aku hanya membeli ayam pop dan segelas boba thai tea. Diam cukup lama bersarang hingga akhirnya seluruh kekuatanku terkumpul untuk memulai topik pembicaraan. Sekali saja kekuatanku penuh, aku tidak main-main dalam mengambil beberapa aksi sekaligus. Sudah kuniatkan akan kuselesaikan hari ini juga perkara pertaruhan perasaan itu sejak tiga tahun yang lalu. Apapun yang terjadi. Apapun resikonya. Aku terlanjur mantap.

"Oke, aku mau buat disclaimer dulu"

Ia menyandarkan punggungnya di kursi. Melipat tangannya di depan dada dan sialnya menatap mataku sepenuhnya.

"Di dunia ini ada dua tipe cowok. Yang pertama ketika ada cewek confess ke dia, dia menghargai cewek itu sepenuhnya, dia bangga karena cewek itu berhasil mengesampingkan ego, gengsi dan bahkan kodrat seorang laki-laki dan perempuan perihal asking and accepting someones's love. Terlepas dari apakah si cowok mempunyai perasaan yang sama atau tidak"

"Yang kedua, ketika ada cewek confess ke dia, dia merasa cewek itu murahan, gampangan, menyalahi kodrat dan terkesan jijik melihat perilaku cewek itu."

Cowok itu masih memperhatikan celotehanku yang mungkin terdengar ngawur. Sayangnya aku tidak peduli. Skenario yang kubuat sepekan belakangan ini harus berhasil kupentaskan. Aku tidak mau ada yang sia-sia di setiap usaha yang kutempuh untuk sampai titik ini.

"Aku tidak tau kau tipe yang mana, dan bahkan I don't even care. All I want to tell you right now is that, johayo. Neomu johahaeyo."

Matanya membelalak kaget. Tangannya terlepas begitu saja dari lipatan yang kukira tadi kokoh. Raut kaget tergambar dengan sangat jelas di wajah yang akhir-akhir ini terus-terusan menghantui pikiranku.

"I don't even need your fcking answer. This is a statement you know? I don't give you a question. You don't need to answer. I just want you to know so badly that I like you. I'm feeling deeper as days gone by. Its already 3 years, eh?"

Aku tertawa garing. Aneh sekali kedengarannya. Tetap kulakukan demi menghambat air mataku yang tak sabar ingin terjun bebas.

"Seriously, you don't need to give me responses. I don't even need that. Aku beneran murni cuman pengen ngasih tau. Sumpek tau ngga sih rasanya dipendem sendiri? So I decided to tell you" aku mengalihkan pandangan. Ingin menangis tapi juga masih ingin terlihat keren di hadapan cowok yang diam-diam selama tiga tahun terakhir ini kukagumi.

"Tapi kalau aku pengen nanggepin, neon, gwenchana?"

Kuharap jangan. "Ya itu hakmu sih"

"Se jeong~a"

"Wae?"

"Ara. Aku tau kau suka aku. Bahkan sejak kita lulus SMA. Aku juga kok," pada bagian ini jiwaku sudah mau melayang sebelum akhirnya cepat-cepat aku mengatur ekspresi agar masih terlihat keren di hadapannya. "sebagai teman." Untung saja.

"You are my best partner ever. Dan kupikir pertemanan kita memang ditujukan untuk itu. Waktu aku sadar kau punya perasaan padaku, bukan hanya kau yang perlahan-lahan menarik diri, aku juga, karena aku menghargai keputusanmu. Eottae?"

"Mwoya?"

"Apa tanggapanku bisa diterima?"

"Ya! memangnya aku berhak menolak?" aku tertawa. Sedang dalam usaha menciptakan suasana yang tidak canggung. Yang sepenuhnya didukung cowok di hadapanku ini dengan mengikutiku tertawa. I didn't regret fall in love with you, Do Young~a.

***

TitleDove le storie prendono vita. Scoprilo ora