Everybody wants happiness nobody wants pain But you can't have rainbow without a little rain.
𓄲
Udara di belakang sekolah selalu terasa lebih berat, bercampur aroma aspal panas dan tembakau dari warkop yang menjadi titik kumpul para siswa. Jiaya melangkah ragu, tangannya mendekap sebuah paper bag putih berisi jaket yang aromanya masih sangat identik dengan pemiliknya—parfum maskulin yang tajam namun menenangkan.
Tadi, Ijo sempat berpapasan dengan Jiaya di gerbang dan memberi bocoran singkat. "Genta ke warkop Bu Jum, Ji. Samperin aja kalau mau balikin barangnya sekarang."
Namun, setibanya di area parkir darurat dekat warkop, jantung Jiaya mencelos. Tempat yang biasanya diduduki monster besi hitam, Yamaha R1M milik Genta, kini kosong melompong. Hanya ada sisa jejak ban di tanah kering.
Genta kemana?
Jiaya menghela napas, pundaknya merosot lesu. Ia baru saja hendak memutar tumit untuk kembali ke jalan raya saat sebuah seruan nyaring membelah suasana.
"Jiaya!"
Jiaya tersentak. Di sudut warkop yang terlindung bayangan pohon, ia melihat Jevan melambai heboh dengan cengiran lebarnya. Di sampingnya, Reza duduk santai sambil menyesap es teh, sementara beberapa cowok lain yang tidak Jiaya kenal ikut menoleh. Mau tidak mau, Jiaya melangkah mendekat ke meja kayu panjang itu.
"Nyariin Genta, ya?" tembak Jevan langsung, bahkan sebelum Jiaya sempat menyapa.
"Iya... tadi kata Ijo dia ke sini," jawab Jiaya pelan, tangannya semakin erat meremas tali paper bag.
Reza mengembuskan asap rokoknya ke samping, lalu menyahut tanpa ekspresi berarti. "Baru aja cabut. Nggak ada lima menit. Kayaknya sih emang sengaja kabur."
"O-oh... gitu ya," Jiaya mencoba tersenyum meskipun rasanya hambar. "Ya udah kalau gitu. Gue cuma mau balikin jaketnya doang kok."
"Titip di kita aja, Ji. Nanti biar Reza yang bawa," tawar Jevan ramah.
"Nggak usah, Van. Biar gue kasih langsung aja nanti," tolak Jiaya halus.
Tepat saat Jiaya hendak berpamitan, seorang cewek yang duduk di ujung meja—yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya mendongak. Ia menyunggingkan senyum tipis yang tampak seperti ejekan, lalu menyahut dengan nada suara yang sengaja dikeraskan.
"Ohhh, ini ceweknya Genta?" Cewek itu tertawa kecil, melirik teman di sebelahnya. "Kasihan ya... Cowoknya baru aja pergi sama cewek lain tuh tadi. Masa lo nggak tahu?"
Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Jiaya. Pegangannya pada paper bag mengencang hingga kertasnya berbunyi krek. Ia menatap cewek itu dengan bingung, sekaligus merasa dadanya mendadak sesak.
"Sama cewek?" ulang Jiaya lirih.
Jevan dan Reza langsung saling lirik dengan wajah tegang. Jevan berdehem keras, mencoba memberi kode pada cewek tadi untuk diam, tapi cewek itu justru mengedikkan bahu acuh tak acuh.
"Iya, tadi dibonceng. Mesra banget lagi," lanjut cewek itu lagi, memanasi keadaan.
Jiaya tidak sanggup lagi berdiri di sana. Rasa malu dan cemburu yang campur aduk membuatnya merasa ingin segera menghilang. "Gue... gue balik duluan ya. Duluan, Van, Rez."
Jiaya berjalan cepat meninggalkan warkop tanpa menoleh lagi. Pikirannya kalut. Sampai-sampai ia meninggalkan paper bag nya disana.
