Perkenalkan, namaku Gio Anggara Putra. Saat ini aku berumur 16 tahun dan masih duduk di kelas XI di sebuah sekolah SMA swasta favorit di kotaku.
Aku merupakan anak tunggal dengan orangtua tunggal pula, karena ayahku sudah meninggal dunia sekitar 3 tahun lalu. Jadi, aku tinggal bersama ibuku dan bibi yang mengurus rumah kami.
Meski kami hanya tinggal bertiga, tapi kehidupan kami tidak pernah kekurangan. Karena ibuku memiliki usaha yang cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup kami selama ini. Ibuku mempunyai usaha rumah makan khusus masakan Sunda, dan sudah memiliki beberapa cabang, baik di kotaku sendiri maupun di kota - kota sekitar tempat tinggalku.
Aku cukup beruntung, karena selain berasal dari keluarga yang cukup berada, aku juga dikaruniai bentuk fisik yang lumayan bisa menarik perhatian orang, baik wanita maupun pria - pria belok.
Aku memiliki kulit tubuh yang putih bersih, hidung mancung, bibir merah merona alami dan rambut yang tebal dan hitam. Sayangnya, aku termasuk golongan pria imut, karena hanya memiliki tinggi badan 170cm dengan berat kurang dari 60kg. Meski demikian, aku tetap pede dan dikenal sebagai anak yang periang.
Hampir seminggu ini aku tinggal di rumah nenek dari pihak ayahku. Sengaja aku kabur dari rumah, karena aku tidak menyetujui ibuku yang akan menikah lagi. Aku pikir, ayahku belum begitu lama meninggal dunia, dan kurasa ibuku tidak lagi menghormati beliau dengan cara menikah lagi.
Aku benar-benar marah atas keputusan ibuku itu. Keberatan ku tidak diindahkan nya. Beliau tetap melaksanakan keinginan nya itu. Dan pada hari pernikahannya, aku sengaja meninggalkan rumah, pergi ke rumah nenek dari pihak ayahku yang berada di lain kota.
Kabarnya, ibuku menikah dengan seorang pengusaha yang berstatus duda beranak satu. Umurnya sepantaran ayahku, sedangkan anaknya telah menjadi seorang mahasiswa.
Selama ini, aku memang tidak mengenal sosok calon ayah angkatku dan saudara tiriku itu. Bukannya ibuku tidak pernah mau mengenalkannya kepadaku. Hanya saja aku memang tidak pernah mau untuk diperkenalkan dengan mereka berdua. Setiap kali ibuku mengajakku untuk berkenalan, aku selalu menolaknya dengan berbagai alasan. Bahkan setiap kali mereka berkunjung ke rumah, aku selalu menghindar dengan cara berdiam diri di kamar dengan kondisi pintu terkunci. Aku benar-benar muak dan marah kepada ibuku itu. Menurutku, dia sosok yang egois, tidak pernah mau mendengarkan pendapat orang lain, sekalipun itu pendapat anaknya.
Pagi ini, saat aku tengah duduk - duduk sambil melamun di beranda rumah nenekku, tiba - tiba nenek datang menghampiriku. Tidak biasanya nenek mendatangiku disaat aku seperti ini. Biasanya beliau membiarkanku melamun sendirian. Pasti ada sesuatu hal yang ingin beliau bicarakan denganku.
"Gio, nenek ingin ngomongin sesuatu denganmu. Nenek harap kamu mau mendengarkan omongan nenek." Katanya dengan suara yang tegas, tidak seperti kesehariannya yang lemah lembut.
Tuh kan, bener dugaanku. Pasti ada hal serius yang mo dia bicarakan denganku. Pasti ada kaitannya dengan masalahku dengan ibuku.
"Ya nek. Nenek mo ngomongin apa?"tanyaku sambil menatap matanya.
Kulihat nenek menghela nafas sebentar. Beliau lalu mengambil tempat duduk di depanku.
"Sampai kapan kamu akan terus menghindar dari mamamu? Masalah kalian tidak akan pernah terselesaikan kalo kalian masih saling mempertahankan ego kalian!" Katanya sambil memandangku dengan tajam.
