[02] Siapa Pelakunya?

316K 22.3K 790
                                    

[02] Siapa Pelakunya?

⚽⚽⚽

"Siapa yang ngelapor ke Agam?"

"Gilak si Agam. Radarnya kenceng banget kalo nyangkut Lamia."

"Nepi oy, nepi. Entar kita ikut kena getahnya."

Celetukan-celetukan itu terdengar seiring dengan kedatangan Agam. Celetukan yang bernada horor, tapi tak bisa dipungkiri kalau ada saja yang masih mengangumi tanpa melihat sikon.

"Sini, gue yang bawa," ucap Agam langsung ketika hanya berjarak beberapa inci dari badan Lamia.

Cowok itu berkata dengan nada tak terbantahkan. Ketus, namun sekaligus tegas. Tidak memedulikan apakah Lamia akan diserahkan secara baik-baik atau tidak.

Kedua lengannya langsung merebut paksa Lamia dari bopongan tiga cowok itu. Bersikap kasar memang, tapi langsung berubah lembut dan hati-hati ketika Lamia sudah ia gendong sepenuhnya.

Seolah Lamia begitu rapuh, seolah pingsannya Lamia menunjukkan si perempuan sedang kritis. Seolah timpukan bola itu bisa meremukkan badan si perempuan.

Ketiga cowok itu jelas hanya bisa pasrah ketika Lamia berpindah tangan. Gugup, canggung, serta takut. Perasaan terkutuk itu langsung hadir.

Agam bergegas membalikkan badan, bersiap akan pergi dengan cepat menuju UKS. Seolah beban berat badan Lamia bukan masalah untuknya.

"Agam, mau dibawa ke mana Lamia?"

Pertanyaan dari Pak Salman--sang guru olahrga--menghentikan langkah Agam. Cowok itu kembali menoleh.

"Ke UKS lah, Pak. Biar saya aja yang bawa. Terlalu lambat kalo cuma ngangkat Lamia aja butuh tiga cowok." Lirikan meremehkan pun tak lupa ia tujukan pada tiga cowok itu.

Tidak memedulikan sekitar lagi, Agam langsung melangkah cepat-cepat ke UKS. Ia nyaris berlari, langkahnya lebar-lebar dan sangat terkesan buru-buru. Kedua tangannya merengkuh Lamia dengan erat. Meskipun ia bergerak cepat, tidak akan ia biarkan Lamia terlepas dari pegangannya.

Begitu sampai di ruang UKS, Agam langsung membaringkan Lamia dengan hati-hati. Dokter yang sedang berjaga di sana sempat terkejut ketika seseorang nenerobos masuk dan langsung menggulingkan 'pasien'.

SMA Atlanta memang tidak tanggung-tanggung dalam menyediakan fasilitas. Bukan hanya anggota PMR saja, melainkan dokter langsung! Setiap hari, selalu ada satu orang dokter yang berjaga di ruang UKS. Dokter yang memang khusus menangani para penghuni Atlanta.

"Dok, temen saya pingsan kena tendang bola. Tolong diperiksa. Dia gak gegar otak, kan?"

Agam menatap dokter perempuan itu, bertanya dengan gusar. Tampangnya begitu polos, seperti anak kecil yang ketakutan ketika hamster peliharaannya tidak mau makan.

Dokter berusia empat puluhan itu tersenyum kikuk, bingung mau menjawab apa. Sebagai respons, ia bergegas memeriksa Lamia dan segera mengambil tindakan pemulihan.

Sementara Agam di dalam--membantu sang dokter tanpa diminta--para murid XII IPA 1 berkerumun di luar. Hanya sebatas berdiri di dekat pintu masuk atau mengintip melalui kaca. Hanya sebatas itu. Mereka semua tidak ada yang berani masuk.

Tak lama kemudian, Pak Salman masuk ke ruangan. Guru itu ingin memastikan keadaan anak muridnya. Sang dokter menjelaskan kalau Lamia hanya terkena benturan ringan. Pingsannya Lamia bukan hal yang serius. Pak Salman mengangguk mengerti, setelahnya ia kembali keluar ruangan.

Baru saja Pak Salman berbalik pergi, Agam menatap Dokter Yesti. "Beneran Lamia gak apa-apa, Dok?" tanyanya memastikan.

"Iya, Lamia gak apa-apa, Agam. Lecet di dahi dan lututnya juga sudah kita perban, kan? Selain itu, Lamia gak terluka apa-apa lagi. Kita tinggal menunggu sampai dia sadar saja," jelas Dokter.

Kembali ke Pak Salman, guru itu berusaha membubarkan kerumunan di dekat UKS.

"Kenapa kalian masih di sini? Cepat kembali ke lapangan! Jam olahraga masih berlangsung."

"Tapi, Pak ...."