𓄲
Jiaya kembali ke kelas IPA 1 dengan langkah lemas. Kelas yang biasanya terasa tenang itu mendadak jadi pengap bagi dirinya. Ia langsung mengempaskan diri ke kursinya, menaruh paper bag berisi jaket Genta di kolong meja dengan sedikit kasar, lalu menenggelamkan wajahnya di antara kedua lipatan tangan di atas meja.
Sahabatnya, Risalina Ajeng—atau yang lebih akrab dipanggil Risa—yang sejak tadi sedang asyik memoleskan lip balm, langsung menghentikan aktivitasnya. Risa mengerutkan kening, menggeser kursi mendekat.
"Eh, kenapa nih? Tadi ijinnya mau ke warkop balikin jaket 'bubub', kok balik-balik malah ditekuk mukanya?" tanya Risa sambil menyenggol bahu Jiaya pelan.
Jiaya tidak bergeming. Hanya terdengar gumaman tidak jelas dari balik lipatan tangannya.
"Hah? Lo diapain sama dia? Dia marahin lo lagi?" cecar Risa. Sebagai sahabat, Risa adalah orang yang paling vokal kalau soal ketidakpedulian Genta pada Jiaya. Menurutnya, Jiaya itu terlalu baik untuk cowok seperti Genta.
Jiaya akhirnya mendongak. Matanya sedikit berkaca-kaca, ada rona merah di hidungnya yang membuat Risa langsung panik.
"Genta nggak ada di sana, Ris," ucap Jiaya lirih. "Dan tadi... ada cewek di warkop bilang kalau Genta baru aja pergi sama cewek lain. Dibonceng."
Risa melotot, mulutnya terbuka lebar. "HAH?! Serius lo? cewek? Eh, bentar, lo jangan langsung percaya sama omongan lampir-lampir warkop. Bisa aja mereka cuma sirik sama lo."
"Tapi dia emang nggak ada di warkop pas gue sampe, Ris. Padahal kata Ijo dia ke sana," Jiaya menyeka sudut matanya dengan punggung tangan. "Gue capek. Kayaknya bener kata orang, Genta tuh sebenernya nggak pernah buka hati buat siapa-siapa. Gue doang yang kepedean dan ngerasa spesial."
Risa menghela napas panjang, ia merangkul pundak Jiaya, mencoba memberikan kekuatan. "Ji, dengerin gue. Genta itu emang aneh, tsundere-nya udah stadium akhir. Tapi kalau soal cewek lain... gue agak ragu sih. Cowok yang natap orang aja males kayak dia, mana mungkin mau repot-repot boncengin cewek?"
"Tapi kalau beneran gimana?" suara Jiaya bergetar.
"Ya kalau beneran, gue sendiri yang bakal kempesin ban motor kesayangannya itu!" sahut Risa berapi-api, membuat Jiaya sedikit tersenyum kecil di tengah rasa sesaknya.
Baru saja Jiaya ingin menanggapi, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk. Bukan dari Genta, tapi notifikasi dari grup kelas yang memberitahukan bahwa guru jam terakhir tidak hadir.
Jiaya menatap keluar jendela, ke arah parkiran sekolah yang mulai sepi. Ia tidak tahu bahwa saat ini Genta sedang duduk di atas motornya di pom bensin dekat sekolah, matanya terus menatap layar ponsel, mengetik kalimat: 'Udah pulang?' tapi kemudian menghapusnya lagi.
Tak lama...
Ponsel Jiaya bergetar hebat di atas meja, menampilkan nama 'Genta' di layarnya. Jiaya masih menatap benda itu dengan perasaan campur aduk saat sebuah pesan singkat masuk mendahului panggilan berikutnya.
Genta: Angkat!
Jiaya menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak keruan sebelum menggeser tombol hijau. Baru saja ponsel itu menempel di telinganya, suara berat dan dingin Genta langsung menyambar tanpa permisi.
"Lama banget sih angkatnya? Lagi dimana sih?" Nada bicara Genta terdengar ketus, khas orang yang sedang menahan dongkol.
"Di kelas... tadi jam terakhir kosong, jadi—"
"Gua udah tahu jam terakhir lu kosong!" potong Genta cepat, suaranya naik satu oktav. "Udah tahu pulang cepet kenapa nggak langsung keluar? Ngapain masih di kelas? Mau jaga sekolah?"
Jiaya tersentak. Rasa kesal karena kabar di warkop tadi bertemu dengan bentakan Genta membuat matanya kembali memanas. "Loh? Kenapa malah jadi kamu yang marah-marah?"
"Turun sekarang ke parkiran! Gua tunggu lima menit. Lewat dari itu, gua tinggal," perintah Genta mutlak, lalu sambungan telepon diputus secara sepihak.
Jiaya menatap layar ponselnya dengan nanar. Bip... bip... bip... Suara nada putus itu seolah mengejeknya.
"Kenapa? Si Genta lagi?" tanya Risa yang sejak tadi menguping. "Buset dah, suaranya sampe kedengeran ke sini. Galak bener tuh orang, lo pacar apa bawahannya sih?"
"Dia nyuruh ke parkiran," bisik Jiaya lemas. Ia benci cara Genta memerintah, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa takut yang aneh kalau ia benar-benar ditinggalkan.
"Dih, jangan mau, Ji! Jual mahal dikit kek!" seru Risa gemas.
"Nanti dia beneran marah, Ris..." Jiaya buru-buru menyambar tasnya dan paper bag berisi jaket itu. Meskipun hatinya masih sangat sakit karena isu 'cewek lain' tadi, ia tidak punya keberanian untuk melawan Genta yang sedang dalam mode emosi.
Jiaya berlari kecil menyusuri koridor, menuju area parkir. Dari jauh, ia sudah bisa melihat sosok jangkung itu bersandar di atas motor hitamnya. Genta masih memakai helm, kaca visor-nya tertutup rapat, memberikan kesan intimidatif yang luar biasa.
Jiaya melambat saat jarak mereka tinggal beberapa meter. Ia berjalan menunduk, tidak berani menatap langsung ke arah helm hitam itu.
"Lama," gumam Genta dari balik helm saat Jiaya sampai di depannya. Matanya yang tajam di balik kaca helm memperhatikan wajah Jiaya yang tampak sembab, namun ia justru membuang muka. "Kenapa nangis? Gua cuma suruh turun."
Jiaya hanya diam, meremas tali tasnya. Ia ingin bertanya soal cewek di warkop itu, tapi suaranya seolah tertahan di tenggorokan.
"Naik!" perintah Genta pendek sambil menyodorkan helm cadangan dengan gerakan kasar.
Jiaya menerima helm itu dengan tangan gemetar. Ia ingin sekali bertanya, 'Kamu marah-marah gini karena merasa terganggu, atau karena ketahuan habis bonceng cewek lain?' Tapi keberaniannya menguap setiap kali melihat tatapan tajam Genta.
"Jaket kamu aku masukin ke tas ya?" tanya Jiaya ragu.
"Naik!" sahut Genta ketus. "Cepet!"
Jiaya akhirnya naik ke jok belakang motor besar itu dengan susah payah. Begitu ia sudah duduk mapan, Genta langsung menarik gas tanpa peringatan, membuat tubuh Jiaya tersentak maju dan secara refleks memeluk pinggang Genta.
𓄲
Flashback
Deru knalpot itu perlahan meredup saat Genta mematikan mesin tepat di depan Warkop Bu Jum. Ia turun dengan gerakan malas, melepas helm, dan menyeka sedikit peluh di dahinya. Rencananya sederhana: mendinginkan kepala sejenak sebelum pulang. Namun, begitu ia melangkah masuk ke area warkop, atmosfer yang biasanya berisik oleh tawa Reza dan Jevan mendadak berubah. Hening yang canggung. Jevan yang tadinya sedang tertawa mendadak bungkam, sementara Reza pura-pura sibuk dengan korek apinya yang macet.
Genta berhenti tepat di depan meja mereka. Matanya menyipit tajam.
