ABSQUATULATE (TERBIT)

By yusssnita

45K 16K 3.6K

Copyright©Yusnita Anggraeni, 2021 Desain sampul by: Javasun Aden Ancasiku LovRinz Publishing Cetakan 1, Des... More

Prolog
CAST
[1] Andra Lagi
[2] Dia Kembali?
[3] Benar, Dia Kembali
[4] Ciize Airazena Zatama
[5] Ulah Johan
[6] Cerita Masa Lalu
[7] Bertemu Kembali
[8] Menjadi Siswi SMA Adijaya
[9] Satu Kelas
[10] Mantan-Mantan Devano
[11] Tidak Ingin Bersaing
[12] Di antara Mereka
[13] Berangkat Bareng Andra
[14] Kembalinya Geo
[15] Bertemu Geo
[16] Geo Kakak Irine
[17] Gara-Gara Sintia
[18] Keributan di Basement Mall
[19] Di Pihak Devano
[20] Perasaan Andra Kepada Zena
[21] Mereka Pacaran?
[22] Malam Balas Dendam
[23] Malam Balas Dendam-2
[24] Sampai Ketemu di Neraka, Dev!
Selesai
[25] Alasan Yang Sebenarnya
[26] Pernyataan Cinta Andra
[27] Akhir Cerita Devano dan Zena
[28] Zena Milik Andra
[29] Kembali Sekolah
[30] I Still Love You
[31] Ane
[32] Rencana Menonton Futsal
[34] Ane Lagi
[35] Cemburu
[36] Menemui Seseorang
[37] Pertengkaran Andra dan Zena
[38] Prasangka Buruk
[39] Dalang Pertengkaran
[40] Salah Paham
[41] Rahasia Devano
[42] Malam di Hari Ulang Tahun Rio
[43] Perkelahian Devano dan Andra
[44] Zena Bukan Milik Andra
[45] Janji Devano
[46] Kembali Dekat
[47] Keduanya Memilih Melepaskan
[48] Penggosip Sekolah
[49] Bukan Sembuh Hanya Bertahan
[50] Perasaan Yang Mudah Berubah
[51] Pulang Bareng
[52] Selfi Empat Curut Adijaya
[53] Mengalah Lagi Untuk Andra
[54] Pada Akhirnya Merekalah Yang Bersama
[55] Ternyata Memang Check Up Terakhir
Epilog
Extra Part
Info Penting
Judul Baru dan Cover Baru
OPEN PO! 🤩
2 Hari Lagi!
PAKET! 🤩
OPEN PO KEDUA! 🤩

[33] Telepon dari Seseorang

462 206 61
By yusssnita

Happy reading


Jumat sore sepulang sekolah terlihat motor Devano melaju menuju tempat pertandingan futsal dengan seorang gadis berambut panjang yang membonceng di jok belakang. Siapa lagi kalau bukan Zena. Walaupun kemarin laki-laki itu bersikeras menolak, tetapi akhirnya sore ini Devano tetap menbawa Zena bersamanya.

Selama di perjalanan keduanya sama-sama diam. Sama sekali tak ada pembicaraan di antara keduanya. Sampai akhirnya setelah beberapa menit keduanya sampai di tempat pertandingan. Devano memarkirkan motornya di samping motor teman-temannya yang lebih dulu sampai.

Saat keduanya sudah turun dan akan masuk menghampiri teman-teman mereka di tribun penonton ponsel di saku celana Devano berdering. Dengan cepat Devano merogoh sakunya dan melihat siapa yang menghubunginya.

"Lo masuk duluan aja, nanti gue nyusul" kata Devano menyuruh Zena.

"Oke. Aku masuk duluan, ya," kata Zena patuh. Gadis itu melangkah meninggalkan Devano.

Setelah Devano memastikan Zena sudah masuk baru Devano berjalan mencari tempat yang sepi untuk mengangkat telepon itu. Devano mengambil napas panjang lalu membuangnya. Baru akhirnya dia mengangkat telepon yang entah dari siapa itu.

"Sore, Dev?" sapa seseorang dari seberang telepon.

"Sore."

"Kamu di mana, kenapa belum datang? Sudah saya sudah menunggu kamu dari tadi."

"Saya gak bisa dateng. Saya ada urusan."

"Urusan apa? Sebaiknya kamu segera ke sini."

"Apa gak bisa besok?"

"Kamu jangan bercanda. Mana bisa diundur."

"Tapi saya udah pergi. Lagian sekarang semua baik-baik aja."

"Kamu sudah ada janji dengan saya. Kamu harus datang sekarang."

"Tapi saya beneran gak bisa ke sana. Kalau ada yang gak beres, nanti saya pasti ke sana."

"Kamu tidak bisa menyepelekan masalah ini, Dev. Akibatnya bisa fatal."

"Saya tahu."

"Kalau kamu tahu, kenapa kamu masih bandel. Seenggak kita harus berusaha."

"Udah gak ada harapan lagi."

"Kamu jangan berbicara seperti itu. Saya minta sekarang kamu dateng ke sini. Saya tidak mau—."

"Saya minta maaf. Hari ini saya gak bisa dateng. Dan kemungkinan besok Minggu sore saya juga gak bisa," potong Devano.

"Kalau seperti itu kita ubah saja—."

"Gak perlu," lagi-lagi Devano memotong ucapan seseorang di seberang telepon.

"Tapi, Dev—."

"Saya tutup teleponnya."

Tut ... tut ... tut ...

Devano mengakhiri panggilan itu secara sepihak. Devano memasukkan kembali benda persegi tadi ke dalam saku celananya dan segera menghampiri teman-temannya.

Siapa sangka, ternyata Zena sedari tadi berada tak jauh dari tempat Devano menerima telepon. Zena bisa mendengar jelas percakapan Devano dengan seseorang di sebrang telepon. Awalnya Zena tak berniat menguping, tetapi tiba-tiba tadi dia ingin buang air kecil lalu dia pergi ke toilet dan kebetulan Devano berdiri tak jauh dari toilet dan tak sengaja dia mendengar percakapan itu. Anggap saja Zena lancang, karena menguping pembicaraan orang lain, tetapi mendengar apa yang Devano katakan tadi membuat Zena menjadi khawatir.

Zena yang belum jadi masuk ke kamar mandi segera masuk dan setelah beberapa saat dia kembali ke tribun.

Suasana di dalam sangat ramai. Semua suporter dari Tim Adijaya dan Tim Cakrawala saling berteriak dan bersorak memberi semangat pada jagoan mereka masing-masing. Zena yang baru saja masuk berjalan melewati beberapa orang yang Zena tau itu adalah siswa SMA Adijaya hanya saja dia tidak tau namanya. Zena duduk di samping kanan Meisya sedangkan di samping kirinya ada Devano.

"Lo dari mana?" tanya Devano yang melihat Zena baru saja datang.

"A-aku habis dari toilet," jawab Zena. Devano hanya mengangguk tak mencurigai gadis itu sedikitpun. Zena menghela napasnya lega, untung Devano tak melihatnya tadi.

Setelah itu mereka sibuk menonton pertandingan sesekali ikut bersorak menyemangati Tim Adijaya. Setelah beberapa jam akhirnya pertandingan selesai. Jelas Tim Adijaya yang menjadi pemenangnya. Devano cs. dan Zena cs. turun dari tribun penonton menghampiri Bian yang masih bercucuran keringat.

"Mantab! Selamat, Bos," Sean mengajak tos sahabatnya dan anak-anak tim futsal lainnya diikuti Dio dan Devano.

Bian mendekatkan bibirnya ke telinga Dio lalu membisikkan sesuatu. "Jangan lupa. Satu minggu," kata Bian mengingatkan taruhan mereka kemarin.

"Iya!" jawab Dio.

"Selamat ya, buat kalian," sela Zena ikut memberi selamat.

"Makasih, Zena," balas Bian sangat senang. "Lo jadi dateng bareng Devano?" tanya Bian.

"Iya," jawab Zena.

Bian spontan menyenggol bahu Devano yang berada di dekatnya. Devano langsung memberikan tatapan tajam padanya dan Bian hanya menyengir kuda melihat ekspresi Devano.

"Selamat, ya," kata Tiara.

"Makasih, Ra," jawab Bian.

"Selamat Bian dan teman-teman," kata Cika.

"Aduh, makasih lho, Cik."

"Duh, ada yang gak peka kalau ditungguin," kata Bian menyindir Meisya yang tak kunjung mengucapkan selamat padanya.

"Kan, belum menang. Masih ada final besok," kata Meisya sangat jual mahal dengan Bian.

"Kalau besok gue menang lo jadi pacar gue, ya?" kata Bian. Meisya langsung cengo mendengar ucapan lelaki itu.

"Apaan? Engga!" tolak Meisya.

"Pokoknya kalau gue menang lo jadi pacar gue," kekeh Bian membuat kesepakatan sepihak.

"Iya udah, terima aja. Lagian nanti lo jomblo sendiri," tambah Dio mengompori.

"Tiara juga masih jomblo," jawab Meisya mencari teman.

"Kata siapa? Orang Tiara udah jadian sama gue," kata Dio dengan bangganya membuat semua menatap tidak percaya dan terkejut ke arah Dio dan Tiara. Sedangkan Tiara memelototi Dio, karena lelali itu keceplosan.

Dio menutup mulutnya dengan tangan. "Aduh, maaf keceplosan," kata Dio menatap Tiara. Tiara langsung menyengir malu, karena di tatapan Zena dan Meisya.

"Lo beneran udah jadian sama Dio?" tanya Meisya tak percaya. Mau tak mau Tiara jujur, dia mengangguk sambil menyengir kuda.

"Ya ampun, akhirnya jadian juga, kan," kata Zena terlihat senang dengan kabar itu.

"Lo dipelet sama Dio? Kasihan banget. Sadar Ra, sadar. Nyebut pelan-pelan," kata Sean membuat semua yang berada di sana tertawa.

"Sembarangan kalau ngomong!" Dio menjitak kepala Sean sampai membuat Sean mengaduh.

"Nah, jadi lo mending terima gue jadi pacar lo," kata Bian pada Meisya lagi.

"Kita lihat aja nanti. Lagian belum tentu juga lo menang," kata Meisya meremehkan.

"Oke, kita lihat nanti. Lo semua jadi saksi, ya?" kata Bian pada teman-temannya.

Mesiya seperti kehilangan akal, karena mau-maunya menerima taruhan curut itu. Meisya sekarang sepertinya kurang ajar, karena dalam hatinya dia berdoa agar Tim Adijaya kalah saja.

"Berarti sekarang yang jomblo Devano, dong?" tanya Dio melirik Devano dengan ekor matanya.

"Jangan mulai," kata Devano malas.

"Ehm, gimana kalau kita cari makan aja?" ajak Zena bermaksud mengalihkan pembicaraan.

"Boleh," sahut mereka serempak.

"Tapi gue bersih-bersih dulu," kata Bian.

"Iya," jawab Zena.

"Lo semua tunggu di parkiran aja," kata Bian dibalas anggukkan dari teman-temannya. Setelah itu ketujuh remaja tadi menuju parkiran untuk menunggu Bian.

Setelah beberapa menit Bian sudah menghampiri mereka lalu delapan remaja SMA itu bersama-sama menuju restoran untuk makan. Devano berada di paling depan, lalu diikuti Sean, lalu motot Dio, dan yang paling belakang Bian.

Di perjalanan. Cika yang membonceng Sean tiba-tiba bertanya pada kekasihnya. "Bukannya Zena itu pacarnya Andra? Tapi kok dia malah sama Devano?"

"Sebenernya kemaren Zena mau nonton sama Andra, cuma Andra ada acara jadinya dia bareng Devano," jawab Sean.

"Ehm, tapi kok aku ngerasa mereka ada sesuatu, ya."

"Sesuatu apa, Sayang?" tanya Sean.

"Iya, soalnya daritadi aku gak sengaja ngelihat, kalau Zena tu sering banget curi-curi pandang ke Devano."

"Mungkin gak sengaja. Udah jangan punya pikiran buruk."

"Iya engga kok."