"Gio benci sama mama. Dia tidak pernah mau mendengarkan pendapat Gio, Nek. Dia tidak sayang sama Gio dan juga tidak menghormati almarhum papa" jawabku lantang.
"Gio, dengerin Nenek. Kata siapa mamamu tidak menyayangimu dan tidak menghormati almarhum papa kamu? Mamamu sangat menyayangimu dan juga sangat menghormati almarhum papa mu itu. Dia selalu menceritakan dan membanggakan mu dalam setiap momen acara keluarga kita. Tidak pernah sekalipun mamamu mengeluhkan semua kenakalan mu, bahkan dia juga bisa menerima keadaanmu yang...."
Nenek tidak meneruskan ucapannya. Kulihat ada binar rasa kecewa dimatanya.
"Maksud nenek, keadaanku yang bagaimana?" Tanyaku tak mengerti.
Sejenak nenek mengambil nafas. Sambil memalingkan muka, nenek melanjutkan ucapannya dengan suara sedikit serak.
"Dia tahu kalo kamu itu....Gay!"
Sontak aku begitu terkejut. Darimana ibuku dan juga nenekku bisa tahu kalo aku penyuka sesama jenis? Selama ini, aku begitu menutupi orientasi seksualku itu, rapat - rapat. Tidak ada seorangpun yang tahu kalo aku ini seorang Gay.
Aku merasa perilakuku jauh dari kesan seorang penyuka sesama jenis. Aku tidak ngondek. Cara berjalan dan bicarakupun wajar, sebagaimana seorang laki - laki berperilaku.
Bahkan aku menggemari beberapa macam olahraga seperti karate, renang, futsal maupun basket. Jauh dari kesan seorang Gay yang letoi dan lembek. Meskipun dari segi tampang, aku terlalu imut untuk ukuran seorang anak laki - laki. So, darimana ibuku tahu soal ini?
Aku terduduk lemas di kursi. Rasanya tubuhku tidak bertulang. Aku menutupi mukaku dengan kedua telapak tanganku. Tidak ada keberanian untuk memandang wajah nenek. Aku merasa tidak memiliki harga diri lagi.
Untuk beberapa saat, kami hanya saling terdiam. Hingga akhirnya, nenek kembali melanjutkan ucapannya.
"Mamamu tahu kalau kamu itu gay dari laptop yang lupa kamu matikan. Saat itu kamu tengah nonton bokep yang ternyata adalah bokep gay. Mamamu sempat tidak mempercayainya. Dia pikir kalau kamu hanya sekedar iseng nonton video seperti itu. Setelah dilihat dari history di laptopmu, ternyata isinya situs gay semua. Untuk lebih meyakinkan perasaannya, mamamu membuka koleksi galery dan video dilaptopmu. Ternyata isinya gambar pria telanjang dan video porno gay semua. Mamamu sangat syok saat mengetahui kalau anak lelaki satu - satunya yang merupakan kebanggaanya, ternyata seorang gay."
Kudengar suara nenek yang bergetar disertai isakan kecil. Aku lalu membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahku. Kulihat pipi nenek yang sudah dipenuhi dengan derai air mata. Melihat hal ini, aku menjadi merasa begitu bersalah terhadap keduanya.
"Perasaan mamamu sangat berkecamuk. Antara rasa benci, marah, kecewa dan sayang berbaur jadi satu. Mamamu sempat ingin mengusirmu saat itu. Dia benar-benar kecewa padamu, Nak. Tapi nenek melarangnya. Karena bagaimanapun kamu adalah anaknya. Tidak ada seorangpun yang menginginkan terlahir sebagai seorang Gay. Akhirnya mamamu luluh dan mau menerima hal ini. Bersyukurlah kamu memiliki seorang ibu yang pengertian seperti dia"
Aku masih terdiam. Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan.
Nenek kemudian melanjutkan omongannya.
"Meski antara aku dan mamamu sekarang ini hanya berstatus sebagai mantan menantu dan mertua, tapi hubungan kami tetap terjalin dengan sangat baik. Kami masih intens berkomunikasi. Bahkan sesekali mamamu mengunjungi nenek. Nenek harap, setelah mamamu menikah lagi, hubungan ini tidak akan pernah terputus."
"Saat ada seorang laki - laki yang berusaha mendekati mamamu, mamamu menceritakannya kepada nenek. Mamamu minta pendapat nenek. Nenek menyarankan agar mamamu mau menerima lelaki itu. Karena berdasarkan cerita mamamu, lelaki itu adalah orang baik. Karena mampu bertahan untuk tidak menikah lagi saat ditinggal mendiang istrinya, saat anak mereka masih balita. Sesuatu yang sangat langka di era seperti saat ini. Tapi mamamu bersikeras untuk menolaknya, karena kamu tidak menginginkan adanya papa baru. Butuh waktu lama bagi nenek, untuk meyakinkan mamamu agar mau menerima calon papamu itu, Nak. Kalo mamamu bisa menerima orientasi seksualmu itu, kenapa kamu tidak mencoba untuk mau menerima keputusan mamamu? Cobalah untuk bisa bersikap dewasa, Gio. Mamamu butuh sosok pendamping hidup yang akan menemani masa tuanya. Ijinkan dia untuk berbahagia, Nak."pungkasnya.
Aku terpekur meresapi semua perkataan nenek. Benar, ternyata aku memang egois. Aku tidak pernah memikirkan kebahagiaan mama. Aku betul-betul menyesal dan ingin segera meminta maaf kepada mamaku. Apalagi sudah seminggu ini aku bolos sekolah. Bisa - bisa aku dikeluarkan dari sekolah jika tidak segera masuk sekolah.
Aku memutuskan untuk segera pulang. Perasaanku sudah agak ringan sekarang. Tidak ada gunanya untuk terus mempertahankan ego kita. Saatnya aku untuk bisa berfikir dewasa.
Setelah berpamitan dengan nenek, aku kemudian pergi ke terminal bus. Nenek memberiku banyak sekali oleh - oleh. Aku tidak tahu apa saja isi nya. Karena semua dibungkus rapi oleh nenek. Aku sempat kesulitan saat membawa oleh - oleh dari nenek ini.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir 4 jam lamanya, dengan menaiki ojol, akhirnya sampailah aku ke rumah ku yang selama seminggu ini aku tinggal. Ada rasa rindu dengan rumah ini.
Kudengar ada percakapan di ruang tamu. Sepertinya ada tiga orang yang sedang bercakap - cakap. Mereka menghentikan percakapan mereka saat mendengar ucapan salam dariku.
Kulihat ada mamaku yang berlari menghampiri ku. Dibelakangnya, ada dua orang lelaki beda usia di belakang mama. Pasti itu ayah dan Abang tiriku. Mereka tersenyum saat melihatku.
Aku segera menghambur kedalam pelukan mama. Ada rasa rindu yang membuncah di dadaku. Perasaan rindu dan menyesal berbaur jadi satu.
"Maafin Gio mah. Gio bener - bener menyesal. Gio nggak bisa ngertiin perasaan mama."
Kurasakan mama semakin erat memelukku. Dibelainya rambutku dengan lembut.
"Sudahlah, mama juga minta maaf. Maaf tidak mau mendengarkan pendapat mu. Kita lupakan semuanya ya sayang?" Kata mamaku sambil melepaskan pelukannya.
"Sekarang, mama akan memperkenalkan papa dan Abang kamu. Yang ini suami mama, namanya Papa Devan ( kata mama sambil menunjuk sesosok laki - laki dewasa berbadan tinggi tegap ). Kalo yang ini namanya Bayu, dia abangmu sekarang ( sambil menunjuk pria muda yang juga berbadan kekar dan tengah tersenyum lebar )"
Mereka berdua kemudian menyalamiku. Aku sempat terpaku kala memandang mereka berdua. Gila, mereka berdua benar - benar cakep. Aku sempat berhayal seandainya mereka berdua mengentotiku. Pasti nikmat banget. Tapi aku segera menepis pikiran mesumku itu.
Kami sempat ngobrol sejenak sebelum aku memutuskan untuk beristirahat di kamar. Aku sangat lelah. Aku berharap hubungan kami nantinya akan berjalan dengan baik, dan ada momen - momen indah yang mengiringinya. Semoga.....