"Kenapa?" tanya Genta singkat, suaranya dingin dan mengintimidasi.
"Anu..."
Jevan berdehem, tampak sedikit panik. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sesekali melirik ke arah jalan raya. "G-gini, Ta... tadi cewek lu ke sini."
Genta terdiam sebentar. Alisnya bertaut. "Terus?"
"Terus ini cewek.." Jevan menunjuk dengan dagunya ke arah seorang cewek yang duduk di ujung meja. "...dia iseng bilang kalau lu baru aja pergi sama cewek lain."
Genta langsung menoleh ke arah cewek yang dimaksud. Tidak ada bentakan, tidak ada makian yang keluar dari mulutnya. Genta hanya diam, tapi ia menatap Gracia dengan tatapan yang sangat tajam—sebuah tatapan gelap yang seolah mengutuk siapa pun yang berani mengusik ketenangannya. Tatapan itu seolah bicara: Lu berani ikut campur?.
Gracia yang tadinya tampak sombong langsung menunduk, nyalinya menciut seketika. Ia pura-pura sibuk dengan ponselnya, tak berani menatap mata Genta yang seolah siap meledak.
"Terus kemana dia?" tanya Genta lagi, kali ini nada suaranya lebih rendah namun penuh penekanan.
"Pergi," sahut Jevan cepat. "Dia mau balikin jaket lu deh kalau ga salah, Ta."
Ia tahu Jiaya pasti salah paham. Ia tahu Jiaya pasti sedang sakit hati. Tapi memang dasarnya Genta, ia justru merasa marah karena situasi ini membuatnya harus bersikap seolah-olah "peduli".
"Sialan," desis Genta pelan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Genta memakai kembali helmnya dengan gerakan kasar, dan menaiki motornya.
Flashback off
𓄲
Angin sore menerpa wajah Jiaya saat motor Genta melesat membelah jalanan. Di balik punggung Genta yang lebar. Ia tidak tahu bahwa pria yang sedang membentaknya tadi sebenarnya sedang mati-matian menahan diri agar tidak meledak karena amarah pada orang lain.
Genta masih terdiam di balik helmnya, menatap lurus ke arah lampu merah yang terasa sangat lama. Pikirannya masih berantakan antara rasa bersalah dan emosi yang belum stabil. Ia sengaja tidak memajukan motornya meski ruang di depan masih cukup luas.
Tiiitttt! Tiiiittttt!
Suara klakson nyaring dari sebuah mobil tepat di belakang mereka memecah lamunan Genta. Jiaya yang sejak tadi merasa tidak enak karena tatapan orang-orang, akhirnya memberanikan diri menyentuh bahu Genta.
"Ta, majuan... itu diklaksonin mulu di belakang," bisik Jiaya di dekat telinga Genta.
Genta mendengus kesal, namun ia tetap menarik gas sedikit untuk memajukan R1M-nya. Di saat yang sama, mobil yang tadi membunyikan klakson—sebuah SUV hitam mengkilap—maju sejajar dengan motor Genta.
Kaca jendela mobil itu perlahan turun. Jiaya refleks menoleh, begitu kaca terbuka sepenuhnya, mata Jiaya melebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak sedetik.
"Aya?"
Seorang cowok dengan senyum cerah dan wajah yang tampak sangat familiar melambai dari kursi kemudi. Penampilannya rapi, sangat kontras dengan Genta yang terlihat berantakan.
"Keno?!" seru Jiaya hampir tidak percaya. "Lo ngapain di sini? Bukannya lagi di Surabaya?"
Keno. Sahabat masa kecil Jiaya yang paling dekat sebelum cowok itu pindah ke Jawa Timur beberapa tahun lalu. Seseorang yang dulu selalu ada untuk Jiaya sebelum posisi itu digantikan oleh tembok es bernama Genta.
"Gua lagi cuti liburan Ji! Jadi, mau mampir ke rumah. Eh, malah ketemu lo di jalan," jawab Keno ramah, matanya beralih menatap sosok cowok yang membonceng Jiaya.
Genta masih tidak bergerak. Ia tidak membuka visor helmnya, namun rahangnya mengeras di dalam sana. Genggaman tangannya pada stang motor mengerat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Aura dingin yang semula hanya untuk menutupi gengsi, kini berubah menjadi aura persaingan yang kental.
"Siapa, Ji?" tanya Keno, suaranya tetap sopan namun mengandung rasa ingin tahu yang besar.
Jiaya menatap spion Genta dengan ragu, lalu kembali menatap Keno. "Ini... Genta. Pacar gue."
"Pacar ya..."
Genta langsung menarik gas motornya sedikit lebih kencang hingga suaranya menggelegar, memotong pembicaraan mereka. Bersiap.
Lampu berubah hijau.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Jiaya untuk bicara lebih lanjut atau pamit pada Keno, Genta langsung memacu motornya dengan hentakan yang sangat keras. Ia melesat meninggalkan mobil itu, membuat tubuh Jiaya tersentak dan terpaksa memeluk pinggang Genta sangat erat agar tidak terjatuh.
Genta tidak suka.
Genta memacu motornya dengan kecepatan yang tidak masuk akal, meliuk-liuk di antara kendaraan lain seolah sedang melarikan diri dari sesuatu. Dadanya terasa panas. Bukan karena suhu udara, tapi karena mereka.
Begitu sampai di depan pagar rumah Jiaya, Genta mengerem mendadak. Ban motornya sedikit berdecit di atas aspal. Jiaya turun dengan napas tersenggal, wajahnya pucat karena cara Genta membawa motor tadi benar-benar berbahaya.
Jiaya melepas helmnya dengan tangan gemetar. Ia baru saja hendak mengucapkan terima kasih saat Genta mematikan mesin motor, tapi tidak turun. Ia hanya membuka visor helmnya sedikit, menatap Jiaya dengan mata yang berkilat tajam.
"Siapa tadi?" tanya Genta.
Jiaya mengerjapkan mata, masih berusaha mengatur napas. "Maksud kamu.. Keno?"
"Gua nggak tanya namanya. Gua tanya, dia siapa?" potong Genta cepat. Ia menaruh kedua tangannya di atas tangki motor, badannya condong ke depan, mengintimidasi Jiaya.
"Dia sahabat aku, Ta. Dia dari Surabaya, aku juga kaget tadi ketemu di jalan—"
"Sahabat?" Genta tertawa sinis, sebuah tawa kering yang tidak terdengar lucu sama sekali. "Sahabat apa yang natap cewek orang kayak mau nelan hidup-hidup gitu?"
"Ta, Kamu kenapa sih? Dia cuma nyapa aja!" Jiaya mulai merasa jengkel. Tadi di warkop ia dipermainkan, sekarang di depan rumah malah diinterogasi. "Lagian tadi kamu kenapa bawa motor kencang banget? Kalau jatuh gimana?"
"Lu nggak bakal jatuh kalau pegangan yang bener!" sahut Genta ketus. Ia kemudian menatap Jiaya dalam-dalam, tatapannya sedikit goyah saat melihat Jiaya yang tampak benar-benar lelah.
Ia menyambar helm cadangan dari tangan Jiaya dengan kasar. "Masuk!"
Genta memejamkan mata sejenak, tangannya mengepal di stang motor. Sialan, batinnya.
𓄲
Malam itu, suasana rumah Jiaya yang biasanya tenang mendadak terasa sedikit berbeda. Sekitar pukul tujuh malam, bel rumah berbunyi dua kali. Mama Jeny yang sedang santai di ruang tengah segera beranjak untuk membuka pintu.
Di sana berdiri seorang cowok dengan penampilan rapi, mengenakan kemeja kasual dan membawa beberapa tas belanja besar di kedua tangannya. Senyumnya lebar dan sopan.
"Loh... ini Keno, ya? Keno anaknya Jeng Sari?" seru Mama Jeny dengan wajah berbinar.
"Iya, Tante. Apa kabar? Keno baru datang lagi ke sini," sapa Keno ramah, lalu menyalami tangan Mama Jeny dengan takzim.
"Ya ampun, sudah gede banget kamu! Ganteng lagi. Ayo masuk, masuk!" Mama Jeny tampak sangat antusias. Setelah mempersilakan Keno duduk di ruang tamu, Mama Jeny langsung berjalan menuju tangga. "Jiaya! Ada tamu nih, coba turun dulu!"
Di dalam kamar, Jiaya yang masih memakai kaos kebesaran dan celana pendek—sambil sesekali melirik ponselnya, berharap ada pesan (yang mustahil) dari Genta mengernyit bingung. Ia merapikan rambutnya sebentar lalu turun ke bawah.
Langkahnya terhenti di anak tangga terakhir. Matanya membulat melihat sosok yang duduk di sofa ruang tamunya.
"Keno? Lo beneran ke sini?" tanya Jiaya tak percaya.
Keno langsung berdiri, menunjuk tas-tas belanja di atas meja. "Iya, Ji. Tadi kan belum sempet ngobrol banyak gara-gara... ya, pacar lo yang bawa motornya kayak lagi balapan itu. Ini, gua bawain oleh-oleh dari Surabaya buat Tante Jeny sama lo. Ada lapis Surabaya sama almond crispy, masih inget kan?"
"Wah, Keno... repot-repot banget, makasih ya," sahut Mama Jeny yang muncul membawa minuman. "Ji, temenin Keno ngobrol dulu ya. Mama ke dapur sebentar mau taruh kuenya."
Jiaya duduk di kursi tunggal, merasa agak canggung. Pikirannya masih terbayang wajah galak Genta tadi sore.
"Maaf ya soal tadi di jalan," ucap Keno memecah keheningan, suaranya terdengar tulus. "Cowok lo itu... emang selalu segalak itu ya kalau bawa motor?"
Jiaya hanya tersenyum tipis, tidak enak hati. "Genta emang gitu orangnya, Ken. Agak... keras. Tapi aslinya nggak seburuk itu kok."
Tepat saat Jiaya mengucapkan kalimat itu, ponselnya yang tergeletak di samping bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar kunci.
Genta: Gua di depan rumah. Keluar.
Jiaya tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Ia melirik ke arah pintu depan yang tertutup, lalu beralih ke Keno yang masih menatapnya dengan senyum ramah. Genta ada di luar, dan Keno ada di dalam.
Jiaya menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Rasa kesalnya pada sikap Genta sore tadi masih ada—ditambah lagi isu "cewek lain" di warkop yang belum sempat mereka luruskan. Akhirnya, Jiaya memilih untuk meletakkan kembali ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah.
Biarin aja dulu, batinnya. Jiaya tidak ingin terus-menerus didikte oleh emosi Genta, apalagi sekarang ada tamu yang bersikap jauh lebih sopan kepadanya.
"Kenapa, Ji? Ada pesan penting?" tanya Keno menyadari perubahan raut wajah Jiaya.
"Nggak apa-apa, Ken. Oh iya, gimana Surabaya? Lo di sana sekolah di mana?" Jiaya mencoba mengalihkan perhatian, berusaha mencairkan suasana yang sempat kaku.
"Seru sih, tapi tetep aja beda sama Jakarta. Gua kangen banget sama..."
TING TONG! TING TONG!
Suara bel rumah yang ditekan bertubi-tubi dengan kasar memotong kalimat Keno. Bunyinya tidak sabaran, sangat mencerminkan siapa pelakunya. Jiaya membeku. Ia tahu itu bukan tamu biasa. Itu adalah bunyi bel dari seseorang yang sedang penuh amarah.
"Siapa ya malam-malam mencet bel begini?" Mama Jeny keluar dari dapur dengan wajah bingung. "Ji, coba liat siapa, itu belnya kayak mau diancurin gitu."
Jiaya berdiri dengan ragu. Baru saja ia hendak melangkah, pintu depan sudah lebih dulu dibuka oleh Mama Jeny.
