33

246K 7.8K 492
                                    

"Kenapa itu badan dicoret-coret?" dengus kesal Engkong Dahlan yang melihat dada telanjang Enno yang penuh tatoo namaku begitu keluar dari kamar mandi.

Habis main di empang badan kotor semua, ditambah bau amis ikan jadi harus mandi kalau ngga mau badan gatal. Berhubung kontrakan kita berdua agak jauh jadi terpaksa ngungsi ke rumah Engkong Dahlan. Tempatnya lumayan besar berisi benda-benda antik peninggalan penjajah. Halaman depan-belakang saja bisa buat lapangan sepak bola saking luasnya.

Aje gile, ternyata Enno keturunan 'Tuan Takur' alias tuan tanah jaman Belanda dulu. Warisannya bejibun, ngga ngerti kenapa Enno kok mau hidup susah bareng aku?

"Ini namanya tatoo, keren tahu." jawab Enno santai nunjuk tatoo nama aku di dadanya dengan bangga lalu, mengeringkan rambut dengan handuk yang sebelumnya melilit pinggangnya.

"No!" teriakku panik, takut kalau jujun-nya terekspos publik.

Enno cuma nyengir. "Santai aja kali ay!" goyang gotik, sengaja menggodaku yang tertipu ulahnya. Ternyata dia sudah pakai boxer dari kamar mandi dan aku cuma bisa manyun, ngga mungkin aku geplak lakiku sendiri.

Sudah dosa, depan kakek mertua pula. Bisa hilang jatah warisan anakku.

Matre mode on!

Plakkkk...

Kepala Enno kena geplak.

Itu bukan aku, itu Engkong Dahlan.

"Dasar bocah, udah mau punya anak masih bertingkah." Engkong Dahlan berkacak pinggang didepan Enno yang meringis kesakitan memegangi kepalanya. "Kagak kerja lo? Bini hamil malah diajakan kelayapan main di empang, kalau ada apa-apa sama bakal cicit gue gimana? Engkong lo ini udah tua kalau sampai kena jantung begimana?" lanjut Kong Dahlan panjang lebar hampir berbusa.

Aku yang duduk-duduk depan TV cuma bisa diam menghayati. Enno malah cuma nyengir lalu ikutan duduk di karpet dengan kaki diselonjorkan ke depan.

"Libur Kong, lagian Kanadia sendiri kok yang minta dianter kesini. Katanya dia pingin anaknya lebih dekat sama buyutnya." seloroh Enno, mencari alasan agar selamat.

"Alasan lo!" balas Engkong Dahlan tak tertipu. "Kalo mo ketemu gue lo bisa langsung kemari, bukan main di empang kayak anak SD!"

Hehehe... Enno langsung kisut habis kena marah, bibirnya maju beberapa centi kedepan. Lucu, imut banget!

Biar saja dia kena marah, minta ke Maldives malah diajak main ke empang ditambah bohongin Engkong. Jadi diem saja, nikmati pemandangan langka Enno mencurut diomeli Engkongnya.

"Enno kemari bukan cuma mau main Kong, Enno kesini buat bicarain bisnis!" dalam hitungan detik wajah Enno berubah serius, tidak ada wajah manyun yang sebelumnya.

Tapi apa iya bisnis? Atau hanya sekedar alasan saja?

Haduch Kanadia, laki lo sendiri noh. Masak lo ngga percaya?

"Bisnis apaan?" tanya Engkong Dahlan bersamaan denganku, kemudian kami saling berpandangan. Aku sama Engkong Dahlan, yang langsung bikin aku nunduk malu.

"Emang kerjaan lo di kantor masih kurang, mau bisnis apaan lo? tanya Engkong Dahlan, sedang aku hanya bisa diam mendengarkan sebagai istri dan cucu menantu yang baik.

"Bisnis yang pasti bikin Engkong bangga." ucap Enno penuh keyakinan, lalu mengambil handuk yang sebelumnya dipakai untuk dijadikan kemben menutupi dada telanjangnya.

Makin aneh saja laki gue! Si Engkongpun hanya bisa geleng-geleng disaat aku tersenyum kecut.

"Empang ikan lele Engkong kan luas tapi ngga ada yang ngurusin, biar Enno yang bantu Engkong mengembangkannya."

Kanadia ChantiqTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang