Stay

By Risari21_

47.4K 3.6K 548

-SEKUEL DARI "Cool Boy VS Ratu Judes"- "Kata stay mungkin sudah terlalu lumrah di telinga kita hingga mungkin... More

Kami Kembali
1-Bertemu
2-Jalan-jalan
3-Anak?
4-Sebuah Tanda Tanya
5-Flashback
6-Rumah Mertua
7-Perginya Jevan
INFO PENTING
8-Tentang Dia
9-Kelabu
10-Suara Peretak Hati
11-Terperangkap Jebakan Mantan
12-Mengenang Arletta
13-Hello Jerman!
14-Bahagia
15-Rencana Surprise untuk Jevan
16-Amerika Penambah Luka
17-Veyla Menghilang Kembali
18-Stay or Leave
19-Membuat Keputusan
20-Cerai?
21-Stay with me
22-Seporsi Nasi Goreng Bi Imah
23-TOD Pengungkap Rasa
24-Kesalahpahaman yang Tak Berujung
25-Ketika Hati Sudah Mulai Menyerah
26-Sebuah Pesan
27-Rencana Ameetha
28-Lara
29-Kebenaran yang Tertunda
30-Balasan Pesan Termanis
Hello, I'm Back!

Kami Pamit

742 53 14
By Risari21_

Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para readers setiaku (Jepey shipper) yang sudah mau menunggu kelanjutan sequel dari cerita Cool Boy VS Ratu Judes yang berjudul Stay.

Maaf sekali kalau selama dalam menulis cerita Stay, aku banyak ngaret. Bahkan sempat stuck di tengah-tengah jalan karena sibuk sekolah dll. Maaf juga kalau selama dalam menulis cerita Stay ini masih banyak kesalahan dalam penggunaan kata, typo, dll. Kalau kalian menemui kata-kata yang belum memenuhi aturan PUEBI di ceritaku (tidak di cerita Stay saja) , mohon komen yaa☺️ Kalau mengingatkan agar diri kita semakin baik ke depannya, kenapa enggak? Asalkan tetap sopan dalam menegurnya😉

Sebelum kita benar-benar berpisah dengan kisah cinta Veyla dan Jevan, mari kita baca sebuah ending yang kubuat untuk kalian. Ending yang mungkin diharapkan para Jepey shipper selama ini. 

Happy reading and enjoy!♥️


Now playing : Teman Bahagia-Jazz🎶


Beberapa bulan kemudian....

Di mana ada awal, di situ ada akhir. Begitu juga dengan kisah aku dan Jevan. Bagai hukum alam yang sudah seharusnya manusia alami, hal yang kunanti-nanti dari akhir kisah cinta kami akhirnya terjadi.

Dari memutuskan untuk memulai hubungan, aku dan Jevan sudah diuji dengan berbagai persoalan, kesalahpahaman, dan hal-hal lain yang memicu timbulnya rasa amarah yang beberapa kali membuatku ingin menyerah dari hubungan ini. Merasa paling tersakiti di dunia ini pun pernah kurasakan.

Tapi aku tak pernah membuka mata dengan sekitar bahwa ada yang lebih tersakiti daripada aku. Dia adalah orang yang paling dekat denganku dan sekarang menjadi pasangan hidupku. Jevan Alvaro, ya, laki-laki yang dulu kalian kenal paling dingin di sekolahku dulu. Seseorang yang dulu sangat kubenci hingga tak pernah terpikirkan sedikitpun untuk bersamanya. Namun, dengan segala keajaiban skenario Tuhan, laki-laki itu mengubah benciku menjadi benih-benih cinta.

Terdengar klise memang. Dari benci menjadi cinta. Tapi memang itulah kenyataannya. Setelah mengalami berbagai kesalahpahaman disaat aku masih memiliki hubungan pacaran dengannya, akhirnya Jevan memiliki niat serius untuk membangun sebuah rumah tangga denganku.

Kupikir, semua pasti berjalan dengan baik-baik saja. Tapi dugaan ku salah. Menyatukan dua insan manusia yang berbeda sifat, visi dan misi, dan berbeda pandangan itu tak semudah yang dibayangkan. Kita harus menyamakan perbedaan yang terjadi di antara kita dan menahan ego masing-masing agar terwujud keharmonisan di keluarga kecil ini.

Namun, dengan segala kebodohan ku dulu, aku malah selalu menomorsatukan egoku yang menjadi pemicu utama kesalahpahaman besar antara aku dan Jevan. Dan lebih parahnya lagi, aku malah merasa paling tersakiti dan membutakan mata dan menulikan telinga dengan segala penjelasan dan kebenaran yang sebenarnya hingga Jevan harus memendam rasa sakitnya sendirian.

Dari kesalahan-kesalahan yang aku lakukan, aku sadar bahwa kita harus membuka mata dan telinga lebar-lebar dengan kebenaran yang ada. Dan yang paling penting, jangan selalu menomorsatukan egomu. Tak mengapa sekali-kali kita menggunakan ego untuk hal yang tertentu, tapi jangan terlalu sering karena biasanya yang membunuh kita adalah ego kita sendiri.

Saat ini, aku sudah membuang jauh-jauh sifat buruk ku itu. Selagi bisa menjadi pribadi yang lebih baik, mengapa tidak?

Aku sedang berada di salah satu cafe, ralat di depan cafe yang jaraknya cukup lumayan dari rumah Uncle Jack.

Kalau aku sedang berada di sekitar rumah Uncle Jack, pasti kalian tahu aku berada di mana, 'kan? Yaps! Jerman. Negara yang terkenal dengan kastilnya ini menjadi tempat ternyaman ku sekarang. Menjalani hari-hari sebagai mahasiswi di sini dan ya... seperti biasa, terpisah dari suami membuatku seperti seorang jomblo yang mencari-cari di mana jodohnya. Terlebih lagi ketika melihat seniorku di kampus yang sekarang sudah menjadi teman dekatku--Agnethe dan Zavid-- membuatku terlihat semakin ngenes.

Tapi tenang, saat ini aku tak merasa sendirian lagi karena Jevan sedang bersamaku di Jerman. Dan dia tengah memesankan coffe untukku karena... sesuatu. Ya, walaupun hanya beberapa hari saja, aku sudah sangat bahagia!

Akhir-akhir ini, aku dan Jevan memang lebih sering menghabiskan waktu bersama. Sebenarnya, Jevan yang lebih memaksakan kehendaknya untuk bertemu denganku dan rela melakukan perjalanan dari Amerika ke Jerman.

Beberapa kali aku sudah mengingatkan padanya untuk fokus dengan pekerjaannya terlebih dahulu, tetapi dia tetap kekeh untuk bertemu denganku. Rela menempuh perjalanan udara selama kurang lebih 7 jam lamanya dari New York, belum lagi rasa lelah yang dirasakannya, Jevan tetap saja memperlihatkan wajah senangnya saat bertemu denganku.

Ah, rasanya aku seperti wanita terbahagia di dunia ini.

Terdengar derap langkah seseorang yang mendekat ke arahku. Lantas, aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara yang ku yakini adalah dia.

"Nih," Jevan memberikan segelas matcha latte ke arahku dengan senyum tipis yang ku terima dengan senang hati.

"Senang banget kayaknya."

Aku hanya mengulas senyum untuk merespon ucapannya barusan. Setelah itu, aku dan Jevan berjalan berdampingan menyusuri trotoar menuju rumah Uncle Jack.

Sepanjang perjalanan menuju kediaman Uncle Jack, aku terus-menerus mengembangkan senyumku. Ada sesuatu yang beberapa hari ini ingin aku beritahukan pada Jevan, tetapi ku tahan karena menunggu momen yang tepat. Dan sekarang, lelaki itu sudah berada di sampingku dengan wajah bingungnya yang menurutku sangat lucu.

"Kamu kenapa, sih, Sweet?" tanyanya sambil mencubit gemas pipiku yang ku jawab dengan sebuah gelengan.

"Enggak apa."

"Kalau nggak kenapa-napa kok senyam-senyum sendiri dari tadi?"

Aku menggeleng sembari memamerkan senyum terbaikku. Kemudian menautkan tanganku ke tangannya yang kekar. "Ada sesuatu yang pengen aku kasih tahu ke kamu," sahutku yang sebenarnya semakin membuatnya kebingungan. Lihat saja, dahinya semakin bergelombang dengan wajah serius yang nampaknya tengah berpikir keras.

Tanpa berbasa-basi, aku langsung menarik tangan Jevan lalu mengajaknya berlari agar kami segera sampai di rumah Uncle Jack.