Di ambang pintu, berdirilah Genta. Ia masih mengenakan jaket kulitnya, rambutnya sedikit berantakan karena angin malam, dan tatapannya langsung mengunci ke dalam ruang tamu—tepat ke arah Keno yang juga sedang menoleh ke arah pintu.
"Loh, Genta?" sapa Mama Jeny kaget. "Ayo masuk, Nak."
Genta tidak menjawab sapaan Mama Jeny dengan ramah seperti biasanya. Ia melangkah masuk tanpa diundang, matanya menatap tajam ke arah tas-tas oleh-oleh di atas meja, lalu beralih ke Keno.
"Gua bilang keluar, kenapa nggak keluar?" tanya Genta langsung pada Jiaya. Suaranya rendah tapi bergetar karena emosi yang ia tahan. Ia sama sekali tidak memedulikan keberadaan Keno.
"Ta, aku lagi ada tamu..." jawab Jiaya lirih, mencoba memberi kode agar Genta menurunkan suaranya.
Genta mendengus sinis. Ia menoleh ke arah Keno dengan tatapan meremehkan. "Oh, jadi ini alasan lu nggak angkat telpon gua? Sibuk makan kue sama 'sahabat' masa kecil lu ini?"
"Eh, Genta ya?" Keno berdiri, mencoba tetap bersikap tenang dan dewasa. "Kita cuma lagi ngobrol santai kok, nggak usah emosi gitu."
Genta melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Keno. "Gua nggak minta suara lu."
"Genta, kamu apa-apaan sih?!" seru Jiaya, kali ini benar-benar marah karena sikap Genta yang sangat tidak sopan.
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Jiaya segera bertindak sebelum Genta benar-benar membuat keributan di depan mamanya. Tanpa mempedulikan tatapan bingung Keno atau wajah kaget Mama Jeny, Jiaya menyambar lengan jaket kulit Genta dan menariknya dengan paksa menuju pintu keluar.
"Ma, Keno, sebentar ya! Aku mau bicara sama Genta" seru Jiaya tanpa menoleh lagi.
Genta sempat memberontak kecil, namun akhirnya ia mengikuti tarikan tangan Jiaya. Jiaya terus menariknya hingga mereka sampai di bawah lampu jalan, sekitar sepuluh meter dari pagar rumahnya, tempat di mana suara mereka tidak akan terdengar sampai ke dalam.
Jiaya melepaskan cengkeramannya dan berbalik menghadap Genta dengan napas memburu. Matanya berkilat marah.
"Kamu apa-apaan sih, Ta?! Kamu nggak punya sopan santun ya dateng-dateng langsung bentak tamu di depan Mama?" suara Jiaya meninggi, meskipun ia berusaha menahannya agar tidak berteriak.
Genta justru mendengus sinis, ia menyugar rambutnya dengan kasar. "Sopan santun? Lu tanya gua soal sopan santun sementara lu biarin cowok itu masuk ke rumah lu malem-malem begini?"
"Dia cuma mau nganter oleh-oleh karena baru mampir. Dia baik, nggak kayak kamu yang dateng-dateng langsung bikin ribut!"
"Oh, jadi sekarang lu banding-bandingin gua sama dia?" Genta melangkah maju, memperkecil jarak hingga Jiaya harus mendongak untuk menatap matanya. "Lu lebih suka cowok yang bawa lapis Surabaya itu? Hah?"
"Bukan gitu maksud aku," Jiaya memukul pelan dada Genta. "Kamu itu kenapa sih? Tadi sore kamu marah-marah nggak jelas, sekarang Kamu dateng kayak gini. Padahal tadi di sekolah... tadi di warkop aku denger kamu pergi sama cewek lain! Aku yang harusnya marah, Ta, bukan kamu!"
Kalimat itu membuat Genta terdiam sejenak. Rahangnya yang semula mengeras perlahan melunak, meski tatapannya masih tajam. Ia teringat kejadian di warkop dan fitnah Gracia.