"Andai aja Zena masih jadi pacar lo, pasti momen kayak gini bakal jadi momen asik buat kita semua," —batin Sean.

Lelaki itu membayangkan jika Zena itu masih menjadi kekasih Devano dan Dio juga Bian akhirnya bisa mendapat pacar lalu mereka hangout bersama setiap weekend seperti sekarang pasti itu akan sangat asik dan menyenangkan. Namun, sayangnya itu hanya angan-angannya saja, karena kenyataannya Zena sekarang sudah menjadi milik Andra. Dan betapa malangnya nasib Devano yang sekarang statusnya jomblo sendiri di antara keempat curut.

Sebenarnya untuk mendapatkan kekasih itu mudah saja bagi Devano. Banyak yang mengantre untuk menjadi kekasih Devano, bahkan Devano bisa saja tinggal menujuk mau yang seperti apa. Hanya saja Sean tahu, Devano bukan tipikal lelaki yang akan dengan mudah jatuh cinta terlebih mengingat betapa rumitnya kisah cinta yang pernah Devano alami.

•••

Ponsel milik Devano terus berdering membuat Devano beberapa kali mendengus kesal, karena Devano yakin orang yang menghubunginya adalah orang yang sama dengan yang menghubunginya tadi sore. Devano meraih benda persegi itu dari nakas saat dilihat benar saja itu orang yang sama.

"Malam, Dev," sapa seseorang itu.

"Malam."

"Semua baik-baik aja, kan?"

"Iya. Anda gak perlu khawatir."

"Besok Minggu kamu harus tetap menemui saya. Saya tidak mau menerima alasan apapun."

"Saya udah bilang, saya gak bisa."

"Saya gak mau menerima alasan."

"Atau saya akan mem—."

"Jangan," potong Devano cepat. "Anda udah janji sama saya."

"Tapi kamu—."

"Saya mau istirahat," potong Devano yang langsung mematikan telepon itu.

Tut ...tut ... tut ...

Devano melempar ponselnya ke atas kasur lalu melangkah ke balkon. Tangan kekarnya membukan pintu balkon. Dia berdiri di balkon kamarnya dengan ditemani semilir angin malam. Tangannya bergerak merogoh saku celana jeansnya, mengeluarkan satu bungkus rokok dan korek gas dari dalam saku itu.

Satu batang rokok kini sudah berada di sela-sela bibir merah Devano, tangan kanannya menyalakan korek gas di depan rokoknya, sedangkan tangan kirinya menutupi api yang menyala agar tidak mati tertiup angin malam itu. Gumpalan asap putih keluar dari mulut dan hidung Devano. Lelaki itu menghabiskan malamnya untuk menikmati satu batang rokok di atas balkon kamarnya dengan beban pikiran dan perasaan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Tebece!

▪▪

D E V A N O
Dec 31, 2020 at 8:03 AM [1710 words]
Yusss



ig : @storyusss_
ig : @yusssnita_
TikTok : yusssnita

Enjoy this story

Continue Reading

You'll Also Like

603K 29.4K 66
(𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐢 𝐊𝐚𝐫𝐲𝐚𝐊𝐚𝐫𝐬𝐚) Cover mentahan from Pinterest • "Apapun yang sudah jadi takdir lo, lo nggak...
1M 64.6K 62
[Part bertanda 🍊 berarti itu part revisi] MAAF, JIKA MASIH BANYAK KATA & TANDA BACA YG TDK SESUAI KBBI/EYD/PUEBI.🙏🏻 [Cerita pertama] . . . "Tidak...
3.1M 170K 58
High rank 1 #mostwanted (08 nov 2020) 1 #coldprince (13 nov 2020) 1 #remajabaper (15 nov 2020) 1 #wattpadstory (15 nov 2020) 1 #manis (20 nov 2020) 1...
GANESHA By RORA

Teen Fiction

265K 24.8K 47
[FOLLOW SEBELUM BACA. ⚠️ KITA WAR DISINI‼️] •••• GANESHA: Generasi Pertama Gaspar. GASPAR, geng dengan semboyan perang Hidup mati tanpa senggolan. "B...
Wattpad App - Unlock exclusive features