"Tapi tapi apa? Sudah sana kembali ke lapangan," tegas Pak Salman.

Pak Salman mendahului para siswa ke lapangan. Beberapa mulai mengikuti guru itu dengan patuh, tapi ada juga beberapa yang masih diam di tempat karena tahu insiden pingsannya Lamia ini belum selesai. Terutama sang tersangka yang terus berkeringat dingin sejak tadi. Suatu keajaiban kalau dia bisa selamat dari Agam setelah ini.

"Siapa yang nendang bolanya?"

Nah kan benar! Baru saja dipikirkan, si setan sudah nongol di depan pintu UKS yang ia tutup dari luar. Bukan hanya si tersangka yang bergidik terkejut, melainkan yang lainnya juga.

"Jawab! Siapa pelakunya?!" bentak Agam karena semua orang di depannya cuma bisa diam dan saling melempar lirikan.

"Gam, yang penting kan Lamia gak apa-apa."

Reno--si ketua kelas tercinta--berusaha meredam emosi. Usaha yang sia-sia sebenarnya. Tapi murid kelas, terutama sang tersangka, sangat berterima kasih atas sikap 'berani' Reno ini.

Agam langsung memberikan tatapan menusuk. Ekspresinya sangat amat menunjukkan kalau dia tidak suka dengan apa yang Reno ucapkan.

"Itu bukan jawaban dari pertanyaan gue tadi," ucapnya tajam.

Reno menelan ludah kasar. Kampret! Kenapa berhadapan dengan Agam bisa buat deg-degan begini? Kayak lagi ngadepin gebetan aja.

"Siapa?!" Agam berteriak gahar, lagi-lagi semua bergidik ngeri. "Gak ada yang mau ngaku? Pengecut, huh?"

Lagi-lagi hanya saling melempar lirikan.

"Gak ada yang mau jawab? Berarti gue anggap kalian semua pelakunya! Kalian semua yang salah!"

Mereka melotot horor. Gila aja! Makasih deh. Gak lagi-lagi berurusan sama Agam. Apalagi kalau mau dijadiin samsak kemarahannya. Makasih, makasih!

Cowok yang berdiri di samping sang tersangka mencoel pelan. Memberi lirikan mata kalau ia mesti mengaku. Menghela napas berat, si tersangka bersiap menemui 'algojonya'.

"Gu-gue yang nendang bolanya, Gam. Ta-tapi gue gak se--"

Sebuah tonjokan kuat langsung melayang ke rahang si pelaku, menghentikan ucapan serta memancing teriakan panik para cewek. Sontak mereka menjauh, seolah memberi ruang bagi Agam untuk memukuli Adit--si pelaku.

"Bangsat! Banci lo, hah?! Mau ngaku aja lama bener!"

Agam berseru marah. Tangan kanannya sudah mencengkram kerah baju Adit. Sementara tangan kiri bersiap melayangkan bogem mentah lagi.

"Ma-maaf, Gam! Gue beneran gak sengaja nendang bolanya ke Lamia. Gue beneran gak sengaja." Adit takut setengah mati.

"Gam, lepasin Adit!" Reno berusaha melerai perkelahian satu arah itu.

"Gak usah ikut campur lo!" Agam memberikan tatapan membunuh, seolah memberikan penawaran kalau Reno mau, ia tidak keberatan melayangkan tinju pada dua orang.

Setelahnya, sebuah tinju melayang lagi di pipi Adit. Teriakan para cewek kembali terdengar. Kali ini, Adit sampai tersungkur. Darah segar pun mulai mengalir di sudut bibirnya.

"Laporin Pak Salman! Ia cepet, cepet laporin!" ujar salah satu murid.

"Laporin aja. Kalian kira, gue takut?" tantang Agam.

Diam. Nyatanya, sama sekali tidak ada yang bergerak di antara mereka. Lagipula siapa yang berani melapor kalau sebagai konsekuensinya akan dijadikan next samsak oleh Agam.

Mereka hanya berharap semoga Pak Salman segera ke sini karena tidak semua muridnya berada di lapangan. Atau kalau tidak, ada guru lain yang melihat kejadian ini. Atau ... ah entahlah! Pokoknya siapa pun seseorang yang berpengaruh segeralah datang ke sini.

Agam menyeringai karena tidak ada yang bergerak melapor. Ia lalu maju, melangkah menghampiri Adit yang tersungkur di lantai itu.

Belum sempat Adit mengelak, Agam sudah kembali mencengkram kerah bajunya. Ditariknya paksa Adit agar berdiri. Dan lagi, sebelah tangannya bersiap melayangkan tinju.

"Agam! Lamia bisa marah kalo tau lo berantem lagi!"

Seorang cewek menembus kerumunan penonton. Dan tepat! Seolah seperti mantra, ucapan itu menghentikan gerak tangan Agam.

***

Bad Boy on My BedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang