"Oh sial tidak ada makanan."
Pemuda itu melihat kulkas yang kosong dengan dahi yang mengerut, setelah melihat beberapa saat untuk memastikan bahwa kulkas itu benar-benar kosong, pemuda itu menutup kulkasnya dan membuka lemari makan yang ada di atas kulkas itu, tapi tidak ada makanan di dalamnya jadi dia segera menutupnya, setelah itu dia berjalan menuju sofa yang berada di ruang tengah dan duduk disana.
"Belakangan ini tidak ada perkejaan paruh waktu baru di koran ataupun majalah, ini benar-benar tidak bagus untuk dompet ku."
Yang dilakukan pemuda itu hanya lah menggerutu, dia terus menerus komplain dengan keadaan yang dia alami sekarang, sesekali dia berteriak tapi tidak ada yang mendengar nya, suasana ruang tengah itu tetap sama yaitu suasana yang tenang dan damai.
"Tidak ada pilihan lain, aku akan pergi ke kedai milik Paman Ji, sebetulnya aku tidak ingin melakukannya tapi untuk sekarang mau tidak mau aku harus kesana."
Setelah dia membuat niat yang sebenarnya tidak dia inginkan, dia mulai berjalan keluar dari rumah dan tentu tidak lupa mengunci pintu.
"Baiklah sepertinya semuanya sudah aman dan terkunci, aku pergi dulu."
Dia tetap mengatakan itu walau dia tau tidak akan ada orang yang akan menjawab salam nya, setelah dia beranjak pergi dia melewati banyak sekali tikungan yang ada di jalan, matahari tepat berada di atas kepalanya menandakan waktu sudah memasuki tengah hari, setelah melewati banyak jalan yang berliku-liku akhirnya dia sampai di sebuah stasiun kereta yang sangat ramai, sebuah jam besar yang berada di halaman depan stasiun kereta itu berdiri dengan kokoh di atas sebuah tiang, pemuda itu melihat jam yang tinggi itu dengan mata biru nya.
"Oh ho! Hey Junta!"
"Apa aku mengenal mu?"
"Hahahaha! Oke lelucon mu bagus juga."
Tiba-tiba pemuda itu di sapa oleh pemuda lain, mungkin dia adalah temannya karena mereka terlihat cukup akrab, dan juga umur mereka terlihat tidak jauh berbeda, temannya itu masih tertawa terbahak-bahak sampai mata kuning nya mengeluarkan air mata.
"Jadi apa yang kau mau?"
"Ahaha.. Ya.. Kau tau mungkin ini sebuah takdir kita di pertemukan di stasiun ini, aku hanya ingin bilang bahwa aku tidak akan lagi datang ke sekolah sialan itu."
"Hm? Apa maksud mu Gil? Kau akan berhenti bersekolah?"
"Yap, orang tua ku harus pindah ke distrik lain di kota ini, lebih tepatnya mereka harus pindah ke distrik 24."
"Woah, itu distrik yang jauh sekali dari distrik ini, tapi aku dengar orang-orang disana tidak suka dengan seseorang yang memiliki rambut kuning, apa kau akan baik-baik saja nanti?"
"Ha! Apa kau lupa kau berbicara dengan siapa? Aku adalah pemimpin anak-anak nakal di sekolah kita! Tidak apa! Aku akan menghajar siapapun yang macam-macam dengan ku!"
Teman Junta, Gilda, mengatakan itu dengan penuh semangat, badan mereka tidak jauh berbeda, mereka berdua sama-sama kurus, tapi dapat di pastikan bahwa soal pertarungan tangan kosong Gilda sama sekali tidak bisa diremehkan.
"Apa kau sudah mengatakan kepada semua teman-teman mu tentang hal ini?"
"Belum, ayah dan ibu ku memutuskannya secara tiba-tiba, lebih tepatnya kemarin sih, jadi aku tidak ada waktu untuk menghubungi teman-teman ku."
"Kau tau, kau harus menghubungi mereka sekarang, apa kau bisa membayangkan bagaimana keadaan sekolah ketika tidak ada pemimpin para preman yaitu kau?"
"Hoho! Aku dapat membayangkannya dengan jelas, tidak ada seseorang yang di takuti maka anak-anak nakal itu pasti mulai berulah, dan mungkin mereka akan membuat grup-grup kecil untuk merebutkan kekuasaan atas seluruh preman di sekolah itu."
YOU ARE READING
Junta & Dunia Sihir
FantasySebuah insiden tragis telah menimpa keluarga Junta dan sekarang dia sedang mencari pelaku yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