"Denger dari siapa?" tanya Genta, suaranya kini lebih rendah namun tetap datar.
"Nggak penting aku denger dari siapa. Intinya kamu pergi kan? Dan sekarang kamu malah ke sini cuma buat marahin aku?" Jiaya memalingkan wajah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena rasa lelah menghadapi sikap Genta yang ekstrem.
"Gua nggak pergi sama siapa-siapa," gumam Genta akhirnya. Ia membuang muka ke arah motornya yang terparkir. "Itu cuma omongan kosong si Gracia karena dia pengen iseng. Lu... jangan bego-bego bangetlah! mau aja dibohongin sama mulut sampah kayak gitu."
Jiaya kembali menatap Genta, mencoba mencari kejujuran di mata cowok itu. "Beneran?"
"Ngapain bohong?" sahut Genta ketus.
Jiaya menatap Genta lama, mencoba mencari celah di balik wajah sedingin es itu. "Kenapa kamu nggak suka dia ada di rumah aku? Kan cuma tamu, Ta. Lagian Keno itu orangnya baik, dia—"
"Berhenti sebut nama dia," potong Genta cepat. Ia mengalihkan pandangan ke aspal, tangannya masuk ke saku jaket kulitnya. "Kalau gua bilang, gua nggak suka, ya nggak suka. Nggak usah banyak tanya kenapa!"
Jiaya menghela napas panjang, "Ya tapi kan nggak bisa gitu, Ta! Kamu dateng-dateng marah, terus nyuruh orang pulang tanpa alasan jelas. Aku tuh bingung tau nggak sama kamu. Kadang kamu cuek banget pas papasan, terus tiba-tiba telepon bentak-bentak, sekarang kamu di sini posesif begini tapi nggak mau bilang alasannya apa. Kamu tuh sebenernya anggap aku apa sih? Kalau emang kamu cuma mau ngatur-ngatur doang tanpa mau jelasin perasaan kamu, aku juga capek, Ta. Aku pengen kita kayak pasangan normal yang—"
Kalimat Jiaya terhenti seketika saat Genta tiba-tiba melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Jiaya terdesak ke batang pohon di pinggir jalan. Wangi parfum maskulin Genta yang bercampur aroma angin malam langsung menyerbu indra penciuman Jiaya.
Genta tidak memutus kontak mata. Ia menatap Jiaya dalam keheningan yang cukup lama, membuat Jiaya yang tadinya cerewet mendadak kelu.
"Bawel," gumam Genta rendah.
Tangan Genta yang tadinya di dalam saku perlahan keluar. Jiaya mengira Genta akan marah lagi, tapi ternyata cowok itu hanya merapikan anak rambut Jiaya yang berantakan karena angin malam, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Gerakannya sangat pelan, sangat kontras dengan suaranya yang tadi menggelegar di dalam rumah.
Ibu jari Genta sempat mengusap pipi Jiaya sekilas—sebuah sentuhan yang sangat tipis, tapi sukses membuat perut Jiaya terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang beterbangan.
"Jangan nangis cuma karena omongan orang di warkop," ucap Genta, suaranya kini melunak meski tetap terdengar kaku.
Jiaya mengerjapkan mata, lidahnya mendadak kelu. "Ta..."
Genta segera menarik kembali tangannya, seolah baru tersadar dari apa yang baru saja ia lakukan. Gengsinya kembali naik ke permukaan. Ia berdehem canggung dan membuang muka.
"Udah, masuk sana. Usir dia sekarang, bilang aja lu mau tidur atau apa terserah," perintah Genta kembali ke mode ketusnya, tapi kali ini ada sedikit rona merah samar di telinganya. "Gua tunggu di sini sampe mobil dia keluar dari komplek."
Jiaya menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan senyum yang hampir meledak. Ternyata, di balik tembok es yang menjulang tinggi itu, Genta punya cara sendiri untuk bilang kalau dia takut kehilangan.
𓄲
•••
TERIMA KASIH!