Setelah beberapa menit berlari kecil, akhirnya aku dan Jevan tiba di rumah Uncle Jack yang kebetulan saat itu tidak ada orang karena paman Jack sedang sibuk di kantornya.

Setelah menutup pintu rumah dan menguncinya, aku mendorong punggung Jevan agar berjalan terlebih dahulu yang membuatnya menahan tanganku.

"Sweet, kamu mau ngasih tahu apa, sih...?" tanyanya sedikit melembut.

"Nanti aku kasih tahu kalau kita udah di balkon kamar, ya?" aku mencoba memberi pengertian yang membuatnya mendesah pelan.

Kami berdua pun mulai menapaki anak tangga menuju kamarku. Setelah masuk, Jevan memandangku dengan wajah lelahnya.

"Kamu tunggu di sana, ya?" pintaku sambil menunjuk ke arah balkon kamar. Tanpa bertanya lebih lanjut, Jevan langsung menuruti perkataan ku. Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkahnya yang persis seperti anak kecil yang sedang ngambek.

Setelah memastikan Jevan benar-benar berada di balkon, aku pun mulai membuka perlahan nakas yang ada di kamarku untuk mengambil benda berwarna biru putih yang bentuknya seperti stik.

Aku menyembunyikan benda tersebut ke belakang tubuhku lalu berjalan menghampiri Jevan yang sedang menikmati pemandangan langit kota Berlin dari balkon kamar ini.

Aku berdiri tepat di sampingnya yang sontak membuatnya membalikkan badan ke arahku dengan wajah datarnya. Mungkin dia kesal, hehe....

"Kamu mau ngasih tahu apa?" tanyanya to the point.

"Gimana aku mau ngasih tahu kalau kamu masang wajah kayak gitu?" sahutku tak mau kalah yang membuatnya langsung memasang wajah antusiasnya.

"Kamu mau ngasih tahu apa, Sweety....?"

Aku tersenyum sambil menampilkan sederet gigi putihku. "Nah gitu, dong!"

Jevan terkekeh pelan sambil mencubit kedua pipiku pelan. "Untung aku sayang sama perempuan yang ngeselin tapi ngangenin ini."

Aku pun turut terkekeh ketika mendengar ucapannya yang tampaknya tengah mengeluarkan kekesalannya.

Saat suasana telah hening, aku pun mulai menunjukkan pada Jevan benda yang sedari tadi ku sembunyikan. Benda berbentuk stik yang biasa digunakan wanita untuk menjadi alat uji kehamilan.

Dan saat ku uji pada diriku sendiri, hasilnya adalah... boom! Dua garis!!

Jevan memperhatikan baik-baik benda yang kuberikan barusan. Kedua alisnya tampak menyatu sambil sesekali memandangku.

"Ini... artinya apa?" tanyanya dengan wajah polosnya.

Aku yang sedari tadi memasang wajah bahagia tiba-tiba menjadi datar ketika mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Jevan. Dalam hati, aku sudah berharap Jevan mengekspresikan rasa bahagianya dengan memelukku. Atau setidaknya jingkrak-jingkrak tak jelas juga tak apa.

Tapi ternyata ia tak tahu-menahu tentang hal seperti ini.

"Kamu beneran nggak tahu?" tanyaku ikut terbawa suasana yang sedetik kemudian membuat Jevan menarik bibirnya menjadi lengkungan yang sangat manis.

"Kamu kenapa?" tanyaku dengan bodohnya yang membuatnya tertawa pelan sambil menitikkan air mata.

Belum sempat aku bertanya kembali, Jevan terlebih dahulu memelukku dengan erat hingga aku kehabisan napas rasanya.

"Kamu kenapa, hey?" tanyaku dalam dekapannya saat tangisannya mulai mereda.

"Aku tahu arti dua garis ini. Aku cuma bingung mau bagaimana mengekspresikan rasa bahagiaku saat ini sampai-sampai aku harus bilang kayak gitu," sahutnya yang membuatku tersenyum.

Beberapa detik kemudian, Jevan melepaskan pelukannya lalu menangkup kedua pipiku. "Kamu udah periksa ke dokter kandungan?"

Aku menggelengkan kepala. "Belum. Aku nungguin kamu datang ke sini, baru kita periksa. Biar kamu juga tahu keadaan debay-nya kayak gimana."

Jevan tersenyum lalu sedikit membungkukkan tubuhnya. Tangannya yang kekar kini mengelus perutku yang masih rata.

"Dede bayinya pasti kuat. Sama kayak Mamanya." Jevan melirik ke arahku sekilas dengan raut senangnya yang sontak membuatku ikut tersenyum.

Setelah itu, dia kembali ke posisinya semula. "Kita kasih tahu Mama-Papa sama Ayah-Bunda, yuk!" usulnya yang ku angguki dengan penuh antusias.

Kami pun memulai video call satu per satu orang-orang terdekat yang ada di Indonesia. Dari Mama dan Paa Jevan, Ayah dan Bunda, hingga sahabat-sahabat kami yang sekarang sudah memiliki pasangan masing-masing kecuali Evan yang masih betah menyendiri.

Mereka sama senangnya dengan kami. Apalagi Mama-Papa dan Ayah-Bunda. Mungkin karena mereka sudah tak sabar untuk menimang cucu kali, ya? hehe....

Dan begitulah kami menjalani hari-hari selanjutnya. Penuh canda, tawa, dan kebahagiaan. Awalnya aku tidak pernah menyangka jika ending dari kisah cintaku akan bahagia. Yang dulu selalu melewati hari-hari dengan kesalahpahaman, kini berubah menjadi kebahagiaan.

Ternyata benar kata orang, jika kepercayaan itu kunci dari sebuah hubungan. Jika kita tidak saling percaya dengan pasangan, maka kesalahpahaman akan terus terjadi. Kecurigaan terus melanda hingga kita menulikan telinga dan membutakan mata dengan kebenaran yang ada.

Kuharap, takkan ada lagi cool boy dan ratu judes yang lain. Cukup aku dan Jevan yang menyandang gelar itu. Karena yang pertama, selalu di hati, benar begitu?

Terima kasih telah menjadi saksi kisah cintaku dengan Jevan sang mantan cool boy yang dulunya sangat ku benci. Sampai berjumpa di lain waktu!

Dengan begitu, kami pamit. We love you so much, guys!

THE END






Hai hai haiii para Jepey shipper!!! Ini 'kan yang kalian tunggu-tunggu??? Gimana perasaannya setelah membaca part terakhir dari cerita STAY??

Btw, Maaf banget baru up hari ini. Aku memang udah nulis dari pagi kemarin. Tapi mendadak sorenya aku nggak enak badan dan malamnya langsung tepar 😣😣 Maapin aku yakk..

Tapi demi kalian, aku coba nuntasin part ini dalam keadaan yang masih sedikit keliyengan.

Nggak apa. Yang penting vote dan komennya jangan lupa, ya! Itung-itung jadi penyemangat buat aku🤗 Aku juga mau ngucapin maaf dan terima kasih sekali lagi ke kalian. Maaf kalau ending dari cerita STAY kurang sreg di kalian dan terima kasih sudah menjadi pembaca setia cerita cinta Veyla dan Jevan dari CBRJ hingga STAY.

Thank you so much, guys!

Atas berakhirnya cerita STAY, aku dan semua cast CBRJ dan STAY pamit, ya! Setelah menuntaskan cerita ini, aku sudah punya planning bikin cerita baru. Semoga kalian nggak kalah antusiasnya dari cerita sebelum-sebelumnya, ya!

Sebelum benar-benar pamit, aku dan seluruh cast CBRJ dan STAY mengucapkan selamat tahun baru 2021!!🥳🥳

Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi daripada tahun ini, ya! Tetap jaga kesehatan dan see you again!! ♥️♥️♥️

Continue Reading

You'll Also Like

1.6M 42K 31
"Bian,,, ahh Bi, Stop, kamu engga pakai pengaman, don't come inside me, or i will kill you. ?" Ucap Raisa saat Bian menghentakkan miliknya dengan heb...
SOLITUDE By Stars

Teen Fiction

16.8K 300 29
"Lo cuma bahan seks gue, tapi gue sayang lo" kata lelaki itu dengan keadaan setengah sadar sambil mengusap pelan wajah gadis yang ada dihadapanya, mu...
1.9M 45.2K 52
Mature Content!! "Janetta" "Iya Tuan?" "Aku menyukai videomu." Setelah mengucapkan kalimat tersebut. Zath lalu melangkah pergi meninggalkan Janetta y...
Wattpad App - Unlock exclusive features